This Author published in this journals
All Journal Jurnal Jaffray
Tarigan, Simon Alexander
Lembaga Penelitian STFT Jaffray

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tinjauan Etika Kristen Terhadap Operasi Transeksual Purnama, I Wayan; Tarigan, Simon Alexander
Jurnal Jaffray Vol 9, No 1 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 1 April 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v9i1.89

Abstract

Adapun tujuan penulisan dari pokok masalah diatas adalah: Untuk mengetahuipandangan etika Kristen tentang operasi transeksual.Mengingat begitu luasnya pembahasan tentang transeksual secara umum makapenulis membatasi karya ilmiah ini hanya berfokus pada operasi transeksual.Pembahasan operasi disini juga dibatasi hanya operasi alat kelamin ditinjau dari etikaKristen. Etika yang digunakan dalam penulisan ini dibatasi hanya etika yang bersifatdeontologis.Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan oleh penulis dalam karyailmiah ini maka penulis menyimpulkan. Pertama, tubuh, seks, jenis kelamin, dan kepuasanseksual, pada dasarnya diciptakan Allah sangat baik, mulia dan suci dan dengan tujuanyang baik, dan ini juga merupakan gambar Allah. Akibat kejatuhan manusia pertamakedalam dosa maka gambar Allah menjadi rusak, sehingga Tubuh, seks, jenis kelamin,kepuasan seksual kehilangan peranannya. Banyak penyimpangan seksual yangberkembangan saat ini, dan sudah sangat meresahkan di dalam masyarakat. Kedua,transeksual adalah salah satu bentuk kelainan seksualitas yang abnormal dimanaseorang penderita mengalami ganguan identitas gender, yaitu seseorang merasa terjebakdalam tubuh yang berbeda. Ketiga, secara etika Kristen menjadi seorang transeksualatau waria tidak menjadi masalah. Karena secara Alkitabiah ada orang yang terlahirdengan keadaan abnormal. Perilaku homoseksual bagi seorang transeksual secaraAlkitabiah dilarang karena melanggar prinsip Alkitab. Keempat, segala bentuk tindakanoperasi transeksual yang mementingkan keegoisan dan kenikmatan belaka dari segi etikaKristen adalah salah dan melanggar kaidah Tuhan yang sudah ditetapkan. Seorang yangmelakukan operasi transeksual sudah menghina dan tidak menghargai dan juga tidakmengucap syukur atas apa yang sudah diberikan Tuhan yaitu kodrat sejak lahir sebagailaki-laki maupun perempuan. Seorang yang melakukan operasi transeksual akanmempunyai prilaku homoseksual. Kelima, orang kristiani harus dapat menampung danmenerima mereka sebagai bagian dari tubuh Kristus, mungkin Tuhan punya rencana bagikaum transeksual yang rohani untuk menjadi penginjil kaum transeksual.
Studi Alkitab Terhadap Sunat Dalam Roma 2:25-29; 3:1 Dan Implikasinya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini Marpay, Brian; Tarigan, Simon Alexander
Jurnal Jaffray Vol 9, No 1 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 1 April 2011
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v9i1.90

