Nyoman Suaryana
Pusat Litbang Jalan dan Jembatan

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KAJIAN PEMANFAATAN KAPUR PADAM SEBAGAI PENGGANTI SEMEN DALAM CAMPURAN CMRFB Nyoman Suaryana
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 29 No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPeningkatan kondisi jalan selain memerlukan biaya yang besar juga memerlukan material yang banyak, sementara material yang memenuhi persyaratan semakin berkurang jumlahnya. Teknologi daur ulang merupakan salah satu alternative pemecahan karena efektif dan efisien. Penggunaan kembali (daur ulang) aspal dan agregat eks perkerasaan selain ekonomis juga menunjang kebutuhan akan konservasi sumber daya alam. Salah satu teknologi daur ulang yang baru dikembangkan adalah CMRFB (Cold Mix Recyclink Foam Bitumen), dengan menggunakan bahan pengisi semen. Tujuan dari penelitian ini adalah meneliti kinerja CMRFB dengan memanfaatan kapur padam yaitu kapur yang telat dihidrasikan dengan air sebagai bahan pengganti semen untuk bahan pengisi. Metodologi penelitian dilakasanakkan dengan pengujian laboraturium dan uji coba sekala penuh dilapangan dan pengamatan kinerja selama 2  tahun hasil pengujian menunjukan CMRFB dengan bahan pengisi kapur padam. Mempumyai karakteristik kekuatan yang mempengaruhi persyaratan spesifikasi, namun masih dibawah kekuatan dengan bahan pengisi semen pada proporsi yang sama. CMRFB dalam bentuk gambur dapat disimpan sampai dengan 7 hari, sementara CMRFB dengan bahan pengisi semen harus segarera dipadatkan sebelum 4 jam. Kinerja perkerassan berdasrkan nilai lendutan dan nilai kondisi menjunjukan CMRFB dengan kapur padam dan semen masih dalam kondisi baik sampai dengan umur saat ini (3 tahun). Pemanfaatan kapur padam dalam CMRFB akan menurunkan biaya produksi mengingat harga kapur padam yang relative murah dibandingkan dengan semen. Sifat CMRFB dengan kapur padam yang dapat disimpan dalam waktu tertentu, memungkinkan untuk diproduksi dengan skala besar, dan selanjutnya disimpan untuk digunakan pada skala kecil sebagai bahan untuk pemeliharaan jalan. Kata kunci : daur ulang ,aspal busa, kapur padam, semen, kinerja, CMRFB, lendutan
KAJIAN MATERIAL STONE MATRIX ASPHALT ASBUTON BERADASRKAN KRITERIA DEFORMASI PERMANEN Nyoman Suaryana
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 29 No 2 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pada tahun 70-an di Indonesia mulai digunakan material Asphaltic Concrete (AC). Namun penguna AC dengan tebal minimum pada perkerasaan yang belum mantap menimbulkan kerusakan berupa retak-retak. Selanjutnya pada pertengahan tahun 80-an, diperkenalkan HRS yang mempunyai kelenturan yang tinggi, selaput aspal yang lebih tebal. Permasalahan retak hilang, namun muncul masalah baru dengan terjadinya deformasi permanen, khususnya pada jalan dengan lalu-lintas berat. Pengalaman tersebut menunjukan perlunya dikembangkan material yang dapat mengatasi masalah deformasi permanen, tanpa harus kehilangan durabilitas. Salah satu material yang dikembangkan di Indonesia adalah Stone Matrix Asphalt Asbuton (SMAB) yang meruoakan pengembangan lebih lanjut dari Split Mastic Asphalt atau Stone Matrix Asphalt (SMA) dengan memanfaatkan bahan lokal aspal buton. Metodologi dilaksanakan dengan cara melakukan kajian literratur dan selanjutnya melaksanakan pengujian empiris dan simulasi di laboratorium. Hasil penelitiian menujukan pencampuran yang sesuai untuk SMAB adalah dengan cara-basah (urutan pencampuran adalah agregat-aspal-Asbuton), dan apabila digunakan pemadat Marshall jumlah pemadatan yang disarankan adalah 2 x 50 tumbukan meskipun untuk lalu-lintas berat. Hasil pengujian menunjukan penambahan asbuton dapat mengurangi terjadinya pengaliran aspal sehingga dapat menggantikan fungsi serat selulosa sebagai bahan penstabil. Penambahan Asbuton  juga meninggkatkan ketahanan campuran terhadap deformasi permanen. Dalam penelitian ini telat dikombangkan rumus pendekatan untuk menghitung kadar aspal optimum SMAB.Kata kunci : SMA, SMAB, Asbuton, serat selulosa, pengaliran aspal, deformasi permanen
