Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HIBISC RICE: Beras Analog Berbahan Umbi Garut (Maranta Arundinacea L.) dan Bunga Sepatu (Hibiscus Rosa Sinensis L.) Sebagai Inovasi Makanan Pokok Fungsional Antari Arlita Leniseptaria; Indah Saraswati; Eva Annisaa; Anfa Adnia Fatma
TheJournalish: Social and Government Vol. 4 No. 5 (2023): Special Issue
Publisher : CV The Journal Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55314/tsg.v4i5.600

Abstract

Tingginya konsumsi beras sebagai bahan makanan pokok sumber karbohidrat memicu terjadinya peningkatan konsumsi dan ketergantungan terhadap beras, sehingga diperlukan upaya diversifikasi pangan. Beras analog merupakan beras tiruan (artificial rice) yang bentuk maupun komposisi gizinya mirip seperti beras padi yang dibuat dengan menambahkan bahan baku dan tambahan dengan formulasi yang tepat untuk mencukupi kebutuhan gizi dan menekan dampak negatif penggunaan beras padi yang tinggi indeks glikemik (IG) sebagai pemicu diabetes melitus (DM). Garut (Maranta arundinacea L.) merupakan tanaman pangan lokal, sumber karbohidrat, kaya serat, dan rendah IG. Penambahan bahan lain yang mendukung sifat fungsional dapat berasal dari bunga sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.), yang terbukti tidak bersifat toksik, meningkatkan aktivitas makrofag penderita DM, dan menurunkan kadar glukosa darah, sehingga kondisi hiperglikemia dapat ditekan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menganalisis stabilitas, efektivitas, dan toksisitas formulasi beras analog berbahan umbi garut dan bunga sepatu. Penelitian ini dilakukan secara in vivo pada sampel uji darah manusia (relawan) untuk menentukan IG pada perlakuan konsumsi glukosa murni (standar), nasi padi, dan formula nasi analog. Selanjutnya dilakukan uji identifikasi, evaluasi, dan analisis stabilitas, efektivitas, serta toksisitas formulasi beras analog. Hasil penelitian membuktikan bahwa F5 (dengan formula umbi garut 57.8%, bunga sepatu 5.1%, mocaf 12.6%, GMS 0.6%, dan air 23.9%) memiliki komposisi dan tekstur beras analog terbaik, serta efektif menurunkan kadar glukosa darah (mg/dL), menekan efek hiperglikemi, tidak bersifat toksik, serta mempertahankan berat badan dan meringankan derajat kerusakan pankreas, hepar, dan ginjal penderita DM. Hal itu terjadi karena adanya mekanisme penghambatan enzim α-amilase oleh α-amilase inhibitor.
THE EFFECT OF PANDEMIC IN WILLINGNESS TO PAY (WTP) FOR NATIONAL HEALTH INSURANCE MONTHLY FEE AS INDEPENDENT PARTICIPANTS: A SURVEY IN SEMARANG Ragil Setia Dianingati; Eva Annisaa; Widyaningrum Utami; MG Isworo Rukmi
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v9i1.949

Abstract

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) is mandatory for every Indonesian. Some of them have to be independent participantswho need to pay the monthly fee by themselves. The monthly fee has fluctuated since 2014, and right before the COVID-19 pandemic. This research aimed to determine the willingness to pay for the independent participants before and during the pandemic using an online survey. Results showed that of 34 participants from Semarang, most of them have 2 members of the family (31%), 3 (26%), 5 (14%) 4 (9%) and need to pay for themselves only (17%). Most of them become second-class members (40%), first-class (31%), and third-class (26%). The willingness to pay during the pandemic was lower for all type of memberships significantly (p <0,05) and if the membership fee was raised by 10%, 20%, and 30 %, the rejection was increased (74%, 89%, and 94%). Most of the participants agreed that the pandemic has impacted their economic situation so they considered choosing a lower class because they did not only choose the type of membership based on the benefits but also the amount of the monthly fee. Keywords: willingness to pay, COVID-19, national health insurance
Inovasi Produk Jamu dan Strategi Komunikasi Visual: Pendampingan Kemandirian Ekonomi Santri Pondok Pesantren Yayasan Ar Rodiah Semarang Wimzy Rizqy Prabhata; Evieta Rohana; Khairul Anam; Fitri Wulandari; Widyaningrum Utami; Eva Annisaa; Intan Rahmania Eka Dini; Adhe Setya Pramayoga
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 5 (2026): Volume 9 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i5.25431

