Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Sosio Dialektika

Dinamika Pertumbuhan Feminisme Di China Dalam Perspektif Konstruktivisme Anna Yulia Hartati; Ismiyatun Ismiyatun; Adi Joko Purwanto; Nur Islamiati
SOSIO DIALEKTIKA : JURNAL ILMU SOSIAL HUMANIORA Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : LP2M

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/sd.v6i2.5680

Abstract

This article describes how the growth process of feminism in China in the perspective of constructivism regarding the life-cycle of norms. In theory, there are three stages of how a norm which in this case is feminism through the life-cycle of norms. This research method uses a qualitative method of literature study. In this article, the findings are that there are three propositions related to the emergence of international norms in feminism in China, the first is Norm emergence which is described by the emergence of one of the famous female figures, namely, He Zhen, who adopted western feminism by not leaving Chinese cultural identity which was considered good for her. Chinese women's social change. In contrast to other reformers, He Zhen specifically separates the case of feminism from nationalism, stating that women's liberation is not for the sake of the nation, but rather a moral necessity. Second, the Norm Cascade is illustrated by the influence of China's state ratification of the Convention Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW) held in Copenhagen Denmark, by accepting international norms on gender equality which in turn will require domestic laws to make some changes to suit the issue. Third, Internalization is described by the growth process of Chinese feminism, namely the process of fusion with culture within the body of feminism itself, or in other words, feminism that develops has its own unique characteristics that are not owned by other countries and only China has it.
Kebijakan Amerika Serikat Dalam Menghadapi Pelanggaran Sanksi Internasional Korea Utara Tahun 2021 Asyipha Damayanti Listia; Anna Yulia Hartati; Andi Purwono; Ismiyatun Ismiyatun
SOSIO DIALEKTIKA Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : LP2M

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/sd.v7i1.6703

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan faktor pendorong Amerika Serikat melakukan kerjasama Trilateral dengan Jepang dan Korea Selatan terhadap pelanggaran Sanksi Internasional Korea Utara tahun 2021. Pengembangan sejata nuklir dan rudal balistik yang dilakukan Korea Utara sepanjang tahun 2020 membuat Amerika Serikat mendorong Kerjasama diplomasi Trilateral bersama dua negara sekutunya  di Asia Timur yaitu Jepang dan Korea Selatan. Hubungan Amerika Serikat dengan Jepang dan Korea Selatan terjalin karena ketiga negara tersebut mempunyai latar belakang sejarah yang saling berkaitan. Jepang merupakan negara yang kalah dalam Perang Dunia II melawan Amerika Serikat dan sekutunya, serta Amerika Serikat merupakan negara yang sangat berpengaruh terhadap terbaginya semenanjung korea menjadi dua negara serta bepengaruh dalam pembentukan negara Korea Selatan. Tindakan self defense yang diklaim korea utara meningkatkan kembali ketegangan di Kawasan asia timur dan mengancam Amerika Serikat sebagai negara hegemoni. Teori yang digunakan penulis adalah teori rational choice yang menyatakan bahwa aktor negara melakukan suatu Tindakan didasarkan atas cost and benefit. Metode penelitian yang dipakai adalah kualitatif dengan studi literatur.  Temuan dalam penelitian ini adalah Amerika Serikat menghentikan pengembangan program nuklir Korea Utara, Pilihan Kebijakan : Sanksi Ekonomi dan Langkah Militer, , Pemasangan sistem pertahanan rudal atau Terminal High-Altitude Defense System (THAAD) dan melakukan Diplomasi Trilateral Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan