Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendekatan Diagnostik Disfagia Orofaring dengan Pemeriksaan Flexible Endoscopic Evaluation of Swallowing pada Anak dan Dewasa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Marsella P. Castendo; Steward K. Mengko; Moudi M. Mona
Medical Scope Journal Vol. 6 No. 2 (2024): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.v6i2.53477

Abstract

Abstract: Dysphagia is a swallowing disorder that requires effort and time to digest food. It can occur in all age groups, due to damage of organ structures or certain medical conditions. The most common method of examining oropharyngeal dysphagia is Flexible Endoscopic Evaluation of Swallowing (FEES). This study aimed to obtain the clinical diagnosis and further management in dysphagia cases. This was a retrospective descriptive study with a cross sectional design. Samples were medical records of dysphagia patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from 2020 to 2023. The results obtained 32 cases out of 315 patients with dysphagia. Orophatyngeal dysphagia was more common in males (68.8%) and age 20-59 years (53.1%). Based on preswallowing and swallowing assessment, the characteristics that appear tend to be impaired in pharyngeal phase. The most common clinical diagnoses were aspiration pneumonia and laryngopharyngeal reflux (LPR) (each of 18.6%). Further management was diet modification and swallowing rehabilitation (78.7%). In conclusion, oropharyngeal dysphagia is common in male patients and occurs at the age of 20-59 years. The most common causes of oropharyngeal dysphagia are aspiration pneumonia and LPR. The FEES measures can determine further management, namely diet modification and swallowing rehabilitation. Keywords: oropharyngeal dysphagia; swallowing disorders; swallowing rehabilitation    Abstrak: Disfagia adalah gangguan proses menelan sehingga butuh usaha dan waktu untuk mencerna makanan yang dapat terjadi pada semua kelompok usia, akibat kerusakan struktur organ atau kondisi medis tertentu. Metode pemeriksaan disfagia orofaring yang sering dilakukan ialah Flexible Endoscopic Evaluation of Swallowing (FEES). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diagnosis klinis dan manajemen lanjutan pada kasus disfagia. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah rekam medik pasien disfagia di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou sejak 2020-2023. Hasil penelitian mendapatkan 32 pasien yang memenuhi kriteria dari 315 pasien disfagia. Disfagia orofaring lebih sering dialami oleh laki-laki (68,8%) dan usia 20-59 tahun (53,1%). Berdasarkan hasil preswallowing dan swallowing assessment karakteristik yang muncul cenderung mengalami gangguan fase faring. Diagnosis klinis terbanyak ialah pneumonia aspirasi dan RLF (masing-masing 18,6%). Manajemen lanjutan yang dilakukan ialah modifikasi diet dan rehabilitasi menelan (78,7%). Simpulan penelitian ini ialah disfagia orofaring sering dialami oleh laki-laki, usia 20-59 tahun, dengan penyebab tersering yaitu pneumonia aspirasi dan RLF. Dengan tindakan FEES dapat ditentukan manajemen lanjutan yaitu dengan modifikasi diet dan rehabilitasi menelan. Kata kunci: disfagia orofaring; gangguan menelan; rehabilitasi menelan
Profil Pasien Dewasa dengan Gangguan Pendengaran di Poliklinik THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Yves Villeneuve; Moudi M. Mona; Steward K. Mengko
e-CliniC Vol. 14 No. 2 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i2.65954

Abstract

Abstract: Hearing loss can affect individuals of all ages and has significant impacts on communication, social functioning, and overall quality of life. Its prevalence continues to rise with advancing age and exposure to various risks factors. This study aimed to obtain the profile of patients with hearing loss at the ENT clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital during the 2023 to 2024 period. This was a descriptive retrospective study using electronic medical record data that met the inclusion criteria. The analyzed variables included age, sex, residence, occupation, diagnosis, type of hearing loss, severity of hearing loss, and management. Data were presented as frequency and percentage distributions. The results obtained a total of 134 patients that met the inclusion criteria. The highest percentages of distribution were adult age group (50.75%), male patients (52.24%), from outside of Manado City (67.16%), occupation as housewife (29.10%), diagnosed as hearing loss (38.81%), followed by chronic suppurative otitis media (21.64%) and impacted cerumen (11.19%). Mixed hearing loss was the predominant type (48.51%), and severe level of hearing loss (34.32%). The most frequent management provided was hearing aids (59.70%). In conclusion, the majority of hearing loss cases were mixed hearing loss with severe level. The majority of patients were male in the adult age group and recieved hearing aids. Keywords: types of hearing loss; mixed hearing loss   Abstrak: Gangguan pendengaran dapat dialami semua kelompok usia dan berdampak pada komunikasi, fungsi sosial, serta kualitas hidup. Prevalensi kondisi ini terus meningkat dengan bertambahnya usia dan paparan faktor risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil pasien gangguan pendengaran pada orang dewasa di Poliklinik THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 2023-2024. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis elektronik pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel yang dianalisis ialah usia, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan, diagnosis, jenis gangguan pendengaran, derajat keparahan, dan penatalaksanaan. Data dipresentasikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan presentase. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 134 pasien yang memenuhi kriteria penelitian. Persentase penyebaran tertinggi didapatkan pada kelompok usia dewasa (50,75%), jenis kelamin laki-laki (52,24%), dan berasal dari luar Kota Manado (67,16%), pekerjaan mengurus rumah tangga (29,10%), diagnosis hearing loss (38,81%), diikuti OMSK (21,64%) dan impacted cerumen (11,19%). Jenis gangguan dominan ialah mixed hearing loss (48,51%) dan keparahan derajat berat (34,32%). Penatalaksanaan terbanyak berupa pemberian alat bantu dengar (59,70%). Simpulan penelitian ini ialah mayoritas gangguan pendengaran yaitu mixed hearing loss dengan derajat keparahan berat. Mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki dalam kelompok usia dewasa dan mendapatkan alat bantu dengar. Kata kunci: jenis gangguan pendengaran; mixed hearing loss