Basiran Basiran
Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

TANTANGAN DAN PELUANG DEVISI PARIWISATA DALAM PERSPEKTIF AGAMA ISLAM Basiran Basiran; Muthia Khairani; Indah Nurkomalasari; Ikha Farikha; Astrid Vadillah
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 6 No. 4 (2023): Volume 6 No 4 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v6i4.20288

Abstract

Tulisan ini mengangkat topik “tantangan dan peluang devisi pariwisata dalam perspektif Pendidikan agama islam (Goa Sunyaragi-Cirebon)”. Sebagaimana diketahui, Goa Sunyaragi merupakan suatu wilayah yang sebenarnya bisa berpotensi dalam pengembangan dunia kepariwisataan. Goa Sunyaragi yang berada di wilayah Cirebon termasuk dalam provinsi jawa barat, hampir seluruhnya penduduk di kota Cirebon banyak yang memeluk agama islam. Pada saat ini, kegiatan wisata adalah keniscayaan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja tantangan dan peluang yang dihadapi oleh salah satu tempat pariwisata di Cirebon yaitu khususnya Goa Sunyaragi, untuk mengetahui bagaimana pihak yang terkait menghadapinya dalam pelaksanaannya menjalankan pariwisata, agar tempat pariwisata Goa Sunyaragi bisa terus berkembang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian campuran (mixed method) yang dimana pendekatan penelitian ini peneliti mengumpulkan dan menganalisis data kualitatif dan libarary reseaech dalam penelitian yang sama, penelitian metode campuran memungkinkan para peneliti mengeksplorasi beragam perspektif. Sumber data saat melakukan metode kualitatif berasal dari tour guide yang sudah lama bekerja ditempat tersebut. Hasil penelitian ini diketahui bahwa dimana tempat wisata Goa Sunyaragi ini memiliki 3 potensi wisata sekaligus, yakni wisata sejarah, wisata budaya dan wisata religi.
EFEKTIFITAS METODE/THARIQAH TASALSULI BAGI PARA SANTRI PENGHAFAL AL QUR’AN (STUDI KASUS SANTRI PENGHAFAL PONDOK PESANTREN MIFTAHUL HUDA) Basiran Basiran; Siti Aisah; Taufikurrohman Taufikurrohman
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 6 No. 4 (2023): Volume 6 No 4 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v6i4.20289

Abstract

Tulisan ini membahas tentang gambaran keefektifan metode Thariqah Tasalsuli bagi para santri yang menghafalkan Al Qur’an. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Desa Jambon Kecamatan Pulokulon Kab. Grobogan. Peneliti mengidentifikasi masalah penelitian terkait metode menghafal Thariqah Tasalsuli dan pengaruhnya terhadap hafalan santri. Al-Qur'an adalah firman Tuhan yang diwahyukan ke Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Amin ( malaikat Jibril ), dan dikutip ke kita oleh jalan tawatur, siapa yang membacanya dinilai sebagai Ibad ah , dimulai oleh Surat Al- Fatihah Dan dihentikan surat An-Naas. Pada era modern ini sudah dekat dengan Al-Qur'an adalah sesuatu suatu hal yang langka Dan jarang khususnya bagi masyarakat modern menghafal Al-Qur'an. Menghafal Al-Qur'an adalah sungguh-sungguh sebuah anugerah yang luar biasa normal untuk Muslim . Sampai menghafal Al Quran menjadi mimpi Dan kerinduan untuk setiap orang tua yang memiliki anak. Metode adalah menjadi hal yang sangat penting dalam menghafal Al Qur’an. Peranan metode menghafal sangatlah besar untuk bisa mendukung keberhasilan hafalan santri. Penggunaan metode yang tepat, akan sangat membantu seorang penghafal Al-Qur’an untuk dapat menghafal dengan baik dan cepat. Metode menghafal Al Quran sangatlah banyak jenisnya. Dan masing-masing tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Setidaknya ada tiga jenis metode dalam menghafal Al Qur’an, yaitu: (1). Thariqah Tasalsuli; (2). Thariqah Jam'i; (3). Thariqah Muqassam. Dari ketiga metode ini, yang sudah diberlakukan untuk santri tahfidz di Pondok Pesantren Miftahul Huda Jambon adalah Metode Tasalsuli. Gambaran singkatnya, bahwa metode ini menitikberatkan kepada ke-mutqin-an santri kepada hafalannya. Di mana santri tidak diperbolehkan untuk menambah menghafal ayat selanjutnya, sebelum benar-benar mutqin /kuat hafalannya di ayat yang dihafalkan. Dan setelah benar-benar mutqin baru boleh menghafal ayat selanjutnya, dan setelah kuat di ayat kedua ini, tidak boleh berpindah ke ayat ke tiga sebelum santri mutqin pada kedua ayat sebelumnya. Dan begitu seterusnya.
PERAN PELAJARAN KHAT DALAM MEMBENTUK KARAKTER ISLAMI (STUDI KASUS DI PONDOK PESANTREN TAHFIDZ QUR’AN HARUN ASY-SYAFI’I YOGYAKARTA) Agus Sadana; Basiran Basiran
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 6 No. 4 (2023): Volume 6 No 4 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v6i4.20285