PENGEMBANGAN PERANCANGAN PRAKTIS TEBAL PERKERASAN KAKU UNTUK LALU LINTAS RENDAH Panji Krisna Wardana; Nyoman Suaryana
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 32 No 3 (2015)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTeknologi perkerasaan kaku di Indonesia umunya untuk lalu lintas berat, dengan beban lebih besar dari satu juta Equivalentl Single Axle Load (ESAL) selama umur rencanannya. Saat ini, perkembangan perkerasan kaku di Indonesia, sudah mulai banyak dilaksanankan pada jalan dengan volume lalu lintas rendah seperti jalan kabupaten dan jalan di perkotaan, tanpa ditunjang oleh pedoman yang diperlakukan. Keadaan ini menuntut adannya peremvcaan perkerasaan kaku yang praktis untuk lalu lintas yang rendah yang sesuai dengan kondisi di Indonesia. Kajian ini menggunakan metode gabungan antara analitis dengan experimental dimana metode analitis mengikuti prinsip perancangan perkerasan dari Portland Cement Association (PCA) sedangkan experimental didasarkan kinerja perkerasan kaku lalu lintas yang rendah sudah dilakukan di Indonesia. Mutu beton yang umumya digunakan pada perkerasan jalan kabupaten dan kota, yaitu K250 kg/cm2, K300 kg/cm2 dan K350 kg/cm2. Hasil simulasi perancangan, menunjukan perbedaaan temperature antara sisi atas dan bawah pelat cukup berpengaruh, dimana peningkatan temperature 1°C akan menaikkan ketebalan antara 5 samapai 7 mm, sedangkan peningkatan mutu beton 100 kg/cm2 akan mengurangi ketebalan pekatsekitar 1,6 mm. peningkatan Muatan Sumbu Terberat (MST) dari 8 ton menjadi 12 ton akan menaikkan tebal pelat sebsar 4 cm. Dalam rancangan praktis yang diusulkan, CBR tanah dasra ditetapkan minimum sebesar 6% dan kelas jalan dibagi menjadi tiga kelompok. Untuk jalan desa dan permukiman mutu betonnya ialah K250 kg/cm2, jalan lokal/ kolektor K3000 kg/cm2 serta jalan daerah intdustri K350 kg/cm2. Ketebalan pelat beton yang diperoleh berturut-turut adalah 15 cm, 20 cm, 23 cm dengan lapisan pondasi dari bahan berbutir setebal 15 cm.Kata kunci : perkerasan kaku, lalu lintas rendah, perancangan tebal, mutu beton, CBR, kelas jalan
PENGARUH KANDUNGAN ASPHALTENE TERHADAP SIFAT REOLOGI DAN PENUAAN ASPAL Madi Hermadi; Nyoman Suaryana
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 30 No 3 (2013)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSering kali ditemui aspal harus dimodifikasi karena memiliki kualitas yang tidak memadai untuk perkerasan jalan. Salah satu cara modifikasi adalah dengan merekayasa komposisi kimia. Untuk keperluan tersebut, perlu diketahui korelasi yang signifikan antara komponen kimia dengan kualitas aspal, terutama sifat reologi dan penuaan. Namun kajian pustaka menunjukkan sampai saat ini kolerasi tidak signifikan pada penelitian ini telah dilakukan pengkajian hubungan antara salah satu komponen aspal, yaitu Asphaltenes, dengan sifat regiologi dan penuaan aspal. Penelitian dilakukan dengan mengekstrasi Asphaltenes dari dua aspal yang berbeda, yaitu aspal minyak dan bitumen asbuton, dengan cara Rostler (ASTM D2006) dan Corbett (ASTM D4124). Selanjutnya, masing-masing Asphaltenes ditambahkan kedalam media aspal sebanyak 0%, 5% dan 10%  serta dicampur homogen. Perubahan regiologi dan penuaan aspal akibat penambahan Asphaltenes dianalisis secara statistik. Hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara Asphaltenes aspal minyak dengan Asphaltenes bitumen Asbuton. Hal ini membuka peluang kolerasi dapat digunakan secara umum untuk berbagi jenis aspal. Pola pengaruh kandungan Asphaltenes metode Rostler relatif sama dengan metode Corbett,namun nilainya tidak persis sama. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan pelarut yang digunakan. Pengaruh Asphaltenes terhadap penuaan menunjukkan Asphaltenes berkontribusi terhadap kecepatan penuaan sehingga harus diakomodir dalam indeks penuaan dengan kereaktifan tertentu. Hal ini berbeda dengan indeks durabilitas RDR dan GR yang tidak mengakomodirnya. Kata kunci :  Asphaltenes, aspal, Asbuton, reologi, penuaan