Ahmad Yusron
Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Cirebon

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

REPRESENTASI CITRA PEREMPUAN DALAM IKLAN VITAGLOW FAIR&LOVELY Heri Setiawan; Yusuf Sapari; Ahmad Yusron; Dea Angkasa
JIKE: Jurnal Ilmu Komunikasi Efek Vol 4 No 01 (2020): DESEMBER
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jike.v4i01.2436

Abstract

The development of the times that makes today's society oriented to only one dimension, namely capitalism. Then from this incident was born a new culture of consumerism. In fact, many unknown ideologies have occurred without us realizing it in the environment around us. This study discusses the meaning in the Vitaglow Fair&Lovely mask advertisement which aims to find out what meaning is contained in the advertisement. In this advertisement, John Fiske's Semiotics research method is used, in which there are three levels, namely the level of reality, the level of representation and the level of ideology. The purpose of this study is to find the meaning in the advertisement with three levels, namely the level of reality, representation and ideology. The results of John Fiske's semiotic analysis in VitaGlow Fair & Lovely advertisements, Vitaglow Fair & Lovely advertisements classify 3 images out of 5 existing images, namely Citra Pigura depicting women as formed creatures. The woman in the advertisement is described as having whiter, smoother, and brighter skin after using the VitaGlow sheet mask. The writer's analysis of Vitaglows Fair & Lovely as a whole shows that women must always look good, but remain confident and rise to face problems. The ideological level analysis in the Vitaglows Fair & Lovely video ad depicts femininity which really represents pure women who are cheerful, fun, cares about themselves and cares for other women. The ideology of consumerism represents the message of capitalism where the three advertisements have motivated women not to feel inferior and dare to change their appearance but still lead the dream to change their appearance and make profits. Keywords: level of reality, level of representation, level of ideology, consumerism
ANALISIS KEPUASAN PENONTON SINETRON IKATAN CINTA DI RCTI Nurul Fateha; Ririn Risnawati; Ahmad Yusron
MASSIVE: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.971 KB) | DOI: 10.35842/massive.v2i1.60

Abstract

Televisi dianggap dapat memuaskan kebutuhan penggunanya dalam menyampaikan informasi, edukasi dan hiburan. RCTI merupakan salah satu stasiun televisi swasta nasional yang menayangkan Sinetron Ikatan Cinta ini mampu mempengaruhi penonton dari anak-anak hingga orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis kepuasan penonton Sinetron Ikatan Cinta RCTI dikalangan Ibu-ibu Blok Dukuturus RT 05/ RW 01 Desa Pamijahan Kecamatan Plumbon Cirebon. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis survey deskriptif. Teknik pengumpulan data dengan kuesioner dan kepustakaan melalui buku. Data diperoleh dari hasil kuesioner yang diolah menggunakan SPSS versi 20. Tingkat kepuasan dapat dilihat dari selisih Gratification Sought (GS) atau kepuasan yang diinginkan dan Gratification Obtained (GO) atau kepuasan yang didapat. Penelitian ini menggunakan sebanyak 65 orang sebagai responden. Hasil penelitian berdasarkan olah data dari SPSS, perhitungan dari 22 item pernyataan, nilai mean GS sebesar 2,84 dan nilai mean GO sebesar 3,72 dari pengambilan keputusan mean skor GS lebih kecil dari mean skor GO (GS<GO) maka terjadi kesenjangan kepuasan karena kepuasan yang didapatkan lebih besar dibanding dengan kepuasan yang diinginkan. Dengan kata lain bahwa Sinetron Ikatan Cinta tersebut memuaskan penontonnya. Sedangkan untuk perhitungan dari 65 responden jumlah GS sebesar 4055 dan jumlah GO sebesar 5313. Maka GO > GS. Jika dilihat dari Tingkat Kepuasan penonton diketahui masuk pada kategori puas dengan interval 16-24 yaitu sebanyak 33 responden atau 50,7% dengan kata lain Sinetron Ikatan Cinta dapat memuaskan penontonnya dengan baik.Kata kunci: Gratification Obtained (GO), Gratification Sought (GS), Kepuasan Khalayak, Sinetron Ikatan Cinta
Analisis Resepsi Interpretasi Penonton terhadap Konflik Keluarga dalam Film "Dua Garis Biru" Mega Pertiwi; Ida Ri’aeni; Ahmad Yusron
Jurnal Audiens Vol. 1 No. 1 (2020): March
Publisher : Universitas Muhammdiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/ja.1101

Abstract

Film adalah salah satu media komunikasi massa yang berpengaruh terhadap masyarakat. Film juga merupakan bentuk pesan yang terdiri dari berbagai tanda dan simbol yang membentuk sebuah sistem makna sehingga bisa diinterpretasikan oleh orang secara berbeda-beda, tergantung kepada referensi dan kemampuan berpikir orang tersebut. Film Dua Garis Biru karya Gina S. Noer mengangkat tema kehamilan remaja. Interpretasi konflik dalam adegan dalam adegan film ini menjadi latar belakang penelitian ini untuk melihat resepsi posisi penonton. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis resepsi interpretasi penonton terhadap konflik keluarga dalam film Dua Garis Biru. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis resepsi model encoding/decoding Stuart Hall yang mengamati asimilasi antara wacana media dengan wacana dan budaya khalayaknya. Pemahaman tentang konflik antara orang tua dan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resepsi intepretasi penonton terhadap film Dua Garis Biru untuk adegan konflik pertama dan kedua di dominasi oleh dominant-hegemonic position yang berarti pesan tersampaikan secara ideal dan para penonton menerima pesan apa adanya. Sedangkan pada adegan konflik ketiga didominasi oleh oppositional position yang berarti penonton menyangkal pesan dominan dan memiliki acuan alternatif dalam mengintepretasikan adegan yang ada. Dalam pandangan peneliti, film ini memiliki dampak positif kepada penonton antara lain memberikan pesan mengenai pentingnya tanggung jawab, komunikasi yang baik dengan orang tua serta mawas diri terhadap seks bebas. Sedangkan dampak negatif dari film ini adalah unsur pergaulan bebas di kalangan remaja yang akan mempengaruhi remaja untuk berbuat sesuka hati.