Abdul Arif
Universitas Negeri Semarang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Potensi Google Classroom dalam Meningkatkan Keterampilan Abad 21 pada Pembelajaran Daring Abdul Arif
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Satuan pendidikan di semua jenjang memberlakukan pembelajaran dalam jaringan (daring) merespons situasi Covid-19. Penggunaan platform digital seperti WhatsApp, Google Classroom, dan Zoom menjadi tren dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Dari ketiga platform tersebut, Google Classroom memiliki keunggulan dari berbagai aspek. Mulai dari fitur hingga integrasi dengan platform lain. Karenanya, Google Classroom banyak digunakan di satuan Pendidikan. Di sini lain, pembelajaran daring di saat pandemi menjadi tumpuan utama dalam menjawab tantangan pembelajaran abad 21. Makalah ini mencoba mengkaji lebih mendalam tentang potensi Google Classroom dalam meningkatkan keterampilan abad 21 pada pembelajaran daring. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran untuk pelaksanaan pembelajaran daring menggunakan Google Classroom secara optimal. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dari buku dan hasil penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan, Google Classroom sangat mendukung untuk meningkatkan keterampilan abad 21, meliputi berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi dan kreativitas. Abstract. Education units at all levels apply online learning in response to the Covid-19 situation. The use of digital platforms such as WhatsApp, Google Classroom, and Zoom has become a trend in the implementation of online learning. Of the three platforms, Google Classroom has advantages in various aspects. From features to integration with other platforms. Therefore, Google Classroom is widely used in Education units. Here, on the other hand, online learning during a pandemic is the main focus in responding to the challenges of 21st century learning. This paper tries to examine more deeply the potential of Google Classroom in improving 21st century skills in online learning. The results of this study are expected to provide an overview for the optimal implementation of online learning using Google Classroom. The method used is a literature review from books and relevant research results. The results of the study show that Google Classroom is very supportive to improve 21st century skills, including critical thinking, communication, collaboration and creativity.
Implementasi Kurikulum Merdeka pada Pembelajaran Paket C di SKB Kota Semarang: Perspektif Tutor dan Peserta Didik Nirmala Nirmala; Abdul Arif
Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran Vol. 9 No. 2 (2026): May - August 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/jsgp.9.2.2026.8797

Abstract

Senior Secondary Equivalent Program is a non-formal educational service equivalent to senior high school, organized by the Community Learning Center (SKB) for learners unable to complete formal education. This study aims to describe the implementation of Merdeka Curriculum-based learning strategies in Package C at SKB Kota Semarang from the perspectives of tutors and learners. A descriptive qualitative approach with a phenomenological perspective was applied, collecting data through semi-structured interviews, observation, and document analysis involving three tutors and three learners. Data validity was ensured through source triangulation and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana. Results indicate that tutors formulate learning objectives based on Learning Outcomes through Teaching Objectives and Learning Objective Flow. Project-Based Learning dominates instructional strategies and effectively increases learner enthusiasm. Learning resources are multimodal and contextualized to real-life experiences. Key challenges include limited digital infrastructure, irregular attendance, and absence of standardized program monitoring instruments. This study contributes empirical insights into Merdeka Curriculum implementation in non-formal education, limited to a single educational unit.  
ANALISIS KOMPETENSI TPACK GURU DALAM PEMBELAJARAN EKONOMI DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Refin Fallah Shauma; Abdul Arif
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.13177

Abstract

Studies on teachers' TPACK competency have predominantly focused on measuring competency levels quantitatively, with limited attention to how the integration of technology, pedagogy, and content is actually enacted in real classroom practice, particularly in economics learning at the senior high school level. This study aims to analyze the implementation of Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) competencies among economics teachers at SMA Negeri 12 Semarang across the planning, implementation, and evaluation stages of learning. A qualitative approach with a single case study design was employed, with three economics teachers selected purposively as subjects. Data were collected through self-evaluation sheets, classroom observations, and lesson plan documentation, then analyzed using Miles and Huberman's interactive model with source and technique triangulation. The study yields three key findings: (1) overall TPACK competency of economics teachers is in the Very Good category; (2) two teachers demonstrated consistent and adaptive TPACK integration across all learning stages with no significant gap between self-perception and actual practice; and (3) one teacher exhibited a significant gap in the Technological Content Knowledge (TCK) component, where high self-evaluation scores did not reflect classroom. Unlike previous TPACK studies that rely solely on self-evaluation instruments, this study demonstrates that self-evaluation alone is insufficient to accurately capture TPACK competency, and proposes observation-based triangulation as a more valid approach for identifying the gap between perceived and implemented TPACK competency in economics learning. ABSTRAK Penelitian tentang kompetensi TPACK guru selama ini lebih banyak berfokus pada pengukuran tingkat penguasaan secara kuantitatif dan belum banyak mengkaji bagaimana integrasi teknologi, pedagogik, dan konten diwujudkan dalam praktik pembelajaran nyata di kelas, khususnya pada mata pelajaran ekonomi di jenjang SMA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kompetensi Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) guru ekonomi di SMA Negeri 12 Kota Semarang dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal digunakan dalam penelitian ini. Subjek ditentukan secara purposive, terdiri dari tiga guru ekonomi yang telah mengikuti pelatihan terkait kompetensi TPACK. Data dikumpulkan melalui lembar evaluasi diri, observasi pembelajaran, dan dokumentasi RPP, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama: (1) kompetensi TPACK guru ekonomi secara keseluruhan berada pada kategori Sangat Baik; (2) dua guru menunjukkan integrasi TPACK yang konsisten dan adaptif di seluruh tahap pembelajaran tanpa kesenjangan antara persepsi diri dan praktik nyata; dan (3) satu guru menunjukkan kesenjangan signifikan pada komponen Technological Content Knowledge (TCK), di mana persepsi diri yang tinggi tidak sejalan dengan praktik di kelas. Berbeda dari penelitian TPACK sebelumnya yang mengandalkan evaluasi diri sebagai satu-satunya instrumen pengukuran, penelitian ini membuktikan bahwa evaluasi diri saja tidak cukup untuk memotret kompetensi TPACK secara akurat dan menawarkan triangulasi berbasis observasi langsung sebagai pendekatan yang lebih valid dalam mengidentifikasi kesenjangan antara kompetensi yang dipersepsikan dengan yang diimplementasikan guru dalam pembelajaran ekonomi.