Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH DURASI PENGGUNAAN OBAT ANTIKOLINERGIK TERHADAP KOGNITIF PASIEN LANJUT USIA DI RAWAT JALAN Pradhani Dhaneswari; I Dewa Putu Pramantara S.; Fita Rahmawati
JURNAL FARMASI DAN KESEHATAN INDONESIA Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Farmasi dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Universitas Kristen Immanuel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61179/jfki.v1i1.149

Abstract

Durasi penggunaan obat antikolinergik memiliki pengaruh yang cukup bervariasi terhadap masing-masing individu pasien, terutama pada pasien lanjut usia. Pasien lanjut usia memiliki karakteristik khusus terkait perubahan fisiologis yang menyebabkan mereka lebih sensitif terhadap efek kognitif antikolinergik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama penggunaan antikolinergik terhadap status fungsi kognitif pada pasien lanjut usia. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Pasien yang menggunakan obat antikolinergik (berdasarkan daftar Anticholinergic Drug Scale, ADS) dicatat durasi penggunaannya, kemudian penilaian status fungsi kognitif diukur menggunakan kuesioner Mini Mental State Examination (MMSE). Pengambilan data dimulai pada periode Mei – Juli 2018 di Poliklinik Rawat jalan Penyakit Dalam dan Geriatri RSUP Dr. Sardjito. Korelasi didapatkan dengan menggunakan analisis multivariat regresi linier. Jumlah pasien yang menggunakan obat antikolinergik sebanyak 58 pasien (dari 102 pasien), dengan 40 pasien menggunakan obat antikolinergik tunggal, dan 18 pasien menggunakan antikolinergik lebih dari satu. Multivariat regresi liniear menunjukkan bahwa durasi penggunaan obat antikolinergik memberikan penurunan fungsi kognitif pasien lanjut usia secara bermakna (p<0,005; p=0,003), dengan nilai koefisien korelasinya (R) adalah -0,260 (95% Confidence Interval, CI: -1,041 - (-0,177)). Hasil analisis tersebut menunjukkan semakin lama penggunaan obat antikolinergik berpotensi menurunkan fungsi kognitif pada pasien lanjut usia.
Analisis Pola Pembelian Obat Kortikosteroid Dalam Swamedikasi Di Apotek Pada Masyarakat Trimulyo, Jetis, Bantul Pradhani Dhaneswari
Jurnal Kesehatan Madani Medika Vol 15 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan Madani Medika
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36569/jmm.v15i02.425

Abstract

Persepsi khasiat kortikosteroid dalam mengobati berbagai kondisi, dapat mendorong perilaku pengobatan mandiri (swamedikasi) di masyarakat. Namun, penggunaan kortikosteroid tanpa pengawasan medis berisiko menimbulkan efek samping yang serius, terutama jika dikombinasikan dengan obat-obatan lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pembelian kortikosteroid dalam pelaksanaan swamedikasi di apotek wilayah Trimulyo, Jetis, Bantul, dengan fokus pada identifikasi jenis obat yang digunakan, karakteristik pembeli, dan potensi risiko kesehatan. Penelitian observasional ini menggunakan pendekatan deskriptif, dengan data yang dikumpulkan pada periode Januari hingga Maret 2023 mencakup jenis obat kortikosteroid, obat lain yang dibeli bersamaan, jenis kelamin pembeli, kategori obat (Obat Generik Berlogo atau generik bermerek), bentuk sediaan, indikasi terapi, jumlah pembelian, total biaya kortikosteroid dan keseluruhan obat dalam setiap transaksi, serta beban antikolinergik yang dihitung menggunakan Anticholinergic Drug Scale (ADS). Hasil menunjukkan jenis kelamin Perempuan paling banyak melakukan swamedikasi menggunakan obat kortikosteroid. Obat kortikosteroid yang paling sering dibeli adalah deksametason sistemik (H02AB02) dengan persentase 47,62%, serta didominasi oleh penggunaan obat generik bermerek (51,79%) dengan bentuk sediaan oral (71,43%) dan topikal (24,70%), dengan indikasi utama pengobatan gatal (41,07%) dan nyeri akibat peradangan (28,88%). Sebagian pembelian melibatkan obat tambahan yang menimbulkan potensi risiko efek samping kumulatif. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti diklofenak (23,27%) paling sering dikombinasikan dengan kortikosteroid. Beban antikolinergik paling banyak menunjukkan skor 1 untuk tiap transaksi. Peran Apoteker dan penyedia layanan kesehatan sangat penting dalam memberikan edukasi dan pemantauan mengenai penggunaan kortikosteroid yang tepat, serta potensi efek samping dan risiko interaksi obat guna mendorong penggunaan kortikosteroid yang lebih aman dan terkontrol.