Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis kesiapan penerapan rekam medis elektronik: Sebuah studi kualitatif Riyanti Riyanti; Arfan Arfan; Eli Zuana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 6 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i6.12867

Abstract

Background: The Ministry of Health of the Republic of Indonesia launched a blueprint for the "2024 Health Digital Transformation Strategy" with the United Nations Development Program (UNDP). The digital transformation strategy focuses on health services for the wider community and is expected to improve the quality of services more evenly throughout Indonesia. With Indonesia's population of around 270 million people, they have the right to receive optimal, easy and informative health services. The 2024 health digital transformation strategy that was launched is also expected to maintain patient safety, reduce hospital costs, both for patients and health facilities, and be able to control health procedures for patients more comprehensively.Purpose: To determine the preparations to implement Electronic Medical Records at Pertamina Bintang Amin Hospital (RSPBA).Method: Qualitative research uses triangulation techniques using observation, interviews and documentation methods. There were 4 contributors to this research information. The key information contributor is the Director of Pertamina Bintang Amin Hospital (RSPBA) and the triangulation information contributors are the Head of Medical Records, Head of IT, and medical records administrator.Results: Pertamina Bintang Amin Hospital (RSPBA) is ready to implement Electronic Medical Records (EMR), with commitment from management, namely the director and a special team formed to implement Electronic Medical Records (EMR). The Director provides full support in the availability of technology, software, hardware and internet networks. The special team formed to implement Electronic Medical Records (EMR) has also carried out outreach and training activities for all users in implementing Electronic Medical Records (EMR), namely the transformation from conventional to electronic with standard operating procedures.Conclusion: Preparations for implementing Electronic Medical Records (EMR) can be carried out at RSPBA with full support from management, stakeholders and the special team that was formed.Suggestion: RSPBA needs to follow up on existing obstacles and carry out regular monitoring, evaluation and monitoring as well as provide feedback to related parties such as users and teams from third parties as partnersKeywords: Electronic Medical Records (EMR); Health Services; Preparation; Standard Operating Procedures Pendahuluan: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia meluncurkan blue print atau cetak biru “Strategi Transformasi Digital Kesehatan 2024” bersama United Nations Development Programme (UNDP). Strategi transformasi digital fokus terhadap pelayanan kesehatan untuk masyarakat luas dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan yang lebih merata di seluruh Indonesia.Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 270 juta jiwa berhak mendapatkan layanan kesehatan yang optimal, mudah, dan informatif. Strategi transformasi digital kesehatan 2024 yang diluncurkan juga diharapkan dapat menjaga keselamatan pasien, biaya rumah sakit yang lebih murah, baik untuk pasien dan fasilitas kesehatan, serta dapat mengontrol prosedur kesehatan untuk pasien yang lebih komprehensif.Tujuan: Untuk mengetahui kesiapan penerapan Rekam Medis Elektronik di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin (RSPBA) .Metode: Penelitian kualitatif menggunakan teknik triangulasi dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Kontributor informasi penelitian ini berjumlah 4 orang. Sebagai kontributor informasi kunci adalah Direktur Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin (RSPBA) dan kontributor informasi triangulasi adalah Kepala Rekam Medis, Kepala IT, dan pelaksana rekam medis.Hasil: Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin (RSPBA) siap melakukan penerapan RME, dengan adanya komitmen dari manajemen yaitu direktur dan tim khusus yang dibentuk dalam penerapan RME. Direktur memberikan dukungan penuh tersedianya teknologi, software, hardware dan jaringan internet. Tim khusus yang dibentuk dalam penerapan RME juga sudah menjalankan kegiatan sosialisasi dan pelatihan kepada semua user dalam penerapan RME yaitu transformasi dari konvensional ke elektronik dengan SPO.Simpulan: Persiapan penerapan RME dapat dijalankan di RSPBA dengan dukungan penuh dari manajemen, pemangku kepentingan dan tim khusus yang dibentuk.Saran: RSPBA perlu menindaklanjuti kendala yang ada dan melakukan monitoring, evaluasi, dan pemantauan secara rutin serta memberikan umpan balik kepada pihak terkait seperti user dan tim dari pihak ke tiga sebagai mitra 
Pengaruh Hygiene dan Individu Terhadap Motivasi dan Dampaknya Pada Kinerja Dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Ragab Begawe Caram Angga Wahyu Tri Wibowo; Samino Samino; Eli Zuana; Riyanti Riyanti; Christin Angelina F
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.49194

