Sri Handayani Gea
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Keanekaragaman Gymnospermae Di Indonesia Pada Pulau Wawoni Sulawesi Tenggara Syarifah Widya Ulfa; Syarifah Rahmah; Pristi Karunia Putri; Fadlya Purna Hasibuan; Rahma Aulia; Sri Handayani Gea
Indonesian Journal of Multidisciplinary Scientific Studies Vol. 2 No. 1 (2024): Terbitan Edisi Januari 2024
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STAI Raudhatul Akmal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33151/ijomss.v2i1.141

Abstract

Gymnospermae adalah sekelompok tumbuhan yang memiliki biji tidak tertutup dalam bakal buah. Biji berkem- bang baik pada permukaan sisik atau daun, sering bermodifikasi membentuk kerucut atau di bagian akhir tangkai yang pendek. Kelompok ini terdiri dari Conifers, Cycads, Ginkgo dan Gnetales. Ada sekitar 800 - 900 jenis dan telah dilaporkan bahwa Conifer mempunyai keanekaragaman jenis tertinggi (500 - 600 jenis) diikuti oleh Cycad (75 - 80 jenis). Inventarisasi dan eksplorasi telah dilakukan di Pulau Wawonii, sejak tahun 2003 sampai 2006. Enam jenis Gymnospermae yang diidentifikasi termasuk dalam 3 suku, yaitu Cycadaceae (Cycas rumphii), Gnetaceae (Gnetum gnemon dan G. cuspidatum), Podocarpaceae (Podocarpus neriifolius, Dacrydium nidulum dan Nageia wal- lichiana). Salah satu diantaranya merupakan rekaman baru untuk Sulawesi Tenggara.
Identifikasi Hubungan Kekerabatan Fenetik Pada Jambu Biji Melalui Pendekatan Morfologi Di Laut Dendang Syarifah Widya Ulfa; Syarifah Rahmah; Pristi Karunia Putri; Fadlya Purna Hasibuan; Rahma Aulia; Sri Handayani Gea
Indonesian Journal of Multidisciplinary Scientific Studies Vol. 2 No. 1 (2024): Terbitan Edisi Januari 2024
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STAI Raudhatul Akmal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33151/ijomss.v2i1.159

Abstract

Kekerabatan merupakan hubungan antara satu spesies dengan spesies lainnya yang mempunyai derajat kesamaanberdasarkan sifat atau ciri tertentu dari masing-masing kelompok tumbuhan tersebut. Berdasarkan jenis data yang digunakan untuk menentukan jauh dekatnya kekerabatan antara dua kelompok tumbuhan, maka kekerabatan dapat dibedakan atas kekerabatan fenetik dan kekerabatan filogenetik (filetik). Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2023 di daerah laut dendang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling di lokasi penanaman jambu biji dan terdapat 2 sampel jambu biji yang akan diamati serta dideskripsikan berdasarkan ciri morfologi. Hasil data yang diperoleh dari penelitian berdasarkan morfologi varietas jambu biji (Psidium guajava L.) Terdapat empat jenis jambu biji. Varietas pertama dan kedua merupakan varietas jambu biji bangkok dan jambu kristal . Varietas ketiga dan keempat adalah jambu biji merah dan jambu biji merah getas.
Inquiry learning model effects on students' creative thinking in sensory system material Sri Handayani Gea; Kartika Manalu
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 3 (2025): Inovasi Kurikulum, August 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v22i3.144

Abstract

Biology learning in various schools is still dominated by lecture and memorization methods that lack to develop students' creative thinking skills, especially in sensory system materials that require a deep understanding of concepts and practical applications. This study aims to analyze the influence of the inquiry learning model on the creative thinking ability of grade XI students of SMA Negeri 9 Medan on the sensory system material. The research method used is a quasi-experimental design with four classes as samples. Two experimental classes applied an inquiry learning model and two control classes used conventional learning. Data was collected through pretests and posttests that measured four indicators of creativity: fluency, flexibility, originality, and elaboration. The results showed a significant difference where the average posttest score of the experimental group was much higher than that of the control group, and showed a considerable difference. The results of the analysis showed that the data was normally distributed and had a homogeneous variance, so testing using the t-test could be carried out. These findings prove that the inquiry learning model is more effective in developing students' creative thinking skills because it provides opportunities to investigate, explore, and discover concepts independently, in contrast to conventional learning that relies solely on the transfer of information from teacher to student.   Abstrak Pembelajaran Biologi di berbagai sekolah masih didominasi oleh metode ceramah dan hafalan yang kurang mengembangkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik, terlebih khususnya pada materi sistem indra yang memerlukan pemahaman konsep mendalam dan aplikasi praktis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik kelas XI SMA Negeri 9 Medan pada materi sistem indra. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi-experimental design dengan empat kelas sebagai sampel. Dua kelas eksperimen menerapkan model pembelajaran inkuiri dan dua kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional. Data dikumpulkan melalui pretest dan posttest yang mengukur empat indikator kreativitas: kelancaran (fluency), fleksibilitas (flexibility), orisinalitas (originality), dan elaborasi (elaboration). Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan dimana rata-rata skor posttest kelompok eksperimen jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, serta menunjukkan selisih yang cukup besar. Hasil analisis menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogeny, sehingga pengujian menggunakan uji t dapat dilaksanakan. Temuan ini membuktikan bahwa model pembelajaran inkuiri lebih efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik karena memberikan kesempatan untuk menyelidiki, mengeksplorasi, dan menemukan konsep secara mandiri, berbeda dengan pembelajaran konvensional yang hanya mengandalkan transfer informasi dari guru ke peserta didik. Kata Kunci: berpikir kreatif; model pembelajaran inquiry; sistem indra