Abstract

Pelajaran Khat adalah pendidikan yang seharusnya di terapkan di manapun berada karena kemulian dan tanggung jawab adalah sebagin dari pendidikan yang sangat di perlukan, karena pelajaran khat ini merupakan bagian dari pendidikan karakter, maka otomatis akan menjadikan seorang yang kuat dan stabil, islami berkarakter serta berbudaya karena bangsa Indonesia perlu dibangun dengan integritas yang tinggi untuk membangun Indonesia yang kuat berkarakter dan bertaqwa kepada Allah SWT. Terkhusus pada karakter peserta didik yang sekarang cenderung turun pada Era globalisasi digital sehingga banyak terjadi penurunan moral.
SEJARAH DAN PELESTARIAN KULINER TRADISIONAL TAHU GEJROT, NASI JAMBLANG, EMPAL GENTONG KHAS CIREBON Basiran Basiran; Nia Zihan Maulidia; Nur Pika Indah Aprian; Aniq Muhrimah; Nesi Krisdayanti; Sri puji Lestari
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 6 No. 4 (2023): Volume 6 No 4 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v6i4.21067

Abstract

Kuliner tradisional mempunyai peranan penting dalam menjaga sejarah budaya suatu daerah. Salah satu daerah yang mempunyai ciri khas dalam kulinernya adalah Cirebon, tiga masakan khas: Tahu Gejrot, Nasi Jamblang, dan Empal Gentong. Ia mengkaji masakan daerah Cirebon, Indonesia. Untuk memahami akar budaya mendalam hidangan ini, kami menyelidiki sejarah, asal usul, bahan, dan teknik pemrosesannya. Studi ini juga mengkaji evolusi resep dan metode memasak yang digunakan untuk menyiapkan makanan lezat ini. Jurnal ini juga membahas inisiatif konservasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah, sektor komersial, dan masyarakat lokal untuk mempromosikan dan melestarikan makanan tradisional ini. Dampak sosial dan ekonomi dari masakan tradisional Cirebon juga dikaji, termasuk bagaimana masakan tersebut membantu melestarikan identitas budaya masyarakat Cirebon dan mempromosikan di bidang industri wisata. Penelitian ini menunjukkan pentingnya masakan tradisional Cirebon dalam menjaga identitas budaya dan perekonomian lokal. Agar warisan kuliner Cirebon dapat dilestarikan untuk generasi mendatang, banyak hal yang harus dilakukan untuk mempromosikan hidangan ini secara lebih luas, baik di dalam negeri maupun global.
MENGGALI NILAI-NILAI ISLAM DALAM MOTIF BATIK CIREBON: PENDEKATAN SENI DALAM PENDIDIKAN AGAMA Basiran Basiran; Wanda Sri Juliandini; Desi Hilwatun Nisa; Syarifah Luthfiyah; Atiah Syahla; Dinah Mardatillah
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 6 No. 4 (2023): Volume 6 No 4 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v6i4.21624

Abstract

Cirebon mempunyai dua kategori batik yaitu batik pesisiran dan batik keratonan. Bagaimanakah nilai nilai Islam dalam motif batik Cirebon. Menggunakan metode pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh di lapangan dijelaskan dengan tujuan mendeskripsikan hal hal yang ingin di teliti. Di dalam motif Teratai terdapat beberapa unsur yaitu wadasan diatas wadasan ada pandan, susunan Wadas membentuk gajah sedang duduk, telinga gajah daun teratai, ada burung, ada kepala naga. Burung dari bahasa sansekerta adalah Paksi. Gajah bahasa Cirebon kunonya yaitu lima. Dari ketiga unsur ini tergabung Paksi naga lima. Burung merupakan simbol dunia atas. Lima (gajah) merupakan simbol dunia tengah Naga merupakan simbol dunia bawah. Maksudnya untuk menyapai dunia atas (dunia ilahiah), maka diperlukan dunia tengah (dunia perantara) berupa tawasul. Gajah yang menjadi simbol dunia tengah karena gajah mempunyai potensi yang luar biasa. Dan untuk bisa mencapai dunia ilahiah dan dunia tengah kita harus bisa mengalahkan dunia bawah yaitu berupa nafsu dan setan. Bunga teratai dijadikan simbol karena teratai dalam tradisi Hindu Budha menjadi tempat bersemayamnya dewa. Kehadiran Tuhan di masa lalu pra-Islam itu diposisikan dengan bunga teratai. Teratai memiliki banyak kelopak. Makna nya jika kita mempelajari toriqoh, teratai digambarkan sebagai simbol hati. Hati manusia itu berlapis-lapis dan lapisan hati yang paling dalam itu namanya sirun. Disirun inilah kita bertemu Allah, kita dzikir, ma''arifatul Billah (menyentuh Allah) itu di lapisan yang paling dalam (sirun). Jadi kehadiran teratai dalam Islam Cirebon tidak lagi dihubungkan dengan dewa, tidak lagi dihubungkan dengan Budha, tetapi dihubungkan dengan kehadiran Allah dalam hati kita yaitu sirun.Nilai Islam dalam motif batik Taman Teratai yaitu, bunga teratai yang dijadikan simbol sebagai hati. Di dalam hati manusia yang paling dalam (sirun) terdapat Allah SWT. Dengan beribadah, dzikir, dan ma''arifatul Billah kita akan merasakan kehadiran Allah di dalam hati kita.