Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP MINUMAN KOPI DENGAN METODE KANSEI ENGINEERING DAN CONJOINT ANALYSIS: STUDI KASUS KOPI NU SAE BOGOR Jhonson Sitanggang; Mei Iswandi; Anessa Musfitria; Rizal Bakti
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 6 No. 4 (2023): Volume 6 No 4 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v6i4.20143

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menilai preferensi konsumen kedai kopi Nu Sae Bogor. Eksplorasi atribut-atribut kopi menggunakan metode Kansei engineering. Metode ini mengubah emosi atau perasaan konsumen menjadi spesifikasi desain produk baru kedai kopi Nu Sae Bogor yang digemari konsumen. Kuesioner skala sematic differensial digunakan dalam metode kansei engineering. Kansei engineering digunakan dalam pengembangan produk untuk memperoleh kepuasan pelanggan juga preferensi konsumen dengan menganalisis perasaan dan emosi konsumen dan menghubungkannya menjadi desain sebuah produk baru. Selanjutnya menggunakan metode conjoint analysis untuk menentukan hubungan antara kata-kata Kansei dan atribut serta tingkat atribut. Hasil survei memberikan tujuh kata kansei yang menjadi kriteria penting bagi konsumen kedai kopi Nu Sae Bogor untuk memilih jenis minuman kopi, yaitu “Harga’, “Aroma”, “Rasa”, “Bervariasi”, “Kemasan”, “Tekstur’, dan “Rasa”. Sedangkan berdasarkan hasil conjoint analysis diperoleh tingkat kepentingan tiap atribut secara berturut-turut adalah Variasi sebesar 39,896 persen, Kemasan sebesar 17, 837 persen, Harga sebesar 17,078 persen, Rasa sebesar 14,946 persen, dan Aroma sebesar 10,243 persen. Rekomendasi spesifikasi produk minuman kopi baru dengan nilai utilitas tertinggi yaitu variasi latte, kemasan botol, harga mahal, rasa asam dan aroma soft.
Efektivitas Dan Efisiensi Akuntansi Forensik Dan Audit Investigatif Dalam Pembuktian Kecurangan Di Indonesia: Sebuah Evaluasi Komprehensif Berbasis Teori Dan Data Empiris. Anessa Musfitria; Israfil Munawarah; Cherryl Zeiva Ananda; Elsa Lusiana Putri
Balance : Jurnal Akuntansi dan Manajemen Vol. 4 No. 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jam.v4i3.1191

Abstract

ingginya frekuensi kejahatan keuangan di Indonesia mencerminkan kelemahan sistemik dalam deteksi dini kecurangan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi paradoks antara efektivitas pembuktian hukum dan efisiensi operasional Akuntansi Forensik (AF) serta Audit Investigatif (AI). Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengintegrasikan Teori Fraud Triangle dengan Teori Efektivitas Organisasi untuk menganalisis data dari wawancara praktisi senior dan studi dokumen kasus. Hasil penelitian mengungkap sebuah dikotomi tajam: secara kualitatif, AF dan AI terbukti sangat efektif dengan keberhasilan mengungkap 95% kasus melalui pembuktian unsur kesempatan (opportunity) dan tekanan (pressure). Namun, keberhasilan ini dibayar dengan inefisiensi yang signifikan, ditandai oleh durasi investigasi rata-rata 7,2 bulan dan biaya eksternal mencapai 65% dari total anggaran, yang berujung pada rendahnya tingkat pemulihan aset (42%). Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun metode forensik saat ini ampuh secara hukum, namun tidak berkelanjutan secara ekonomis bagi organisasi. Penelitian merekomendasikan pergeseran paradigma dari investigasi reaktif menuju deteksi proaktif berbasis analitik data dan pembentukan protokol kolaborasi antar-lembaga yang lebih ramping.   The high frequency of financial crimes in Indonesia reflects systemic weaknesses in early detection of fraud. This study aims to evaluate the paradox between the effectiveness of legal evidence and the operational efficiency of Forensic Accounting (FA) and Investigative Auditing (IA). Using a descriptive qualitative approach, this study integrates the Fraud Triangle Theory with Organizational Effectiveness Theory to analyze data from interviews with senior practitioners and case document studies. The results reveal a sharp dichotomy: qualitatively, FA and IA are proven to be highly effective, with a 95% success rate in uncovering cases through proving the elements of opportunity and pressure. However, this success comes at the cost of significant inefficiency, marked by an average investigation duration of 7.2 months and external costs reaching 65% of the total budget, resulting in a low asset recovery rate (42%). These findings indicate that although current forensic methods are legally effective, they are not economically sustainable for organizations. The study recommends a paradigm shift from reactive investigation to proactive detection based on data analytics and the establishment of leaner inter-agency collaboration protocols.