Ismail Ismail
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Suksesi Kepemimpinan dalam Pemikiran Ibnu Khaldun : Relevansinya dengan Kepemimpinan Era Reformasi di Indonesia Christy Pransisca; Hery Noer Aly; Ismail Ismail
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 1 (2025): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i1.7281

Abstract

Abstract: This research discusses the concept of leadership succession according to Ibnu Khaldun which focuses on the process of cyclical change of power and is influenced by social solidarity (asabiyah), military strength, leader legitimacy, economic factors, and external influences. Ibn Khaldun emphasized that strong leadership originates from groups with high solidarity, but the weakening of the asabiyah will cause the downfall of the dynasty and trigger succession. This research also examines the relevance of Ibnu Khaldun's theory in the leadership context of the reform era in Indonesia, where political dynamics are influenced by internal and external factors, including political parties, the economy and social inequality. The research was carried out through a descriptive qualitative approach with library research methods, using primary and secondary sources which included the works of Ibnu Khaldun and related literature. Data analysis was carried out using the content analysis method, which aims to understand Ibn Khaldun's views in the context of political and religious sociology. The research results show that Ibn Khaldun's theory of leadership succession provides a relevant perspective in understanding political stability, changes in power, and the challenges faced in maintaining government in the modern era.Keywords: Leadership Succession, Social Inequality, Reformation Era, Leadership Dynamics Abstrak: Penelitian ini membahas konsep suksesi kepemimpinan menurut Ibnu Khaldun yang berfokus pada proses pergantian kekuasaan secara siklis dan dipengaruhi oleh solidaritas sosial (asabiyah), kekuatan militer, legitimasi pemimpin, faktor ekonomi, serta pengaruh eksternal. Ibnu Khaldun menekankan bahwa kepemimpinan yang kuat berawal dari kelompok dengan solidaritas tinggi, namun melemahnya asabiyah akan menyebabkan kejatuhan dinasti dan memicu suksesi. Penelitian ini juga mengkaji relevansi teori Ibnu Khaldun dalam konteks kepemimpinan era reformasi di Indonesia, di mana dinamika politik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, termasuk partai politik, ekonomi, dan ketimpangan sosial. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode riset pustaka (library research), menggunakan sumber primer dan sekunder yang mencakup karya-karya Ibnu Khaldun serta literatur terkait. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi, yang bertujuan untuk memahami pandangan Ibnu Khaldun dalam konteks sosiologi politik dan agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori suksesi kepemimpinan Ibnu Khaldun memberikan perspektif yang relevan dalam memahami stabilitas politik, perubahan kekuasaan, dan tantangan yang dihadapi dalam menjaga pemerintahan di era modern.Kata kunci: Suksesi Kepemimpinan, Ketimpangan Sosial, Era Reformasi, Dinamika Kepemimpinan 
Makna Filosofis Gelar Haji dalam Perspektif Sosial Budaya di Indonesia Selfia Agustina; Rahmat Ramdhani; Ismail Ismail
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 9, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v9i2.9078

Abstract

Abstract: : This study aims to examine the philosophical meaning of the title Haji from the socio-cultural perspective of Indonesian society. The title Haji not only represents success in fulfilling the fifth pillar of Islam, but also contains symbolic values influenced by local social and cultural constructions. This study uses a qualitative approach with a library study method, which focuses on various analyses of literature, scientific journals, Islamic books, and relevant anthropological and sociological works. The results of the study indicate that the title Haji has a philosophical meaning as a symbol of spiritual transformation, an existential journey towards piety, and a manifestation of total submission to God. In the Indonesian sociocultural context, this title is also understood as a marker of high social status, honor, and religious identity. Society places greater value on the holder of the title Haji, and forms moral and social expectations for their behavior. In addition, the meaning of this title is enriched through local traditions such as thanksgiving, the conferment of the title, and other symbolic honors. The research findings from this study are that the title Haji in Indonesia is not simply a sign of successful worship, but is a multidimensional symbol that reflects the combination of Islamic spiritual values and local cultural traditions. This shows that religious practices cannot be separated from the socio-cultural context that surrounds them.Keywords: The Hajj Title, Philosophical and Socio-Cultural Meaning.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna filosofis gelar Haji dalam perspektif sosial budaya mmasyarakat Indonesia. Gelar Haji tidak hanya merepresentasikan keberhasilan dalam menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga mengandung nilai-nilai simbolik yang dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, yang berfokus pada analisis berbagai literatur, jurnal ilmiah, buku-buku keislaman, serta karyakarya antropologi dan sosiologi yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa gelar Haji memiliki makna filosofis sebagai simbol transformasi spiritual, perjalanan eksistensial menuju kesalehan, serta wujud kepasrahan total kepada Tuhan. Dalam konteks sosial budaya Indonesia, gelar ini juga dipahami sebagai penanda status sosial, kehormatan, dan identitas keagamaan yang tinggi. Mmasyarakat memberi nilai lebih kepada pemilik gelar Haji, serta membentuk ekspektasi moral dan sosial terhadap perilaku mereka. Selain itu, makna gelar ini diperkaya melalui tradisi-tradisi lokal seperti selamatan, penyematan gelar, dan penghormatan simbolik lainnya. Hasil penelitian dari studi ini adalah bahwa gelar Haji di Indonesia bukan sekadar tanda keberhasilan ibadah, tetapi merupakan simbol multidimensional yang mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai spiritual Islam dan tradisi budaya lokal. Hal ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya yang melingkupinya.Kata Kunci: Gelar Haji, Makna Filosofis, Sosial Budaya