Tulisan ini didasarkan observasi selama 25 tahun mengenai teater atau seni pertunjukan di Jawa Tengah, terutama di Yogyakarta, sebagai cerminan identitas lokal. Pada pandangan saya, bentuk-bentuk teater, diartikan secara luas, berperanan penting dalam mengekspresikan pengalaman sosial dan sense of identity dari macam-macam kelompok orang Jawa/Indonesia—orang-orang yang hidup di Jawa dan sekaligus di Indonesia modern. Pada akhir tahun 70an waktu saya mulai studi ini, ketoprak sangat populer sebagai hiburan rakyat. Teater modern, teater bahasa Indonesia, punya peranan penting juga pada akhir 70an dan 80an untuk pemain dan penontonnya. Tapi peminat teater umumnya terdiri dari kalangan sosial agak berbeda, pelajar dan mahasiswa, terutama yang punya pandangan kritis terhadap kekuasaan politik dan sosial. Pada tahun 90an sampai sekarang peranan ketoprak dan teater sudah berubah. Banyak pemain teater terseret oleh perkembangan televisi yang pesat sekali pada tahun 90an dengan berdirinya stasiun komersial. Tapi ketoprak dan teater berjalan terus, dalam bentuk yang baru, dengan tetap mengekspresikan aspek identitas lokal Yogyakarta. Ketoprak muncul di TV dengan menggunakan naskah tertulis, banyak bahasa Indonesia, dramaturgi barat, dan teknologi film mempunyai bentuk dan hubungan sosial yang jauh berbeda dari hiburan wong cilik tahun 70an. Globalisasi tidak bisa ditolak adalah keterangan seorang sutradara ketoprak tentang kesediannya mengikuti tren media massa, dan memasukkan bahasa asing dan bahasa iklan dalam pertunjukkannya. Selama 10-12 tahun terakhir ini tokoh teater modern bekerjasama dengan sutradara dan pemain ketoprak dalam usaha sama, untuk menciptakan pertunjukan yang berakar pada realitas sosial kontemporer, dan dengan begitu menarik massa pennonton yang merasa terwakili. Seni pertunjukan di Yogya jelas punya identitas lokal, yang diwarnai oleh kesediaan melibatkan diri dengan arus modernisasi dan globalisasi. Siapa persis yang menjadi publiknya, golongan mana dalam masyarakat yang merasa terwakili oleh pementasan sekarang ini, adalah pertanyaan yang menarik.Kata kunci: theatre, identity, performance, ketoprak