Articles
KEBUTUHAN AGREGAT UNTUK PERKERASAN LENTUR DAN PERKERASAN KAKU (BETON SEMEN)
Furqon Affandi
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 21 No 2 (2004)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
There are two types of pavement that commonly used, namely flexible and rigid pavement. However rigid pavement is relatively new and rarely used in Indonesia compared to the flexible pavement. Meanwhile, there are many parts in Indonesia expriencing difficulty of aggregate for road material. Therefore it need imported from others areas or island. These situations not only lead to the problem of the implementation but also to the high cost of road construction. The paper discuss the need of aggregate for flexible and rigid pavement based on the analysis of pavement thickness design for each type suited to the traffic loading. Discussion indicates that rigid pavement need material not so much as for flexible pavement, just only between 42% and 75% from flexible pavement.
Sand base dengan aspal emulsi
Furqon Affandi
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 9 No 2 (1992)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pada tulisan berikut ini, diuraikan prosedur dan hasil campuran aspal emulsi-pasir dilaboratorium. Prinsip dasar yang sama digunakan untuk menghasilkan campuran aspal emulsi-pasir seperti untuk gradasi menerus, campuran aspal emulsi-agregat kasar, kecuali untuk ukuran agregatnya sendiri. Campuran pasir bisa digunakan untuk lapisan pondasi atas atau lapisan permukaan. Beberapa macam agregat hasul, telas menghasilkan hasil yang memuaskan.
Sand base dengan aspal emulsi
furqon Affandi
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 9 No 2 (1992)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pada tulisan berikut ini, diuraikan prosedur dan hasil campuran aspal emulsi-pasir dilaboratorium. Prinsip dasar yang sama digunakan untuk menghasilkan campuran aspal emulsi-pasir seperti untuk gradasi menerus, campuran aspal emulsi-agregat kasar, kecuali untuk ukuran agregatnya sendiri. Campuran pasir bisa digunakan untuk lapisan pondasi atas atau lapisan permukaan. Beberapa macam agregat hasul, telas menghasilkan hasil yang memuaskan.
BEBERAPA SIFAT CAMPURAN ASPAL PANAS GRADASI TERBUKA UNTUK LAPISAN PERKERASAN JALAN
Furqon Affandi
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 10 No 1 (1993)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pada arrtikel ini, diuraikan tipe dari aspalgradasi terbuka sebagai lapisan permukaan diatas perkerasan jalan raya. Keuntungan utama dari tipe ini ialah biasa mengurangi hydroplaning elama hujan lebat, sebab gradasi terbuka ini mempunyai "saluran drainase", sehingga kontak antara roda kendaraan dan perkerasan terpelihara seaktu volume air cukup besar. Selanjutnya kelicinan pada kecepatan tinggi selama permukaan basah juga diperbaiki. Karakteristik lain tipe di laboraturium seperti stabiltas, kelelehan, rongga, kadar aspal, pemeabilitsas dn ketebalan lapis ekivalen juga diuraikan pada tulsan ini.
PERKUATAN GEOTEXTILE UNTUK MENDUKUNG PERKERASAN JALAN
Furqon Affandi
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 12 No 1 (1995)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pengembangan timbunan untuk jalan raya dan atau jaln kereta apai yang melewati daerah tanah lembek, pada saat ini tiidak selalu bisa dihindari lagi, karena keterbatasan dan penekanan biaya. Sebagai akibatnya maka perlu metoda perencanaan yang baru yang memberikan kestabilan timbunan ttersebut baik kestabilan tanah lembeknya ataupun kestabilan terhadap bidang gelincirnya, dengan biaya pelaksanaan yang lebi murahh dibandingkan perencanaan yang sudah ada sebelumnya. Pada tulisanini diuraikan metoda perenanaan yang menggunakan geotextile / geogrid beerta penggunaanya yang maana dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu Aggregate Wrapped mattress, Cellular matterss dan Base reinforcement. Selanjutnya untuk memperjelas penggunaanya, diuraikan pula contoh pemilihan jenis penanganan yang menggunkan geotextile / geogrid, perhitungan kestabilan dan kualitas geotextile yang diperlukan dari suatu timbunan jalan raya yang melalui tanah lembek.
PERBANDINGAN ANALISA LENDUTAN PERKERASAN DARI ALAT FALLING WEIGHT DEFLECTOMETER PADA PERENCANAAN PELAPISAN ULANG
Furqon Affandi
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 13 No 2 (1996)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pengetahuan daya dukung dari suatu perkerasan jalan yang sudah ada, adalah sangat penting guna mengetahui kemampuan yang masih bisa diberikan dari konstruksi jalan tersebut meupun peningkatan yang diperlukan sehubungan dengan beban yang harus dipikulnya untuk suatu periode waktu tertentu. Peralatan pengukur daya dukung dari susunan perkerasan jalan telah mengalami perkembangan dari alat pengukur California Bearing Ratio (CBR), dynamic cone penetrometer, sampai kepada peralatan yang dilakukan ditempat yang tanpa merusak konstruksi perkerasan ini itu sendiri seperti Benkelman Beam, Deflectograph dan Falling Weight Deflectometer (FWD).Pengujian Bearing Capacity dengan alat Benkelman Beam. Deflectograph dan Falling weight Deflectometer ialah mengukur lendutan permukaan perkerasan akibat suatu beban tertentu yang diberikan kepada perkerasan itu diimana pada Falling Weight Deflectometer pembebanan berupa beban implus yang dijatuhkan kepada permukaan perkerasan dengan tinggi jatuh dan beban yang dapat diatur. Pada tulisan ini, empat metoda analisa lendutan perkerasan dievaluasi dan dibandingkan secara praktis terhadap perencanaan pelapisan tulang perkerasan. Keempat metoda itu ialah ELSDEF: MODCOMP2: MODULUS 4: DAN ISSEM 4 dimana metoda tersebut menggunakan konsep " back calculation" yang menentukan sifat sifat material yang ada pada perkerasan ditinjau dari responnya terhadap beban dinamis yang berikan. Keempat metoda itu diterapkan pada segmen segmen jalan yang sudah ada, yang kondisinya betul-betul memerlukan rehabilitasi, yang mencakup kondisinya lingkungan beban lalu lintas dan type tanah dasar yang bervariasi. Data lendutan dari hasil pengujian lapangan dipergunakan untuk menghitung modulus lapisan, dan selanjutnya dari hasil yang sudah didapat tersebut igunakan untuk menghitung lapisan ulang yang diperlukan yang diperlukan menurut metoda AASHTO 1986.
