Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan kondisi yang sering terjadi pada pria lanjut usia dan berhubungan dengan proses inflamasi kronis di prostat. Inflamasi dapat mempercepat pertumbuhan sel prostat dan memperburuk gejala BPH. Pola makan tinggi lemak jenuh, gula, dan rendah serat dapat meningkatkan inflamasi, sedangkan pola makan kaya antioksidan dan senyawa anti-inflamasi dapat membantu menekan inflamasi. Oleh karena itu, penerapan pola makan anti-inflamasi menjadi pendekatan non-farmakologis yang potensial dalam pengelolaan BPH. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan metode penyuluhan dan pelatihan kepada pasien BPH di Poli Urologi RSUD Tabanan. Materi yang diberikan meliputi edukasi mengenai BPH, peran inflamasi, serta prinsip-prinsip pola makan anti-inflamasi. Selain itu, peserta mengikuti sesi pelatihan memasak untuk meningkatkan keterampilan dalam mengolah makanan sehat. Pendampingan berkala dilakukan untuk memantau kepatuhan pasien dalam menerapkan pola makan yang disarankan. Kegiatan ini diikuti oleh 30 pasien BPH dan keluarganya. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan nilai post-test dibanding pre-test, yang mengindikasikan peningkatan pemahaman peserta terhadap pola makan anti-inflamasi. Selain itu, pasien melaporkan perubahan positif dalam pola makan mereka, termasuk peningkatan konsumsi sayuran, buah-buahan, dan sumber protein nabati. Edukasi dan pendampingan pola makan anti-inflamasi terbukti meningkatkan pemahaman pasien tentang pengaruh nutrisi terhadap inflamasi dan gejala BPH. Program ini diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan untuk membantu pasien mengelola kondisi mereka secara lebih optimal melalui pendekatan nutrisi yang berbasis ilmiah.