Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PEGAWAI RUMAH SAKIT TAHUN 2021 Erni Kadir; Adam Badwi
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 2 No. 1 (2023): Februari: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v2i1.631

Abstract

Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kinerja. Sumber daya manusia (SDM) merupakan pilar utama sekaligus penggerak roda organisasi dalam upaya mewujudkan visi dan misinya. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi yang mendalam tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia Pegawai Rumah Sakit Tingkat II Pelamonia Makassar Kota Makassar Tahun 2021. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jumlah Informan sebanyak 6 orang. Hasil penelitian ini adalah pendidikan formal Informan menunjukkan bahwa kurangnya minat pegawai melanjutkan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi dengan berbagai alasan, yang dapat mempengaruhi pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Pegawai di Rumah Sakit Pelamonia Makassar. Pada dasarnya kurangnya minat pegawai dalam mengikuti pelatihan yang dapat meningkatkan keterampilan pegawai dengan alasan tidak ada motivasi dari tuntutan pekerjaan dan management Rumah sakit. Promosi jabatan di Rumah sakit tingkat II Pelamonia Makassar tidak hanya dari pangkat militer saja yang mendapatkan promosi jabatan tapi juga dari Sipil mendapatkan promosi jabatan namun membutuhkan persyaratan tertentu. Saran dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan SDM pegawai disarankan penentu kebijakan Rumah sakit Tingkat Pelamonia Makassar agar semua pegawai diberikan motivasi untuk melajutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi dengan memberikan bea siswa pegawai. Di sarankan kepada management Rumah sakit agar melakukan pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan skill/keterampilan pegawai agar SDM pegawai dapat meningkat. Untuk mengembangkan SDM pegawai maka disarankan agar salah satu syarat promosi jabatan dari militer mengutamakan yang pendidikannya tinggi.
Simulasi EMS (Emergency Medical System) deteksi dini stroke dengan metode BEFASTER (Balance, Eyes, Face, Arm, Speech, Time, Emergency Respon) Dewiyanti Dewiyanti; Ernawati Ernawati; Adam Badwi; Alwi Alwi; Patmawati Patmawati; Sumarmi Sumarmi; Salmah Arafah; Kamriana Kamriana
Borneo Community Health Service Journal VOLUME 5 NOMOR 2 TAHUN 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/neotyce.v5i2.6722

Abstract

Salah satu konsep penting dalam rantai kelangsungan hidup pasien stroke adalah deteksi dini stroke sebagai metode early warning sign. Deteksi dini prehospital yang tepat memengaruhi tingkat perawatan stroke yang diperlukan. Sangat penting untuk mewaspadai stroke dengan cepat karena sebagian besar (95%) gejala awal stroke terjadi di luar rumah atau di rumah sakit. Penatalaksanaan ideal terjadi selama periode emas 3-6 jam setelah pasien stroke pertama kali ditemukan. Risiko cacat permanen meningkat jika mendapatkan perawatan medis lebih dari 12 jam setelah stroke.  Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pengetahuan tentang deteksi dini stroke serta keterampilan manajemen kegawatdaruratan prahospital pasien stroke untuk mengurangi angka kematian dan kecacatan sebelum pasien dibawa ke rumah sakit. Metode mengukur pengetahuan dan keterampilan sebelum dan setelah dilakukan Simulasi EMS (Emergency Medical System) deteksi dini stroke dengan metode BEFASTER (Balance, Eyes, Face, Arm, Speech, Time, Emergency Respon). Hasil kegiatan dari 40 responden yaitu pengetahuan kurang pre-test 27 (67,5%) dan post-test menurun menjadi 9 (22,5%). Sedangkan   pengetahuan baik mengalami peningkatan pre-test 13 (32,5%) dan post-test 31 (77,5%). Keterampilan pre-test dan post-test dengan total responden 40. Pre-test keterampilan  kurang 25 (62,5%) dan post-test menurun menjadi 7 (17,5%). Sedangkan   keterampilan baik mengalami peningkatan pre-test 15 (37,5%) dan post-test 40 (82,5%). Kesimpulan terdapat perubahan tingkat pengetahuan dan keterampilan sebelum dan setelah dilakukan Simulasi EMS (Emergency Medical System) deteksi dini stroke dengan metode BEFASTER (Balance, Eyes, Face, Arm, Speech, Time, Emergency Respon).