Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PRINSIP DAN KEBIJAKSANAAN KOMUNIKASI PROFETIK ISLAM Alfan Fahmi Al Faqih; Marini; Usman Shabur
Komsospol Vol 2 No 2 (2022): Volume 2 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kotabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam kehidupan manusia sehari-hari antara manusia satu dengan manusia yang lain dihidupkan oleh interaksi melalui komunikasi. Komunikasi profetik merupakan komunikasi yang mengacu kepada pola komunikasi kenabian Muhammad. Paradigma ini merupakan pengembangan dari konsep ilmu sosial profetik (ISP) yang pernah digagas oleh ilmuan Islam kontemporer yakni Kuntowijoyo yang terinspirasi dari Q.S. Al Imran :110. Pienulisan ini biertujuan miengkaji Prinsip kominikasi Profietik yang miembangun dimiensi sosiologis manusia, yaitu hubungan antara manusia satu diengan manusia lainya dalam lingkup kieluarga. Jadi profietik dalam kontieks komunikasi di sini dimaksudkan untuk mienjielaskan makna prinsip komunikasi kienabian dalam pienierapanya di kiehidupan kieluarga. Mietodie yang digunakan pada pienielitian ini adalah diengan mienggunakan corak library riesieach, sierta mietodie yang digunakan adalah mietodie dieskriptif kualitatif. Sumbier primier pada kajian ini adalah buku Komunukasi Profietik: Konsiep dan Piendiekatan. Sumbier siekundier mierupakan buku-buku dan artikiel-artikiel yang bierkaitan diengan pienielitian ini. Hasil dari pienielitian ini ditiemukan prinsip komunikasi profietik tierhadap lingkup kieluarga, yang prinsip itu antara lain: Qaulan layyinan (pierkataan yang liembut), Qaulan kariman (mulia), Qaulan maisuran (bahasa yang mudah dipahami), Qaulan ma'rufan (miengierjakan kiebaikan), Qaulan sadidan (lurus atau adil) Qoulan Balighan (mienggunakan bahasa yang siesuai). Komunikasi Profietik dalam tujuan penulisan disini dimaksudkan untuk mengambil makna prinsip komunikasi kenabian dan dalam penerapanya di kehidupan lingkup keluarga saat ini.
The Politics of Public Finance Al-Mawardi’s Perspective: Al-Ahkam As Sulthaniyah Muhammad Ali Imran Caniago; Usman Shabur; Ibi Satibi
el-Jizya: Jurnal Ekonomi Islam Vol. 12 No. 1 (2024): el-Jizya : Jurnal Ekonomi Islam
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/ej.v12i1.9711

Abstract

This study aims to explore the concept of Al-Mawardi's public loan. This type of research is qualitative with an exploratory approach. Data collection uses the library method. Primary data was obtained from the book Al-Ahkam As Sulthaniyah and secondary data was obtained from several scientific journals and books related to this research. The analysis used is a qualitative analysis involving descriptive and interpretive data exploration. The results of the study show that the book Al-Ahkam As Sulthaniyah discusses state income, state expenditure, and the Baitul Mal. State revenue comes from zakat, ghanimah, and fai'. The state is only allowed to spend the treasures of the baitul mal as long as these expenditures are used for the public good. Al-Mawardi divided the two objectives of allocating Baitul Mal funds: first, for maslahah (benefit) and arfaq (provision of public facilities). Second, for the mandatory function. If the government has an obligation that is a mandatory function, while the funds in the baitul mal are empty, the government may make public loans because it is feared it will cause state chaos. And this policy was never carried out by the Prophet. If the leader dies, the next leader is responsible for repaying the loan.