Hikmatun Ni’mah
Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pra Desain Pabrik Pembuatan Biometan dan PCC dari Vinasse Limbah Pabrik Bioetanol Dinda Bazliah; Safitri Wulansari; Hikmatun Ni’mah; Firman Kurniawansyah
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v1i1.12727

Abstract

Berdasarkan Indonesia Energy Outlook 2018, data cadangan energi fosil pada tahun 2016 yaitu 338 juta barel minyak bumi, 144,06 TCF gas dan 14,3 miliar ton batubara. Namun di sisi lain, energi fosil tersebut merupakan energi yang tidak terbarukan. Dengan laju pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) rata-rata 6,9% per tahun, kebutuhan energi pada tahun 2050 dapat naik menjadi 7,6 kali lipat terhadap kebutuhan energi tahun 2014. Di masa depan, pengembangan energi akan bergeser dari energi berbasis fosil menjadi energi baru terbarukan (EBT). Salah satu energi baru terbarukan adalah biomethane atau biogas yang dihasilkan oleh bakteri apabila bahan organik (vinasse) mangalami proses fermentasi dalam reaktor (biodigester) dalam kondisi anaerob yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan, menghasilkan listrik, dan bahan bakar gas engine untuk industri. Dengan mendirikan pabrik biomethane (biogas) bisa menjawab dua permasalahan negara ini yaitu menyediakan energi baru terbarukan yang didukung oleh Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 21 Tahun 2016 tentang Pembelian Tenaga Listrik Dari Pembangkit Listrik Tenaga Biogas oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1129. CO2 yang merukapan produk samping dari produksi biomethane dapat digunakan langsung pada produksi PCC. PCC merupakan kalsium karbonat yang dihasilkan dari proses presipitasi dengan kemurnian yang tinggi (99,38%). Proses pembuatan Biomethane dari limbah vinasse ada lima tahap, yaitu tahap pre-treatment, tahap digester, tahap pemurnian dari H2S, pengeringan PCC dan penyimpanan. Kemurnian biomethane yang dihasilkan yaitu 82,47%. Lokasi pabrikdirencanakan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Untuk dapat mendirikan pabrik Pembuatan Biomethane dan PCC dari Vinasse Bioetanol diperlukan total modal investasi sebesar Rp 16.564.532.211.167. Dari perhitunan analisa ekonomi didapat internal rate of return (IRR) sebesar 23,45%, pay out time (POT) 4 tahun 4 bulan dan break even point (BEP) sebesar 33,65%.
Studi Pendirian Pabrik Natrium Sulfat dengan Proses Mannheim Nita Rahayu Dewi R.S.; Yanuar Ananda Putri R.; Hikmatun Ni’mah; Achmad Roesyadi
Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Journal of Fundamentals and Applications of Chemical Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2964710X.v1i1.12725

Abstract

Natrium sulfat (Na2SO4) merupakan garam berwujud padatan atau kristal berwarna putih atau tidak berwarna. Natrium sulfat terdapat dalam bentuk hidrat (berikatan dengan H2O), yaitu garam dekahidrat dan di alam berbentuk natrium sulfat anhidrat berupa mineral thenardite dan mirabilite. Sumber utama pembuatan natrium sulfat ada dua macam, yaitu secara alami (dari natural source) dan secara sintetik dari industri kimia. Penggunaan natrium sulfat di lingkungan industri cukup banyak, yaitu pada industri pulp kraft, detergent, tekstil, farmasi, gelas, dll. Dalam pembuatan natrium sulfat secara sintetik, terdapat dua proses yang sering digunakan, yaitu melalui proses dengan bahan baku SO2 dan H2O (proses Hargreaves-Robinson), serta proses dengan bahan baku H2SO4 dan NaCl (proses Mannheim). Dalam melakukan pemilihan proses, dipilih proses Mannheim, karena secara aspek teknis dan ekonomis, proses Mannheim lebih mudah dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Dalam proses Mannheim, asam sulfat pekat direaksikan dalam furnace bersuhu 800oC. Na2SO4 yang dihasilkan dari reaksi tersebut dipisahkan dari kotorannya dengan menambahkan soda lime dan soda abu. Kemudian dikristalisasi dan dikeringkan dalam rotary dryer. Pabrik direncanakan beroperasi secara kontinu 24 jam selama 330 hari per tahun operasi. Pabrik natrium sulfat ini direncanakan mulai dibangun pada tahun 2020 di Sampang, Madura yang dekat dengan kebutuhan bahan baku dan kelancaran pemasaran. Modal diperoleh dengan perbandingan 60% modal sendiri dan 40% modal pinjaman. Berdasarkan analisa teknis dan ekonomi yang telah dilakukan, maka pabrik natrium sulfat ini layak didirikan.