Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MAJAS PERBANDINGAN DALAM ANTOLOGI PUISI KULINER “GABIN BARANDAM”: COMPARATIVE FIGURES IN THE CULINARY POETRY ANTHOLOGY “GABIN BARANDAM” qusnul aqidahtul anggi; Ahsani Taqwiem; Faradina
LOCANA Vol. 9 No. 1 (2026): JURNAL LOCANA
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis serta mendeskripsikan makna majas perbandingan yang terdapat dalam antologi puisi kuliner Gabin Barandam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif yang dikaji melalui perspektif stilistika untuk mengungkap gaya bahasa penyair. Data penelitian berupa larik-larik puisi dikumpulkan melalui teknik studi dokumentasi dan pembacaan intensif terhadap teks. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan tiga jenis majas perbandingan, yaitu personifikasi, metafora, dan simile. Personifikasi menjadi majas paling dominan dengan 64 kemunculan, diikuti simile sebanyak 16 kali, dan metafora 12 kali. Analisis makna mengungkapkan bahwa elemen kuliner digunakan secara simbolis untuk merefleksikan realitas sosial, ekonomi, spiritual, dan kearifan lokal. Majas-majas tersebut berfungsi menghidupkan suasana imajinatif sekaligus memperkuat pesan mengenai kenangan, kebersamaan, kritik sosial, serta pelestarian identitas budaya melalui citra rasa dan aroma. Abstract This study aims to identify the types and describe the meaning of comparative figures of speech contained in Gabin Barandam's culinary poetry anthology. This study uses a qualitative method with a descriptive analysis approach examined through a stylistic perspective to reveal the poet's language style. Research data in the form of lines of poetry were collected through documentation study techniques and intensive reading of the text. The results show the discovery of three types of comparative figures of speech, namely personification, metaphor, and simile. Personification is the most dominant figure of speech with 64 occurrences, followed by simile with 16 times, and metaphor with 12 times. The analysis of meaning reveals that culinary elements are used symbolically to reflect social, economic, spiritual, and local wisdom realities. These figures of speech function to enliven the imaginative atmosphere while strengthening messages about memories, togetherness, social criticism, and preservation of cultural identity through the image of taste and aroma.
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU CERITA RAKYAT KALIMANTAN SELATAN KARYA H. YUSTAN AZIDDIN: THE VALUES OF CHARACTER EDUCATION IN THE FOLKLORE BOOK OF SOUTH KALIMANTAN BY H. YUSTAN AZIDDIN Musdalifah; Rusma Noortyani; Faradina
LOCANA Vol. 9 No. 1 (2026): JURNAL LOCANA
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jlc.v9i1.441

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai pendidikan karakter yang termuat dalam buku Cerita Rakyat Kalimantan Selatan karya H. Yustan Aziddin. Pendidikan karakter dipandang penting sebagai upaya menanamkan nilai-nilai luhur yang mencakup aspek pengetahuan, kesadaran, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan sumber data berupa teks dalam buku tersebut. Data yang dikumpulkan meliputi kata, frasa, klausa, kalimat, maupun paragraf yang memuat nilai pendidikan karakter, melalui teknik studi dokumen dan dianalisis dengan metode deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pendidikan karakter dalam buku ini mencerminkan berbagai karakter positif, di antaranya religius, jujur, toleransi, disiplin, kreatif, tanggung jawab, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, suka membaca, peduli sosial, dan kerja keras.   Abstract This study aims to describe the values of character education contained in the book Folklore of South Kalimantan by H. Yustan Aziddin. Character education is considered essential as an effort to instill noble values that encompass aspects of knowledge, awareness, and actions in everyday life. This research employs a descriptive-qualitative approach with data sources taken from the text of the book. The collected data include words, phrases, clauses, sentences, and paragraphs that reflect character education values, obtained through document study techniques and analyzed using descriptive analysis methods. The results show that the character education values in this book represent various positive traits, including religiosity, honesty, tolerance, discipline, creativity, responsibility, independence, democracy, curiosity, nationalism, patriotism, appreciation of achievement, friendliness or communicativeness, love of peace, reading interest, social care, and hard work.