Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemberdayaan Lansia Melalui Kegiatan Senam Dan Storytelling Untuk Mewujudkan Lansia Sehat Dan Produktif Sri Ariyanti; Surtikanti Surtikanti; Tri Wahyuni
KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 3 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/kreatif.v5i3.7699

Abstract

Empowering the elderly is one of the important efforts in improving their quality of life and welfare in old age. The elderly are among the age groups that are vulnerable to experiencing a decline in physical, mental, and social conditions due to the aging process. Therefore, a holistic and sustainable approach is needed to support their health and quality of life. One of the activities that has proven effective is elderly gymnastics which can maintain body fitness, improve blood circulation, improve flexibility, balance, and reduce the risk of falling. Gymnastics can also help control blood pressure in the elderly with hypertension. On the other hand, storytelling activities provide great benefits to the mental and emotional health of the elderly. This activity can train memory, stimulate cognitive abilities, build confidence, and strengthen social relationships with others. Through sharing stories, seniors feel more valued, listened to, and have the opportunity to express their life experiences. Community Service Activities (PKM) in the Korpri Health Center Work Area aim to improve the physical, social, mental, and emotional health of the elderly through the Plan-Do-Check-Act (PDCA) approach. Before the activity starts, vital signs such as blood pressure, pulse, breathing, and body temperature are measured. The results of the examination showed that 20 out of 25 participants (80%) had hypertension with an average systolic blood pressure of 155.12 mmHg and diastolic 103.80 mmHg. After the examination, all the elderly took part in a gymnastics session guided by health center officers. The activity ended with a storytelling session, where 90% of the participants were able to remember events 20 years ago. These findings show the importance of regular check-ups, physical activity, and social interaction as preventive measures to improve the quality of life of the elderly. Storytelling has also been shown to strengthen emotional and social bonds among the elderly.
Efektivitas Otago Home Exercise Programme terhadap Risiko Jatuh Pada Lansia di Daerah Perbatasan Indonesia Malaysia Sri Ariyanti
Jurnal Ners Vol. 9 No. 1 (2025): JANUARI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i1.33736

Abstract

Menurut WHO, lansia merupakan seseorang yang berusia lebih dari 60 tahun dimana periode ini menjadi salah satu fase yang dilewati oleh seluruh manusia. Seiring bertambahnya usia, lansia akan mengalami berbagai masalah yang kompleks baik secara fisik, biologis, psikologis serta sosial ekonomi. Pada lansia, risiko jatuh sering terjadi dikarenakan mengalami penurunan gangguan keseimbanga dan adanya fungsi fisiologis yang berubah. Keseimbangan merupakan kemampuan seseorang dalam mempertahankan posisi tubuh ketika ditempatkan di berbagai posisi. Bertambahnya usia dapat menyebabkan penurunan berbagai macam fungsi, salah satunya yaitu fungsi fisiologis tubuh sehingga akan berpengaruh pada pengontrol keseimbangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas latihan otago home exercise program terhadap risiko jatuh pada lansia. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Jagoi yang merupakan salah satu daerah yang berbatasan dengan Malaysia. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Juli sampai Agustus 2024 sebanyak 42 responden. Metode penelitian menggunakan metode pre eksperimental, dengan desain penelitian one group pretest - posttest design, dengan membandingkan hasil dari pretest dan posttest. Latihan otago home exercise programme dilakukan 3 kali seminggu selama 4 minggu, kemudian dilakukan evaluasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari total 42 responden diketahui bahwa 100% berada pada usia lansia 60-79 tahun dengan jenis kelamin paling besar adalah perempuan sebanyak 36 responden atau 85,7%. Sebelum responden mengikuti latihan Otago home exercise Programme menunjukkan bahwa lansia mempunyai resiko jatuh tinggi sebesar 57,1% dan rendah sebesar 42,9%. Sesudah mengikuti latihan Otago home exercise Programme menunjukkan bahwa lansia memiliki risiko jatuh rendah sebesar 66,7% dan tinggi sebesar 33,3%. Hasil perbandingan resiko jatuh pada lansia sebelum dan sesudah mengikuti latihan Otago home exercise Programme menunjukkan bahwa setelah mengikuti latihan terjadi penurunan risiko jatuh dari risiko tinggi jatuh sebesar 57,1% menurun menjadi 33,3%. Latihan otago home exercise programme ini dapat menurunkan risiko jatuh, hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi p=0,000.
Alasan Lansia Memilih Tinggal di Panti Werdha: Studi Kualitatif Sri Ariyanti
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.46871

Abstract

Beberapa lansia memilih tinggal di panti jompo dengan berbagai alasan, berbagai macam faktor internal dan eksternal mempengaruhi lansia akhirnya memilih tinggal di panti.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi alasan lansia dalam memilih tinggal di panti jompo dan mencoba menggali faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan lansia tinggal di panti.Ini merupakan penelitian deskriptif. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dan dengan jumlah partisipan sebanyak 6 orang lansia yang di tinggal di Panti Werdha Marie Joseph. Data dianalisis menggunakan analisis tematik.Penelitian ini menghasilkan 2 tema yaitu : (1) Faktor dari dalam diri lansia (internal) meliputi keinginan sendiri, tidak memiliki pasangan, faktor kesehatan dan (2) faktor dari luar (eksternal) seperti tidak cocok dengan anggota keluarga lain, kurang perhatian dari anak atau anggota keluarga.: Penelitian ini menunjukkan bahwa lansia memiliki alasan yang berbeda-beda dalam mengambil keputusan untuk tinggal di panti jompo yang di pengaruhi oleh berbagai faktor. Oleh karena itu lansia yang tinggal di panti membutuhkan dukungan emosional, spiritual, finansial, perawatan, edukasi kesehatan, dukungan sosial dan partisipasi dalam kegiatan komunitas.
Efektivitas Backward Walking Programme Terhadap Kontrol Postural Pada Lansia di Daerah 3T (Tertinggal. Terdepan, Dan Terluar) Sri Ariyanti
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.49275

Abstract

Intervensi Backward Walking Programme (BWP) penting diterapkan karena mudah dilakukan, murah, dan dapat dilakukan secara mandiri oleh lansia. Latihan BWP meningkatkan cadangan temporal dan aktivitas otot, yang berperan dalam memperbaiki kemampuan sensorik serta keseimbangan tubuh baik dalam posisi statis maupun dinamis, sehingga kontrol postural dan keseimbangan dinamis pada lansia dapat meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas BWP terhadap kontrol postural lansia di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi-eksperimental dengan pre-test dan post-test pada satu kelompok, tanpa kelompok kontrol. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Emparu dengan 30 lansia yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu lansia di atas 60 tahun tanpa gangguan neurologis, kardiovaskular, atau kognitif. Intervensi dilakukan sebanyak tiga kali seminggu selama empat minggu, dengan pengukuran kontrol postural menggunakan Berg Balance Scale (BBS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa BWP yang dilakukan selama empat minggu efektif meningkatkan kontrol postural pada lansia (p = 0,000 < 0,05). Berdasarkan hasil ini, BWP direkomendasikan sebagai intervensi untuk meningkatkan keseimbangan tubuh lansia, khususnya di wilayah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.