Henny Rosalinda
Universitas Brawijaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Multicultural Coexistence Migran Brazil di Hamamatsu, Jepang, sebagai Respon terhadap Krisis Ekonomi Global 2008 Henny Rosalinda
Jurnal Transformasi Global Vol. 1 No. 1 (2014): Transformasi Global (JTG)
Publisher : Department of International Relations, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/jtg.v1i1.13

Abstract

Abstract             The research aims to investigate the effect of the 2008 economic crisis on the Brazilian migrant who are of Japanese descendants (Nikkeijin or Nikkei) in Hamamatsu Shizuoka Province, Japan. The global economic crisis in 2008 has caused socio-economic consequences. The research method was conducted by using literature reviews, interviews, and direct observation in the field which can be grouped under three main topics: multicultural policy (Hamamatsu City Hall International Section; Multicultural Centre), education (Collegio Pitagoras, Mundo de Alegria; Foreign Resident Study Support Centre; Catholic Hamamatsu Church), and responses of Nikkei (NPO Brazil Fureiai-kai; Servitu Import Shop).The result shows that as a direct consequence of the global financial crisis of 2008, up to 60% of Nikkei workers in Hamamatsu have found themselves unemployed and in a considerably unstable financial condition. This has resulted in the loss of educational opportunities for the children of the Nikkei. Consequently, future prospect of employmentfor their children becomes severe and this runs the risk of becoming a vicious cycle for the generations to come. Keywords:  economic crisis 2008, migrant worker, multicultural coexistence
Strategi Kebijakan Luar Negeri Arab Saudi: Analisis Respons terhadap Moratarium Pekerja Migran Indonesia 2011 Josephira Carla Karenina; Henny Rosalinda
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol. 11 No. 1 (2026): February-April 2026, Saintek, Soial and Humanities
Publisher : Universitas Syiah Kuala and Collaboration Yayasan Yusda Edu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/sejarah.v11i1.558

Abstract

Artikel ini menganalisis proses pengambilan keputusan kebijakan luar negeri Arab Saudi dalam merespons moratorium pengiriman pekerja migran Indonesia tahun 2011 menggunakan kerangka teoretis Graham T. Allison. Moratorium yang diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 Juni 2011 sebagai respons terhadap eksekusi Ruyati binti Satubi dipersepsikan Arab Saudi sebagai ancaman terhadap kedaulatan domestik dan kontrol atas sistem kafala. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode archival and document-based research dengan data primer berupa dokumen resmi pemerintah, pernyataan diplomatik, dan laporan organisasi internasional, serta data sekunder dari media dan jurnal akademik. Analisis menggunakan teknik pattern matching untuk mencocokkan pola empiris dengan prediksi teoretis dari tiga model Allison: Rational Actor Model, Organizational Process Model, dan Governmental Politics Model. Temuan menunjukkan bahwa respons Arab Saudi berupa counter-ban yang diumumkan sembilan hari setelah moratorium Indonesia, diversifikasi sumber tenaga kerja ke Bangladesh, India, dan Sri Lanka, serta resistensi terhadap reformasi kafala merupakan hasil dari proses pengambilan keputusan yang melibatkan kalkulasi rasional untuk mempertahankan status quo, aktivasi Standard Operating Procedures birokrasi, dan bargaining politik antara aktor kunci dengan kepentingan berbeda. Penelitian ini berargumen bahwa kebijakan Arab Saudi bersifat defensif, dirancang untuk melindungi kedaulatan domestik dan menolak tekanan eksternal sambil mempertahankan pengakuan normatif. Kontribusi teoretis penelitian ini adalah mengaplikasikan kerangka Allison pada kasus kebijakan migrasi tenaga kerja yang selama ini diabaikan dalam literatur foreign policy decision-making, serta memberikan wawasan praktis bagi strategi negosiasi Indonesia di masa depan