Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POC Daun Kelor dan Kulit Pisang Untuk Meningkatkan Produktivitas Lidah Buaya di KWT Matahari Kebon Pala Jakarta Timur Vivi Lusia; Darwati Susilastuti; Aditiameri; Sumihar M.L. Tobing; Sunar; Maskup Wicaksono
KALANDRA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 (2023): Mei
Publisher : Yayasan Kajian Riset Dan Pengembangan Radisi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55266/jurnalkalandra.v2i3.262

Abstract

Pupuk organik cair (POC) merupakan pupuk cair yang bahan bakunya berbahan organik, baik hewan maupun tumbuhan.  POC daun kelor adalah salah satu POC yang berbahan dasar daun kelor (Moringa oleifera, L.) dan POC kulit pisang bahan bakunya kulit buah pisang (Musa sp., L).  Daun kelor mengandung Nitrogen tinggi, sedangkan kulit pisang mengandung Kalium tinggi, disamping unsur hara lainnya.  Penggunaan kedua POC dapat saling melengkapi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. KWT (Kelompok Wanita Tani) Matahari telah mengusahakan tanaman Lidah Buaya (Aloe barbadensis, M.) yang diolah menjadi bahan makanan berupa serbuk minuman, minuman segar dan makanan kering. Untuk itu diperlukan bahan daun lidah buaya yang sehat, tidak tercemar dan kandungan gizi tinggi. Oleh karena itu, aplikasi pupuk organik merupakan pilihan yang tepat untuk mendukung budidaya lidah buaya. Kelor dan pisang merupakan tanaman yang mudah didapat di area KWT Matahari yaitu di kelurahan Kebon Pala, dan mudah diolah sebagai POC. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa anggota KWT Matahari sangat antusias untuk menggunakan POC daun kelor dan kulit pisang setelah mengetahui cara pembuatan dan cara aplikasi yang sangat sederhana. Pemberian POC organic dari daun kelor dan kulit pisang pada demplot budidaya tanaman lidah buaya di lahan milik kelompok tani ternyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman lidah buaya. Dengan penggunaan POC kelor dan kulit pisang, diharapkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman lidah buaya menjadi lebih optimal, cepat dipanen dan berkualitas serta lingkungan lestari.
EFEKTIVITAS DOSIS BAHAN AKTIF LINDOMIN DAN CARA PEMBERIAN TERHADAP PENGENDALIAN EPIFIT PADA KELAPA SAWIT DI AFD 19 PT WANASAWIT SUBUR LESTARI Doly; Sunar; Fetty
AGRO TATANEN | Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 8 No. 2 (2026): AGRO TATANEN Edisi Juli 2026 | Jurnal Ilmiah Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Faperta UNIBBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55222/3x6d9634

Abstract

Epifit Ficus sp. merupakan salah satu gulma berkayu yang banyak menginfestasi batang kelapa sawit dan berpotensi menurunkan produktivitas akibat kompetisi cahaya, air, dan ruang tumbuh. Pengendalian mekanis sering kali tidak efektif karena kemampuan regeneratif epifit yang tinggi dan struktur akarnya yang kuat. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas berbagai dosis herbisida Lindomin yang mengandung bahan aktif 2,4-D dimetil amina serta dua metode pemberian, yaitu infus akar dan suntikan batang, dalam pengendalian epifit pada Afdeling 19 PT Wanasawit Subur Lestari. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 3 taraf dosis (20%, 30%, dan 40%) dan 2 metode aplikasi, menghasilkan enam kombinasi perlakuan dengan tiga ulangan. Pengamatan dilakukan selama 30 hari dan dianalisis menggunakan ANOVA serta uji lanjut Tukey pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis herbisida memberikan pengaruh paling signifikan terhadap tingkat kematian epifit. Dosis 40% menghasilkan persentase kematian tertinggi dengan nilai rata-rata 82,65%, jauh lebih tinggi dibandingkan dosis 20% dan 30%. Metode aplikasi juga memberikan pengaruh nyata, di mana suntikan batang memiliki efektivitas rata-rata 71,04%, lebih tinggi sebesar 8,33% dibandingkan metode infus akar yang hanya mencapai 62,71%. Analisis interaksi menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara dosis dan metode aplikasi (p = 0,900), sehingga kedua faktor bekerja secara independen. Namun demikian, kombinasi dosis 40% dengan metode suntikan batang menghasilkan efektivitas tertinggi dengan persentase kematian rata-rata sebesar 86,10%. Kontribusi terbesar terhadap variasi total berasal dari faktor dosis melalui nilai jumlah kuadran tertinggi (3926,308), menegaskan bahwa konsentrasi bahan aktif merupakan faktor paling menentukan keberhasilan pengendalian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengendalian epifit Ficus sp. pada kelapa sawit paling efektif dicapai melalui penggunaan dosis 40% dengan metode suntikan batang. Kombinasi tersebut mampu memberikan destruksi jaringan epifit paling optimal dan konsisten, sehingga direkomendasikan sebagai metode pengendalian yang efisien, tepat guna, dan mendukung pengelolaan perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan.