This Author published in this journals
All Journal ProTVF
Larasati Winda Annissa
Universitas Gadjah Mada

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Ketimpangan representasi hantu perempuan pada film horor Indonesia periode 1970-2019 Larasati Winda Annissa; Justito Adiprasetio
ProTVF Vol 6, No 1 (2022): March 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v6i1.36296

Abstract

Sejak Lisa (1971) mengisi bentangan layar sinema Indonesia sebagai film horor pertama yang tayang pada periode Indonesia modern, hantu perempuan secara dominan muncul dalam film horor Indonesia pada setiap periode. Hantu perempuan mengalahkan representasi hantu laki-laki dalam hal jumlah, dan secara timpang menempatkan perempuan seolah-olah sebagai entitas yang lebih menakutkan dan layak menghantui dibandingkan laki-laki. Studi ini dengan memeriksa korpus film horor Indonesia terlengkap yang tersedia yaitu: Katalog Film Indonesia 1926-2007 (2007), situs Film Indonesia (filmindonesia.or.id), dan laman Wikipedia “Kategori: Film Indonesia”, mencoba menunjukkan bagaimana ketimpangan representasi hantu perempuan dan laki-laki terdapat dalam historiografi film horor Indonesia pada periode 1970 hingga 2019. Studi ini terlebih dahulu memetakan secara keseluruhan film horor Indonesia dilanjutkan dengan mengurai tiga kriteria yaitu gender tokoh protagonis utama, gender hantu utama, dan gender sutradara dalam film horor. Selain itu studi ini juga memeriksa bagaimana konfigurasi genre dalam ketimpangan representasi hantu perempuan dan laki-laki pada periode 1970 hingga 2019. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa perempuan hampir selalu menjadi tokoh sentral dalam film horor yang direpresentasikan sebagai hantu atau monster. Film-film horor Indonesia dengan representasi hantu perempuan didominasi oleh genre horor paranormal. Serta, sekalipun jumlah sutradara perempuan yang menyutradarai film horor meningkat pada periode pasca 2010, di mana tercatat 34 film disutradarai perempuan, namun tidak semua sutradara perempuan benar-benar dapat lepas dari visi misoginisme.