Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Model Kelembagaan dalam Pengelolaan Desa Wisata Berbasis Agro-ekowisata dan Budaya di Indonesia Lulik Lulik Fullela Rakhman; Gina Puspitasari Rochman
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8724

Abstract

Abstract. The development of tourism villages is an effort to improve the local economy through its contribution to village revenue. In this case, the role and performance of village institutions determine the success of such development. Institutions play a role in managing resources to achieve development goals. This study aims to identify institutional models of agro-ecotourism and culture-based tourism village management in Indonesia. Unlike previous studies, this study uses a systematic literature review (SLC) approach to the results of related research in Indonesia over the past 10 years (2012-2022). This study found that there are 4 (four) institutional models of agro-ecotourism and culture-based tourism village management in Indonesia, namely: 1) centralized; 2) quadrapel helix; 3) pentahelix; and 4) triplehelix. The four models have similarities that are based on collaboration and partnerships between various actors in the management of tourist villages. The difference lies in the driving institution and the relationship between actors in the management of tourist villages. The success of tourist villages in Indonesia is considered quite successful, namely using the penta helix model. Abstrak. Pengembangan desa wisata merupakan upaya untuk meningkatkan perekonomian lokal melalui kontribusinya terhadap pendapatan asli desa. Dalam hal ini, peran dan kinerja kelembagaan desa sangat menentukan keberhasilan pembangunan tersebut. Lembaga berperan mengelola sumber daya untuk mencapai tujuan pembangunan. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi model kelembagaan pengelolaan desa wisata berbasis agro-ekowisata dan budaya di Indonesia. Berbeda dengan studi sebelumnya, studi ini menggunakan pendekatan systematic literature review (SLC) terhadap hasil – hasil penelitian terkait di Indonesia selama 10 tahun terakhir (2012 – 2022). Studi ini menemukan bahwa terdapat 4 (empat) model kelembagaan pengelolaan desa wisata berbasis agro-ekowisata dan budaya di Indonesia, yaitu: 1) terpusat; 2) quadrapel helix; 3) pentahelix; dan 4) triplehelix. Dari keempat model tersebut, memiliki kesamaan yang berlandaskan pada kolaborasi dan kemitraan antara berbagai aktor dalam pengelolaan desa wisata. Adapun perbedaan terletak pada lembaga penggerak dan hubungan antar aktor dalam pengelolaan desa wisata. Keberhasilan desa wisata di Indonesia yang di anggap cukup berhasil yaitu menggunakan model penta helix.
Analisis Ruang Interaksi Sosial: Studi dari Keraton-Keraton di Kota Cirebon Aziz Ramdani; Gina Puspitasari Rochman
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 4 (2021): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Post Pandemi Covid-19 Menuju Indonesia Tangguh
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang memicu terjadinya interaksi sosial antara dua atau lebih individu dan/atau kelompok di dalamsuatu komunitas sosial. Interaksi dibangun untuk merancang aturan, institusi, dan sistem, sertasebagai simbol untuk mengkomunikasikan harapan. Pada studi sebelumnya, makna ruang keratontelah dieksplorasi secara mendalam sebagai interaksi antara alam, manusia dan Tuhan. Berbedadengan studi sebelumnya, studi ini bertujuan untuk menganalisis ruang interaksi sosial pada keraton– keraton di Kota Cirebon. Ruang yang dimaksud berupa ruang tangible yang menjadi media bagi parapemangku kepentingan saling berinteraksi. Studi ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatifuntuk mengananalisis karakteristik ruang interaksi dan memahami dinamika interaksi sosial antarpemangku kepentingan. Untuk itu, metode analisis kualitatif deskriptif dan teknik in-depth interviewditerapkan terhadap informan kunci yang terdiri atas keluarga keraton, tokoh masyarakat, danpemerintah daerah Kota Cirebon. Keraton – keraton di Kota Cirebon merupakan simbol warisansejarah dan budaya yang sistemnya masih berlangsung hingga saat ini, meskipun terdapat pergeserandan perubahan seiring waktu. Studi ini menyimpulkan bahwa keraton memiliki ruang interaksi khususyang berbeda antara masyarakat dan tamu keraton. Interaksi antara keluarga keraton denganmasyarakat dan pemerintah daerah terbatas pada kegiatan atau acara kebudayaan. Kegiatankebudayaan secara rutin diselenggarakan oleh pihak keraton setiap tahunnya dan masyarakat antusiasdan berpartisipasi aktif dalam kegiatan  tersebut. Selain itu, interaksi sosial melalui komunikasi dankoordinasi antara keluarga keraton dan pihak eksternal diwakili oleh patih. Dengan demikian, keraton– keraton di Kota Cirebon tetap mempertahankan sifat eksklusif dan membatasi ruang interaksi yangsifatnya tangible dengan pihak eksternal. Namun, kegiatan kebudayaan menjadi ruang interaksi sosialyang sifatnya intangible dan merekatkan relasi antar berbagai pihak. Kata Kunci : Interaksi sosial, Analisis Ruang, Keraton, Budaya
Studi Jejak Karbon pada Aktivitas Pariwisata dalam Upaya Pengurangan Dampak Perubahan Iklim Safira Nadia Salsabilla; Gina Puspitasari Rochman
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 4, No. 1, Juli 2024, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v4i1.3606

Abstract

Abstract. Tourism contributes to climate change, mainly through its emissions. Lembang sub-district has 36.58% of tourist attractions in West Bandung Regency, causing congestion, waste production, and air quality degradation that increase carbon emissions. Tourist activities, such as electricity use, transportation, waste, and food consumption, exacerbate these conditions. The research used mixed method with primary and secondary data, as well as multiple linear regression analysis and comparison of RTRW documents with existing conditions. Linear regression results show tourist transportation as the largest contributor to CO2 emissions with a coefficient of 0.832. Comparative analysis shows the RTRW does not explicitly address climate change and there are differences in the extent and location of land use in Lembang Sub-district. To reduce the impact of climate change, especially from tourist transportation, efforts can be made such as reducing traffic volume, switching to electric vehicles, using public transportation, improving public transportation services, establishing subsidized transportation tariff policies, and providing special tourist transport. Abstrak. Pariwisata berkontribusi terhadap perubahan iklim, terutama melalui emisi yang dihasilkan. Kecamatan Lembang memiliki 36,58% objek wisata di Kabupaten Bandung Barat, menyebabkan kemacetan, produksi sampah, dan penurunan kualitas udara yang meningkatkan emisi karbon. Aktivitas wisatawan, seperti penggunaan listrik, transportasi, sampah, dan konsumsi makanan, memperburuk kondisi ini. Penelitian menggunakan metode mixed method dengan data primer dan sekunder, serta analisis regresi linier berganda dan perbandingan dokumen RTRW dengan kondisi eksisting. Hasil regresi linier menunjukkan transportasi wisatawan sebagai penyumbang terbesar emisi CO2 dengan koefisien 0,832. Analisis perbandingan menunjukkan RTRW tidak secara eksplisit membahas perubahan iklim dan terdapat perbedaan luas serta lokasi penggunaan lahan di Kecamatan Lembang. Untuk mengurangi dampak perubahan iklim, khususnya dari transportasi wisatawan, dapat dilakukan upaya seperti mengurangi volume lalu lintas, beralih ke kendaraan listrik, menggunakan transportasi umum, meningkatkan layanan transportasi umum, menetapkan kebijakan tarif transportasi bersubsidi, dan menyediakan angkutan khusus wisata.