Abstract

Rendahnya pencapaian indikator kinerja rumah sakit, terutama dalam hal waktu tunggu pelayanan dan kepatuhan prosedural, yang mengindikasikan adanya permasalahan pada aspek motivasi dan lingkungan kerja tenaga medis yakni dokter. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh hygiene dan individu terhadap motivasi serta dampaknya pada kinerja dokter di Rumah Sakit. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 38 orang dengan teknik total sampling dengan Instrumen lembar kuesioner dengan skala Likert untuk mengukur variabel hygiene, individu, dan motivasi, serta data sekunder berupa hasil penilaian kinerja (OPPE). Analisis data dilakukan dengan uji jalur (path analysis). Hasil penelitian bahwa terdapat pengaruh signifikan hygiene dan individu terhadap motivasi kerja dokter. Motivasi juga berpengaruh positif terhadap kinerja, dan berperan sebagai variabel mediasi dalam hubungan antara hygiene dan individu terhadap kinerja. Faktor yang paling dominan memengaruhi kinerja dokter adalah motivasi. Peningkatan faktor-faktor motivasi internal dan eksternal perlu menjadi fokus dalam strategi manajemen SDM rumah sakit guna meningkatkan kualitas layanan medis secara menyeluruh.
Konseling keluarga berencana pada pasangan usia subur sebagai upaya mewujudkan keluarga sehat dan sejahtera Eli Zuana; Clara Puspita; Dhiny Easter Yanti; Khoidar Amirus; Yuni Nurpela; Arini Rahmawati; Intan Obella; Eka Fitri Yana; Mutiara Adelia Putri; Mita Julpiana; Leoni Agustia Ratna Intan
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.3900

Abstract

Background: Family Planning (KB) is a government program aimed at improving reproductive health, controlling birth rates, and fostering healthy, prosperous families. Challenges to the program's success include limited public knowledge regarding contraceptive methods, persistent myths about family planning, and a lack of partner involvement in decision-making. Therefore, counseling activities for couples of reproductive age are essential to enhance public understanding and awareness regarding the importance of the Family Planning program. Purpose: To increase public knowledge and awareness regarding the importance of the Family Planning program. Method: Counseling activities were conducted in the Langkapura District, Bandar Lampung, from May 16 to June 5, 2026, involving 40 respondents selected via purposive sampling. Data were collected using a questionnaire measuring respondents' knowledge levels regarding the Family Planning program and subsequently analyzed descriptively using SPSS software. Results: Showed that the mean age of respondents was 34.43 years, with the majority (15 respondents or 37.5%) falling within the 30–39 age range. Most respondents (26 or 65.0%) demonstrated a good level of knowledge regarding family planning, while 14 respondents (35.0%) possessed a fair level of knowledge; no respondents fell into the "poor knowledge" category. Following the counseling, respondents demonstrated improved understanding regarding the benefits of family planning, types of contraceptives, side effects, and the crucial role of husbands in supporting the program's success. Conclusion: Family planning (FP) counseling is effective in increasing knowledge regarding contraceptive methods among couples of reproductive age. Enhanced understanding of contraception positively impacts the fostering of awareness and the management of family health specifically concerning recommended birth spacing and the prevention of side effects associated with hormonal contraceptives. Suggestion: Continuous education and counseling are expected to reduce public misconceptions, improve the selection of appropriate contraceptive methods, and support the realization of healthy, prosperous, and high-quality families. Keywords: Contraceptive methods; Counseling; Couples of reproductive age; Family planning Pendahuluan: Keluarga Berencana (KB) merupakan program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi, mengendalikan angka kelahiran, serta mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai metode kontrasepsi, masih berkembangnya mitos tentang KB, serta kurangnya keterlibatan pasangan dalam pengambilan keputusan menjadi tantangan dalam keberhasilan program tersebut. Oleh karena itu, kegiatan konseling kepada pasangan usia subur (PUS) diperlukan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya program Keluarga Berencana (KB). Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya program Keluarga Berencana (KB). Metode:  Kegiatan konseling dilaksanakan di wilayah Kecamatan Langkapura, Bandar Lampung pada tanggal 16 Mei–5 Juni 2026 dengan melibatkan 40 responden yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang mengukur tingkat pengetahuan responden mengenai program Keluarga Berencana, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan program SPSS. Hasil: Menunjukkan bahwa usia rata-rata responden adalah 34.43 tahun dan mayoritas berada direntang usia 30-39 tahun yaitu sebanyak 15 responden (37.5%). Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 26 responden (65.0%) mengenai keluarga berencana, sedangkan 14 responden (35.0%) memiliki tingkat pengetahuan cukup. Tidak terdapat responden dengan kategori pengetahuan kurang. Setelah mengikuti konseling, responden menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai manfaat KB, jenis-jenis kontrasepsi, efek samping, serta pentingnya peran suami dalam mendukung keberhasilan program KB. Simpulan: Kegiatan konseling keluarga berencana (KB) efektif meningkatkan pengetahuan tentang media kontrasepsi pada pasangan usia subur (PUS). Meningkatnya pemahaman tentang kontrasepsi memberikan dampak positif dalam menumbuhkan kesadaran dan mengelola kesehatan keluarga khususnya mengenai jarak kehamilan yang dianjurkan dan mencegah efek samping KB hormonal. Saran: Edukasi dan konseling yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan mampu mengurangi kesalahpahaman masyarakat, meningkatkan pemilihan media kontrasepsi yang tepat, serta mendukung terwujudnya keluarga yang sehat, sejahtera, dan berkualitas.