Abstract

Dalam penulisan ini ada beberapa tujuan yang ditetapkan dan yang ingin dicapaiserta merupakan dasar materi ini yaitu: Pertama, untuk menggali pandangan RasulPaulus tentang sunat dalam Roma 2:25-29; 3:1. Kedua, untuk menjawab implikasikebenaran sunat bagi kehidupan Kristen masa kini menurut teologi Perjanjian Baru.Adapun metode yang dipakai dalam penulisan ini: Pertama, penelitian kualitatifatau mencari makna sunat berdasarkan Surat Roma 2:25-29; 3:1. Sistematikapenulisannya ialah, literatur tentang surat Roma, literatur tentang sunat, teologi RasulPaulus. Kedua, eksegesis hermeneutika tentang sunat berdasarkan Roma 2:25-29; 3:1.Teknik pengumpulan data ialah inventarisasi, evaluasi kritis. Teknik analisis data ialahinterpretasi, dan komparasi serta menulis hasilnya secara deskriptif.Berdasarkan uraian tentang studi Alkitab terhadap sunat dalam Roma 2:25-29 ;3:1 dan implikasi bagi kehidupan Kristen masa kini, maka dengan ini penulismengemukakan secara praktis beberapa hasil sebagai kesimpulanya: Pertama, sunatlahiriah tidak berfaedah ketika seseorang masih hidup dalam dosa dan tidak menaatiFirman Tuhan. Kedua, sunat lahiriah hanya sebatas simbolis, sedangkan sunat hatisangat perlu dalam hidup kekristenan. Ketiga, Sunat yang dilakukan secara lahiriah(sarx) yakni pada tubuh atau daging hanya sebatas aturan atau tradisi. Keempat, sunathati ialah sebuah situasi di mana seseorang yang sebelumnya hidup dalam dosa namunatas dasar kesadaran akan dosa atau pelanggaran, mempersilahkan Allah untuk masukdalam hatinya, membersihkan hidupnya dari segala dosa (mengerat/menyunatkanhatinya) bagi Allah sehingga dapat menjalin intimasi dengan Allah yang kudus. Kelima,sunat sangat bermanfaat bagi kesehatan. Tuhan memakai para tenaga medis untukmenyingkapkan kebenaran. Allah tidak merancang sunat sebagai alasan medis, tetapisunat sangat bermanfaat secara medis.
Paradigma Misi Dokter Kristen Di Indonesia Dalam Terang Injil Lukas Tarigan, Simon Alexander; Anggu, Peter
Jurnal Jaffray Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 2 Oktober 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v10i2.53

Abstract

Sesuai dengan pokok masalah yang ada, maka yang menjadi tujuan dalampenulisan karya ilmiah ini adalah: untuk mengetahui pelaksanaan misi oleh dokterKristen di Indonesia dan sejauh mana misi itu dijalankan dilihat dalam terang InjilLukas.Adapun metode penulisan yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah iniuntuk mendapatkan data yang diperlukan adalah: Metode penelitian yang digunakanadalah “Penelitian Survei.” Populasinya adalah dokter Kristen yang ada di kotabesar di Indonesia di mana sampelnya diambil secara acak. Pengambilan datadilakukan dengan kuesioner dan wawancara.Adapun kesimpulan dari hasil penelitian dan pembahasan karya ilmiah iniadalah: Pertama, jika misi dilihat dari aspek kasih, dapat dikatakan dokter Kristendalam penelitian ini belum terlalu materistis dan telah mempraktikkan kasih itu,khususnya dengan keberpihakan mereka kepada orang-orang miskin. Kedua,pengakuan iman yang baik tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hariseperti membaca Alkitab dan berdoa secara teratur. Ketiga, meskipun mayoritasresponden sadar bahwa pekerjaan mereka sebagai dokter adalah panggilan Tuhanuntuk melayani, namun kesibukan, padatnya jadual telah membuat panggilan itumenjadi kabur. Keempat, bahaya legalisme mulai tampak melihat banyaknya jumlahmereka yang bersaksi secara verbal, namun tanpa spiritualitas, mempraktikkan kasihtanpa nilai kemanusiaan yang utuh, pengakuan iman dengan bukti yang samar-samar.Kelima, sekalipun dari aspek kasih, dokter-dokter Kristen dalam penelitian inikelihatannya sudah melaksanakan misinya, namun secara keseluruhan, setelahdianalisis melalui komparasi, interpretasi dan deskripsi, secara deduktif dapatdiambil kesimpulan akhir bahwa mayoritas dokter Kristen dalam penelitian ini dandokter Kristen di Indonesia mempunyai keinginan untuk melaksanakan misinya,namun masih jauh dari paradigma misi Injil Lukas.