EVALUASI KEKUATAN CAMPURAN PERKERASAN BERASPAL AKIBAT PENGARH AIR DENGAN CARA PERENDAMAN
Furqon Affandi
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 15 No 3 (1997)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulsan ini menyajikan pengembangan pengujian sensitivitas dari kerusakan akibat air (moisture damaging/MI) untuk campuran beraspal, pada kondisi beriklim panas dan lembab. Konsep dan pengujian ini didasarkan pada karakteristik sensitivitas kerusakan akibat air dengan kurva durabilitas jangka panjang yang menyatakan variasi kekuatan sisa dengan cara perendaman panas ( 60 C) sampai 14 hari. Versi awal dari pengujian ini telah dimodifikasi dengan karakteristik sensitivitas kerusakan akibat air (MD) dengan menggunakan nilai kekuatan sisa pada umur perendaman 6 hari di air panas. Kedua pengujian tersebut telah terbukti sangat baik dibandingkan terhadap penguian Marshall tradisional dengan perendaman satu hari dalam mendeteksi sensitivitas campurn. Metode yang dimodifikasi ini lebih panjang (selama 14 hari) dan dengan jumla contoh yang banyak.
CAMPURAN STONE MASTIC ASPHALT DAN PENGARUH KANDUNGAN AGREGAT HALUSNYA
Furqon Affandi
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 15 No 4 (1999)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penggunaan campuran beraspal jenis Stone Mastic Asphalt (SMA) telah berkembang dengan cepat sejak tahun 90 dan banyak dipergunakan di Jerman, Amerika, Canada, Inggris, Sehubungan dengan kemampuannya untuk menahan air, retak serta mempunyai keawetan yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh prosentase agregat kasar dalam komposisi SMA yang membentuk rangka dan memberikan kontak antar agregat kasar serta dipengaruhi oleh jumlah agregat halus yang ada pada campurannya. Jumlah agregat halus pada campuran yang masih memberikan kontak antar agregat kasar bisa ditentukan dengan menggunakan indikator Void in Mineral Aggregate (VMA) dan Void in Coarse Aggregate (VCA) serta metoda"fry rodded"sebagai mana teredapat pada ASTM C 29. Hasil percobaan yang tela dilakukakan pada gradasi tertentu memberikan batasan jumlah maksimum dari agregat halus yang masih memberikan kontak antar agegat kasar, yaitu agregat halus sebesar 30%, lebih dari itu SMA tidak bisa terwujud. Diuraikan pula pengaruh rongga dalam campuran terhadap sensivitas dan stabilias dimana stabilitas sampuran akan menurun sesuai dengan penurunan jumlah agregat halus dalam campuran.
Lapis beton sangat tipis diatas perkerasan aspal (ultra-thin whitetopping)
Furqon Affandi
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 19 No 2 (2002)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pelapisan ulang jalan aspal dengan lapisan beton telah lama dikenal, sebagai alternatif pelapisan ulang dengan aspal dan umunnya dikenal dengan nama whitetopping. Ada tiga macam whitetopping, satu diantaranya ialah ultra thin whitetopping- UTW (Lapis Beton Sangat Tipis-LBST), dimana lapis tipis beton biasanya 5-10 cm dihamparkan diatas permukaan lapis aspal yang telah mengalami kerusakan dan telah dipersiapkan. Selanjutnya ada faktor-faktor lain yang membedakan ultra thin whitetopping tersebut, ialah tingkat ikatan yang didapat antara lapisan beton dengan perkerasan aspal lama dan juga jarak sambungan yang lebih pendek dari pada jarak sambungan normal. Biasanya ultra thin whitetopping digunakan dimana ketebalan lapisan aspal lama cukup tebal, seperti pada perkerasan aspal secara menyeluruh (full depth asphalt) atau dimana pelapisan ulang yang berkali-kali telah dilaksanakan dalam perioda waktu tertentu. Ultra thin whitetopping memberikan lapisan permukaan yang awet untuk beban lalu lintas yang normal, dan penggunaan lainnya termasuk di persimpangan dimana alur menjadi suatu masalah dan juga digunakan dilahan parkir.
Analisa ruji (dowel) dan batang pengikat (tie bar) pada perkerasan kaku
Furqon Affandi
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 21 No 3 (2004)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tegangan pada batang ruji (dowel) merupakan hasil dari geser, lentur dan tahanan. Tegangan ini bisa dianalisa secara analitis untuk menentukan factor factor yang mempengaruhi karakteristik penyaluran beban. Selanjutnya, efektifitas dari batang ruji untuk menyalurkan beban pada sambungan tergantung pada karakteristik tanah dasar juga. Sebagai hasilnya hampir semua agensi telah membuat standarisasi dari ukuran ruji ini, dimana diameter dan panjang ruji tergantung pada tebal perkerasan. Didalam menganalisa tegangan pada ruji, sangat penting bagi para perencana untuk memahami penyebab dan besarnya tegangan yang terjadi.