Syahrial
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

STRATEGI PEMERTAHANAN SENI TRADISI BARONGSAI PADA MASYARAKAT CINA BENTENG DI TENGERANG Syahrial; Assa Rahmawati Kabul
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 11 No. 2 (2023): Konvergensi: Seni dan Teknologi
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/jsrw.v11i2.185

Abstract

Masyarakat Indonesia sudah sejak lama mengenal pertunjukkan Barongsai meskipun pada masa Orde Baru sempat mendapat hambatan untuk tampil di depan khalayak, namun masih tetap hidup dan dapat dinikmati dalam berbagai kesempatan. Hal ini karena kecintaan masyarakat pendukungnya terhadap tradisi yang telah dikembangkan para leluhurnya. Salah satu pendukung keberadaan Barongsai adalah masyarakat Tionghoa di wilayah Tangerang, yang dikenal sebagai Cina Benteng (Ciben). Tulisan ini membahas usaha pemertahanan Barongsai yang dilakukan oleh masyarakat Ciben terhadap tradisi ini. Tujuannya adalah menjelaskan strategi pemertahanan yang telah dilakukan serta filosofi dan ragam hias yang melekat pada Barongsai. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif yang didukung oleh studi lapangan dan pustaka. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa upaya pelestarian seni Barongsai Khong Cu Bio, tidak sebatas meregenerasi usia para anggotanya saja yaitu proses transmisi generasi tua kepada generasi muda tetapi juga diperlukan inovasi kreasi bentuk dan diversifikasi media yang hendak digunakan agar dapat tetap lestari seiring perubahan yang terjadi dalam masyarakat pendukungnya.
Syeikh Yusuf Almakasari: Karya dan Pemikirannya Syahrial Syahrial
SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya Vol 3, No 6 (2007): Susatra 6: Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya
Publisher : HISKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/susastra.v3i6.68

Abstract

Syeikh Yusuf was an ulama who is also known as hero fighting in the struggle for independece. Because of his great service, he was declared a national hero not only by the government of Indonesia but also by South African government. His thoughts regarding tasawuf are reflected in his works. A comprehensive research is needed on this important figure in order is reveal one part the intelectual history of our nation.
INOVASI PERMAINAN CONGKAK MENJADI PERMAINAN DIGITAL SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN Afifah Luthfiani; Mamlahatun Buduroh; Syahrial; Silva Tenrisara Pertiwi Isma
NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 5 No. 1 (2026): April, NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/nalar.v5i1.3062

Abstract

Preferensi bermain anak-anak di era digital cenderung beralih ke permainan digital sehingga permainan tradisional seperti congkak mulai ditinggalkan. Sebagai upaya pelestarian, permainan congkak dialihwahanakan ke bentuk digital, salah satunya melalui aplikasi Congkak di Google Play Store. Namun, congkak digital menghadirkan pengalaman dan aturan bermain yang berbeda dari congkak tradisional yang berdampak pada pewarisan nilai dan fungsi budaya congkak tradisional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik dokumentasi dan observasi partisipatif serta diolah dengan analisis komparatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi Congkak tidak sepenuhnya mewariskan unsur nilai dan fungsi budaya permainan congkak tradisional. Aplikasi Congkak memberikan rasa senang dan bebas serta mewariskan fungsi permainan congkak untuk melatih keuletan, kemampuan berpikir kritis, dan berhitung anak.  Ketika aplikasi dimainkan berdua, unsur nilai yang diwariskan meliputi nilai demokrasi (musyawarah dan kejujuran), nilai sosial (kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, serta menghadapi dan memecahkan masalah), dan nilai kesatria (sportivitas, rendah hati, lapang dada, dan tenggang rasa).  Namun, ketika aplikasi dimainkan sendiri, unsur nilai-nilai tersebut tidak terwariskan. Meskipun inovasi ini relevan dengan era digital, peneliti berharap pengembang dapat memperbarui aplikasi dengan mempertimbangkan pewarisan nilai dan fungsi budaya congkak tradisional. Dengan demikian,  nilai dan fungsi congkak tradisional yang terwariskan bisa lebih banyak.
ISLAMIC SPIRITUALITY AS THE FOUNDATION FOR THE CONTINUITY OF SILAT BUHUN SINGA DORANG IN PAMEUNGPEUK Syahrial Syahrial; Irpan Ali Rahman; Nazarudin Nazarudin
Al-Qalam Vol. 31 No. 2 (2025): Jurnal Al Qalam
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v31i2.1712

Abstract

Silat as a traditional martial art has long evolved among various ethnic groups across the Nusantara archipelago, including the Sundanese, who have developed diverse schools of silat embedded within their cultural heritage. One such school, Silat Buhun Singa Dorang, later experienced a transformation into Pusaka Siliwangi. This study aims to investigate the socio-cultural and spiritual contexts underlying this renaming process and to elucidate the role of Islamic spirituality in sustaining the continuity of both Singa Dorang and Pusaka Siliwangi over time. Employing a qualitative research design within a modern ethnographic framework, this study relies on sensorybased engagement to collect rich, contextually grounded data that were analyzed and presented descriptively. The ethnographic approach is particularly appropriate, as the practice of Silat Buhun is deeply embedded in the socio-religious life of the Sundanese Muslim community in Pameungpeuk. The findings reveal that the transformation from Singa Dorang to Pusaka Siliwangi constitutes a deliberate recontextualization effort that aligns traditional martial values with Islamic ethical principles. This strategic rebranding not only reinforces the cultural identity of the local community but also ensures the endurance of Silat Buhun as a living heritage sustained by Islamic spiritual values amidst socio-cultural change.