Studi ini menyelidiki sejauh mana Indeks Pembangunan Manusia (IMB) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TKP) memengaruhi tingkat kemiskinan di Surabaya, sebuah wilayah metropolitan di Indonesia. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pengamatan bahwa meskipun IMB Surabaya terus meningkat setiap tahunnya, tingkat kemiskinan tetap fluktuatif dan tampaknya terkait erat dengan dinamika pengangguran. Tujuan utama adalah untuk mengukur efek gabungan dan individual dari IMB dan TKP terhadap kemiskinan di kota ini. Penelitian ini menggunakan data deret waktu tahunan selama lima belas tahun dari 2011 hingga 2025, semuanya bersumber dari publikasi resmi Badan Pusat Statistik Kota Surabaya. Metodologi kuantitatif diadopsi, menggunakan analisis regresi linier berganda yang diproses melalui perangkat lunak EViews. Temuan menunjukkan bahwa kedua variabel independen tersebut bersama-sama menghasilkan dampak yang signifikan secara statistik terhadap kemiskinan. Ketika diperiksa secara terpisah, IMB menunjukkan hubungan negatif dan signifikan dengan kemiskinan. Secara praktis, peningkatan IMB menyebabkan penurunan tingkat kemiskinan. Sebaliknya, Tingkat Pengangguran Terbuka menunjukkan efek positif dan signifikan, yang berarti bahwa pengangguran yang lebih tinggi berhubungan dengan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa pemerintah Surabaya tidak dapat hanya mengandalkan peningkatan kualitas pembangunan manusia. Upaya penciptaan lapangan kerja harus berjalan seiring dengan inisiatif untuk meningkatkan pendidikan, layanan kesehatan, dan standar hidup yang layak.