Fenomena keluarga broken home merupakan realitas sosial yang berkaitan erat dengan dinamika perilaku belajar siswa di madrasah, khususnya pada jenjang pendidikan dasar yang berada pada fase perkembangan emosional yang rentan. Ketidakharmonisan keluarga berdampak pada ketidakstabilan emosi, penurunan motivasi, serta melemahnya keterlibatan akademik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis dinamika perilaku belajar siswa dari keluarga broken home, faktor-faktor psikologis dan sosial yang melatarbelakanginya, serta mengkaji strategi madrasah dalam merespons kondisi tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilaksanakan di MI NW Penakak, melibatkan 5 siswa kelas IV dan V dari keluarga broken home, orang tua siswa, guru kelas, serta kepala madrasah. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan penurunan motivasi belajar, kesulitan konsentrasi, perilaku menunda tugas, dan ketidakstabilan emosi di kelas. Faktor penyebab meliputi kurangnya dukungan sosial, pola asuh yang tidak konsisten, minimnya perhatian orang tua, serta lingkungan belajar rumah yang kurang kondusif. Madrasah merespons melalui penciptaan lingkungan melalui kegiatan ekstrakurikuler untuk memperkuat regulasi belajar siswa. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan dasar perlu mengintegrasikan dukungan sosial-emosional dalam tata kelola madrasah guna menjamin stabilitas belajar siswa dari keluarga broken home.