Abstract

ABSTRAK Jamu merupakan warisan pengobatan herbal Nusantara yang memiliki potensi ekonomi besar namun sering kali tidak menarik minat generasi muda. Diperlukan inovasi produk dan strategi visual yang kuat agar jamu dapat bersaing di pasar saat ini. Yayasan Ar Rodiah Semarang memiliki santri usia remaja dengan potensi kreativitas tinggi yang dapat diarahkan menjadi produsen kreatif melalui pendampingan kewirausahaan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan santri mengenai penyakit degeneratif, mengajarkan pembuatan jamu dalam bentuk herbal shot, dan meningkatkan kemampuan desain visual dan pemasaran. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh tim KKNT 118 Universitas Diponegoro pada Juni hingga Agustus 2025 dengan melibatkan 29 santri. Metode yang digunakan adalah pendampingan partisipatif yang meliputi edukasi kesehatan, praktik formulasi sediaan, pelatihan teknik fotografi dan videografi produk, hingga uji coba pasar di Car Free Day (CFD) Tembalang. Data dikumpulkan melalui instrumen pre- dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Hasil penilaian mendemonstrasikan peningkatan signifikan pada pengetahuan dan keterampilan santri. Skor rata-rata meningkat sebesar 35,89 poin, dari nilai awal (pre-test) 52,31 menjadi 88,21 pada post-test. Santri berhasil memproduksi herbal shot yang siap untuk dipasarkan dan mampu menyusun konten pemasaran visual yang estetik untuk meningkatkan daya tarik produk. Pendampingan interaktif dan terintegrasi dari hulu hingga hilir terbukti efektif mengubah paradigma santri dari sekadar penjual jamu tradisional menjadi produsen kreatif. Integrasi antara inovasi produk herbal dan komunikasi visual menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing produk jamu di pasar modern. Kata Kunci: Herbal Shot, Jamu, Komunikasi Visual, Kreativitas Remaja, Pendampingan Partisipatif                                               ABSTRACT Jamu, an Indonesian herbal medicine, has significant economic potential but often fails to attract younger generations. Strong product innovation and visual strategies are essential for jamu to compete in today's market. The Ar Rodiah Foundation in Semarang oversees teenage students (santri) with high creative potential who can be directed toward becoming creative producers through entrepreneurial mentoring. This activity aims to increase students' knowledge regarding degenerative diseases, the production of jamu in the form of "herbal shots," and the enhancement of visual design and marketing capabilities. The UNDIP KKNT 118 team conducted this community service activity from June to August 2025, involving 29 students. The method used was participatory mentoring, which included health education, formulation practice, training in product photography and videography techniques, and market testing at the Tembalang Car Free Day (CFD). Data were collected through pre- and post-tests to measure improvements in knowledge and skills. The results showed a significant increase in students' knowledge and skills. The average score increased by 35.89 points, rising from an initial pre-test value of 52.31 to 88.21 in the post-test. The students successfully produced herbal shots tailored to market preferences and were able to create aesthetically pleasing visual marketing content to enhance product appeal. Interactive and integrated mentoring, from upstream to downstream, has proven effective in shifting students' paradigms from traditional jamu sellers to creative producers. The integration of herbal product innovation and visual communication is the primary key to increasing the competitiveness of jamu products in the modern market. Keywords: Herbal Shot, Jamu, Visual Communication, Adolescent Creativity, Participatory Mentoring.