Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kontestasi Legitimasi Politik pada Masa Abu Bakar As-Siddiq dan Umar Bin Khattab serta Implikasinya terhadap Stabilitas Negara Modern Dien Fitri Awalia; Hasaruddin; Andi Abdul Hamzah
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 4 No. 7 (2026): Special Issue
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v4i7.530

Abstract

Legitimasi politik merupakan faktor fundamental dalam menjaga keberlangsungan pemerintahan karena menentukan tingkat penerimaan dan kepercayaan masyarakat terhadap kekuasaan yang berlaku. Dalam sejarah politik Islam, masa Abu Bakar as-Siddiq dan Umar bin Khattab menjadi periode penting dalam pembentukan pola legitimasi kepemimpinan yang berimplikasi terhadap stabilitas politik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontestasi legitimasi politik pada masa Abu Bakar as-Siddiq dan Umar bin Khattab serta mengkaji relevansinya terhadap stabilitas negara modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research. Data penelitian diperoleh dari berbagai sumber literatur berupa buku sejarah, artikel jurnal ilmiah, dan kajian politik yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dengan membandingkan dinamika legitimasi pada kedua periode kepemimpinan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legitimasi Abu Bakar terbentuk melalui proses musyawarah dan kompromi politik dalam situasi krisis pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, kemudian diperkuat melalui konsolidasi terhadap ancaman internal seperti Perang Riddah. Sementara itu, legitimasi Umar berkembang melalui institusionalisasi kekuasaan, penguatan administrasi negara, serta kebijakan yang berorientasi pada keadilan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa stabilitas politik sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemimpin dalam membangun legitimasi melalui penerimaan masyarakat, efektivitas pemerintahan, dan penguatan institusi. Temuan ini memberikan perspektif historis bagi negara modern dalam menghadapi tantangan krisis legitimasi politik.
Dampak Jangka Panjang Perang Salib terhadap Relasi Dunia Islam dan Barat dalam Politik Global Kontemporer Lonny Viona D; Hasaruddin; Andi Abdul Hamzah
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 4 No. 7 (2026): Special Issue
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v4i7.531

Abstract

Perang Salib merupakan salah satu peristiwa historis yang memiliki pengaruh panjang terhadap pembentukan relasi antara dunia Islam dan Barat. Konflik yang berlangsung pada abad ke-11 hingga ke-13 tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan, tetapi juga melibatkan kepentingan politik, ekonomi, dan konstruksi identitas yang kemudian membentuk persepsi antarperadaban hingga masa kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak jangka panjang Perang Salib terhadap relasi Islam dan Barat dalam politik global kontemporer melalui kajian terhadap pembentukan identitas, stereotip, memori kolektif, dan dinamika hubungan internasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) melalui analisis berbagai literatur akademik, buku sejarah, jurnal ilmiah, dan dokumen relevan. Data dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif-interpretatif dengan perspektif konstruktivisme dalam hubungan internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perang Salib tidak hanya meninggalkan dampak material, tetapi juga membentuk konstruksi sosial berupa narasi konflik, persepsi antagonistik, dan identitas “kita” versus “mereka” yang terus direproduksi dalam berbagai wacana politik global. Warisan historis tersebut masih terlihat dalam dinamika konflik Timur Tengah, Islamofobia, kebijakan luar negeri, serta hubungan diplomatik antara dunia Islam dan Barat. Kesimpulannya, Perang Salib menjadi salah satu faktor historis yang berkontribusi dalam membentuk pola relasi kontemporer Islam–Barat, meskipun dinamika politik modern juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, dan geopolitik lainnya.