Mohammad Fatkhul Mubin
University Muhammadiyah Semarang

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Overview of Fall Risk and Pain Levels in Elderly Patients with Knee Osteoarthritis in General Hospital Avriza Byan Antama Putri; Edy Soesanto; Mohammad Fatkhul Mubin; Ernawati Ernawati
Media Keperawatan Indonesia Vol 7, No 4 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/mki.7.4.2024.327-334

Abstract

Knee osteoarthritis is a degenerative disease that is often experienced by the elderly, causing pain and increasing the risk of falls, which has a significant impact on quality of life. This study aims to describe the risk of falls and pain levels in elderly people with knee osteoarthritis in general hospitals. This research uses a descriptive design with a cross sectional approach. Data collection was carried out by studying medical records and interviews from 150 elderly patients suffering from knee osteoarthritis. The risk of falling was measured using the Morse Falls Scale, while the level of pain was measured using the Numeric Rating Scale. The results showed that 49.3% of patients had a low risk of falling and 56.7% experienced mild pain. The majority of patients were aged 71-90 years, with 78.7% of them being women. This study shows that the majority of elderly patients with knee osteoarthritis have a low risk of falls and mild to moderate levels of pain, with age and gender playing an important role in the prevalence of this condition.
Penerapan terapi thought stopping untuk menurunkan tingkat kecemasan pada pasien hipertensi Novita Sri Mulyati; Mohammad Fatkhul Mubin; Eni Hidayati
Holistic Nursing Care Approach Vol 6, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/hnca.v6i1.19021

Abstract

Kecemasan merupakan salah satu masalah psikologis yang sering dialami oleh pasien hipertensi. Kondisi ini dapat memicu berbagai gangguan fisik seperti peningkatan tekanan darah, gangguan tidur, hingga menurunnya kualitas hidup. Jika tidak segera ditangani, kecemasan dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Oleh karena itu, penanganan kecemasan pada pasien hipertensi perlu mendapat perhatian khusus, salah satunya melalui pendekatan nonfarmakologis. Salah satu terapi nonfarmakologis yang dapat diterapkan adalah terapi thought stopping, yaitu teknik kognitif yang bertujuan untuk menghentikan pikiran negatif secara sadar. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pemberian terapi thought stopping terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien dengan hipertensi. Studi kasus ini menerapkan terapi thought stopping dalam proses asuhan keperawatan pada subjek studi kasus yang mengalami kecemasan. Kecemasan yang dialami oleh pasien hipertensi diukur menggunakan skala kecemasan Self-Reporting Questionnaire (SRQ). Setelah dilakukan implementasi terdapat penurunan skala kecemasan Self-Reporting Questionnaire (SRQ) pada subjek studi kasus 1 dari 10 menjadi 5 serta subjek studi kasus 2 dan 3 dari 8 menjadi 4. Rerata penurunan skor kecemasan pada ketiga subjek studi kasus sebesar 4,3 poin. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi thought stopping mampu menurunkan kecemasan pada pasien hipertensi.
Analisis Konsep Kurang Tidur sebagai Pemicu Hipertensi dan Microsleep: Pendekatan Concept Analysis Gladys Maristela Rawung; Nurul Auliyah; Siti Aisah; Satriya Pranata; Mohammad Fatkhul Mubin; Aric Vranada
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 6 (2025): Desember 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i6.908

Abstract

Kurang tidur merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang berdampak signifikan terhadap fungsi kardiovaskular dan neurologis. Durasi tidur yang tidak adekuat (<7 jam/malam) terbukti meningkatkan risiko hipertensi dan microsleep, dua kondisi yang berimplikasi serius terhadap keselamatan dan kesejahteraan. Pemahaman konseptual yang komprehensif diperlukan untuk mengklarifikasi atribut, anteseden, serta konsekuensi kurang tidur dalam konteks praktik keperawatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan concept analysis berdasarkan kerangka Walker dan Avant. Pencarian literatur dilakukan secara sistematis melalui tiga basis data utama—PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar—pada periode September hingga November 2024, dengan kombinasi kata kunci “sleep deprivation”, “short sleep duration”, “hypertension”, dan “microsleep”. Dari 287 artikel yang ditemukan (95 PubMed, 112 ScienceDirect, 80 Google Scholar), sebanyak 45 artikel memenuhi kriteria inklusi setelah proses skrining bertahap (title/abstract, full-text), eliminasi duplikasi, dan penilaian kualitas menggunakan Newcastle–Ottawa Scale serta AMSTAR 2. Analisis mengidentifikasi empat atribut utama kurang tidur, yaitu durasi tidur inadekuat, ketidaksesuaian fisiologis, pola temporal akut atau kronis, dan akumulasi sleep debt. Anteseden utama mencakup faktor okupasional, perilaku, dan lingkungan. Kurang tidur berkontribusi terhadap peningkatan risiko hipertensi sebesar 20–32% melalui aktivasi simpatis dan disregulasi aksis HPA, serta meningkatkan frekuensi microsleep setelah 17–19 jam terjaga. Kurang tidur merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi dengan implikasi klinis signifikan pada kesehatan kardiovaskular dan keselamatan. Temuan ini menegaskan pentingnya peran perawat dalam deteksi dini, edukasi higiene tidur, dan pengembangan intervensi multi-level berbasis bukti untuk pencegahan dan pengelolaan risiko.
Penerapan Senam Ergonomik terhadap Kadar Asam Urat pada Lansia dengan Gout Arthritis Ma&#039;ruf Aji Nugroho; Tri Nurhidayati; Mohammad Fatkhul Mubin
Ners Muda Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v6i3.17638

