Novi Asti Wulandari
UIN Alauddin Makassar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Gambaran Gangguan Emosi Pada Anak Dengan Online Learning Selama Masa Pandemi Covid-19 Novi Asti Wulandari; Trisnawaty; Andi Irhamnia Sakinah
Jurnal Kesehatan Panrita Husada Vol 8 No 2 (2023): Jurnal Kesehatan Panrita Husada
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (Stikes Panrita Husada Bulukumba)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37362/jkph.v8i2.1038

Abstract

Gangguan emosi anak adalah kondisi perubahan emoslonal anak yang tidak terkontrol dan dapat menjadi patologis. Mewabahnya virus covid-19 menyebabkan perubahan dalam sistem pembelajaran dari luring menjadi daring. Hal ini menyebabkan peningkatan stress pada anak selama masa pandemi. Tujuan : untuk mengetahui gambaran gangguan emosi pada anak dengan online learning selama masa pandemi covid-19. Metodeo: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini diarahkan untuk mendeskripsi atau menguraikan gambaran gangguan emosi pada anak. Hasil : Semua subjek menunjukkan sikap yang aktif. Semua subjek memiliki gejala yang sama, yaitu gelisah dan sakit kepala ketika tugasnya banyak dan menumpuk. Beberapa subjek malas mengerjakan tugas dan lebih sering bermain game, sehingga orang tua perlu menegasi dan mengawasi secara langsung di samping subjek. Beberapa pula rajin mengerjakan jika tugasnya tidak terlalu banyak. Masalah utama orang tua adalah ketika subjek susah fokus dalam mengerjakan tugasnya. Jika tidak diawasi dengan benar, subjek akan membuka aplikasi lain di HP-nya, bahkan ada subjek yang membagi layar HP-nya menjadi dua, yang satu untuk menonton yang satunya untuk membuka tugas. Kesimpulan : 1) Kondisi emosional anak dengan online learning mengalami stres dan tertekan. Banyak anak yang merasa bosan dan lelah dalam mengerjakan tugas. 2) Tanggung jawab orang tua dalam membimbing anak mengharuskan orang tua membagi waktu dengan pekerjaan rumah. Beberapa orang tua juga mengalami stres ketika mengajar anak, karena kapasitasnya yang kurang. 3) Tingkat fokus anak dalam belajar di rumah cukup rendah, terutama dalam mengerjakan tugas. Anak-anak cenderung sering menghabiskan waktu dengan bermain game. Karena itu orang tua sering memarahi dan memukul anaknya agar mau belajar dan menyelesaikan tugas tugas yang diberikan. 4) Tekanan dari orang tua dan rasa bosan karena tugas yang menumpuk membuat anak sangat ingin bersekolah kembali seperti biasa. Mereka merindukan tatap muka dengan teman-temannya. Orang tua pun sangat mendukung jika sistem belajarnya kembali seperti dulu, karena menurut mereka akan jauh lebih efektif jika anak-anak di bimbing langsung oleh gurunya. Orang tua juga merasa lebih leluasa dalam mengerjakan pekerjaan rumah. 5) Beberapa anak mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temannya. ada anak yang diejek karena miskin, ada pula anak yang diejek jelek dan hitam. Namun mereka selalu mendapat dukungan dan nasehat dari orang tuanya agar tidak menghiraukan ejekan yang diterima. 6) Semua anak tidak memiliki gejala gangguan emosi berat. Menurut para orang tua, anak-anak mengekspresikan sikap dan tindakan yang wajar pada usianya walaupun tingkat stres orang tua juga meningkat, namun orang tua sudah memahami tanggung jawabnya untuk mendidik sang buah hati. Kata kunci : Gangguan emosi anak, online learning