Penelitian ini bertujuan menganalisis relasi antara edukasi, misinformasi, persepsi risiko, dan keterlibatan publik dalam komunikasi perubahan iklim di media sosial. Fokus penelitian diarahkan untuk memahami bagaimana media sosial membentuk pengetahuan publik, bagaimana misinformasi iklim berkembang, serta bagaimana kedua aspek tersebut berhubungan dengan persepsi risiko dan partisipasi publik. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur kualitatif dengan pendekatan sintesis tematik integratif. Data diperoleh dari 35 artikel jurnal bereputasi terindeks Scopus quartile 1 dan 2 yang relevan dengan komunikasi perubahan iklim di media sosial. Artikel dianalisis melalui proses seleksi, ekstraksi data, pengodean tema, dan sintesis berdasarkan tiga rumusan masalah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan sebagai ruang edukasi perubahan iklim melalui video, narasi visual, influencer, komentar, meme, tagar, dan konten interaktif. Namun, media sosial juga menjadi ruang penyebaran misinformasi, disinformasi, climate denialism, climate delayism, obstructionism, dan penyangkalan solusi iklim. Temuan juga menunjukkan bahwa persepsi risiko publik dibentuk oleh pengetahuan, nilai, emosi, pengalaman lokal, visualisasi, kredibilitas sumber, dan struktur platform. Keterlibatan publik muncul dalam bentuk komentar, berbagi konten, diskusi, aktivisme, humor, sarkasme, dan polarisasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa edukasi, misinformasi, persepsi risiko, dan keterlibatan publik saling terkait dalam ekosistem komunikasi digital. Kajian ini berkontribusi pada pengembangan studi komunikasi lingkungan, komunikasi risiko, komunikasi sains, literasi media, dan studi media digital.