Abstract

Asam urat atau gout arthritis terjadi karena peningkatan kadar asam urat atau hiperurisemia sehingga kristal di persendian menumpuk. Senam ergonomik adalah teknik untuk mengembalikan saraf dan aliran darah dan sistem pembakaran asam urat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penerapan senam ergonomik terhadap kadar asam urat pada lansia dengan gout arthritis. Metode pada penelitian ini yaitu studi kasus atau case study dengan subjek penelitian adalah lansia dengan gout arthritis di Ruang Rawat Inap RSUP Dr. Kariadi Semarang. Variabel dependen penelitian ini adalah kadar asam urat, sedangkan variabel independen adalah senam ergonomik. Instrumen penelitian ini adalah nilai kadar asam urat dari World Health Organization (WHO) dan Kemenkes. Pengelolaan data yang diperoleh dianalisis untuk mengetahui penurunan kadar asam urat. Rata-rata kadar asam urat sebelum dan setelah intervensi senam ergonomik menunjukan bahwa terdapat penurunan kadar asam urat dari ketiga subjek. Rerata asam urat menunjukan penurunan sebesar 6,3 mg/dL atau sebesar 55%. Rata-rata kadar asam urat sebelum senam ergonomik sebesar 11,6 mg/dL dan setelah senam errgonomik selama 3 kali pertemuan menjadi 6,3 mg/dL. Senam ergonomik yang diberikan selama 3 kali dengan durasi 15 menit setiap pertemuan efektif menurunkan kadar asam urat pada lansia dengan gout arthritis. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber penelitian senam ergonomik selanjutnya, serta menambah informasi khususnya lansia agar mencegah tingginya kadar asam urat.
Penerapan terapi self-talk untuk menurunkan tingkat stress pada remaja korban broken home Erma Khofifah; Mohammad Fatkhul Mubin; Eni Hidayati
Holistic Nursing Care Approach Vol 6, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/hnca.v6i2.15683

Abstract

Broken home sangat berpengaruh pada psikologis anak, dimana anak sebagai korban dari perceraian orang tuanya cenderung berperilaku impulsif atau mengalami masalah kesehatan jiwa khususnya pada remaja akan mengalami stress. Stress merupakan bentuk penyesuaian diri dimana individu tidak mampu mengatasi masalahnya, maka dapat memunculkan gangguan fisik, perilaku, perasaan hingga gangguan jiwa dengan berbagai faktor seperti frustasi, konflik, tekanan, serta krisis. Salah satu terapi nonfarmakologi yang dapat menurunkan tingkat stress adalah terapi self-talk. Tujuan studi kasus ini adalah melakukan penerapan terapi self-talk terhadap stress pada remaja yang mengalami broken home. Metode studi kasus ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan. Subjek studi kasus berjumlah 3 orang dengan kriteria inklusi yaitu remaja yang mengalami broken home, usia 10-21 tahun, memiliki gejala ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi negatif seperti mudah marah, minder. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat stress adalah kuesioner Depression, Anxiety, Stress Scale (DASS-42). Intervensi terapi self-talk dilakukan selama 2 minggu sebanyak 5x pertemuan dalam waktu 30 menit. Hasil penerapan menunjukkan adanya penurunan tingkat stress pada ketiga subyek studi. Rata-rata penurunan tingkat stress dari ketiga subyek studi yaitu 11. Terapi self-talk menjadi salah satu terapi komplementer yang efektif untuk menurunkan tingkat stess pada remaja korban broken home.
The Relationship Between Social Support and Family Coping among Patients with Schizophrenia Revid Armirun Royani; Mohammad Fatkhul Mubin; Ghairini Sumbaga Narhadina
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 8 No. 6 (2026): Indonesian Journal of Global Health Research: December 2026
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v8i6.2304

Abstract

Schizophrenia is a severe mental disorder of global concern because of its high prevalence. Family support is essential in the care of patients with schizophrenia, especially in facilitating adaptive coping with psychological stress. Study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. Data were collected using the MSPSS and the Brief COPE questionnaires. The collected data were subsequently analyzed using the SPSS. The majority of respondents were male (55.7%), aged 46–55 years (29.6%), self-employed (49.6%), married (92.2%), and were the patients’ parents (35.7%). Bivariate analysis using the Spearman Rank correlation test revealed a significant association between social support and family coping (p < 0.05; r = 0.631), indicating a strong correlation. The higher the level of social support received by the family, the more adaptive the coping mechanisms used in caring for patients with schizophrenia, which may contribute to improved patient quality of life.