Broken home sangat berpengaruh pada psikologis anak, dimana anak sebagai korban dari perceraian orang tuanya cenderung berperilaku impulsif atau mengalami masalah kesehatan jiwa khususnya pada remaja akan mengalami stress. Stress merupakan bentuk penyesuaian diri dimana individu tidak mampu mengatasi masalahnya, maka dapat memunculkan gangguan fisik, perilaku, perasaan hingga gangguan jiwa dengan berbagai faktor seperti frustasi, konflik, tekanan, serta krisis. Salah satu terapi nonfarmakologi yang dapat menurunkan tingkat stress adalah terapi self-talk. Tujuan studi kasus ini adalah melakukan penerapan terapi self-talk terhadap stress pada remaja yang mengalami broken home. Metode studi kasus ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan. Subjek studi kasus berjumlah 3 orang dengan kriteria inklusi yaitu remaja yang mengalami broken home, usia 10-21 tahun, memiliki gejala ketidakmampuan dalam mengendalikan emosi negatif seperti mudah marah, minder. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat stress adalah kuesioner Depression, Anxiety, Stress Scale (DASS-42). Intervensi terapi self-talk dilakukan selama 2 minggu sebanyak 5x pertemuan dalam waktu 30 menit. Hasil penerapan menunjukkan adanya penurunan tingkat stress pada ketiga subyek studi. Rata-rata penurunan tingkat stress dari ketiga subyek studi yaitu 11. Terapi self-talk menjadi salah satu terapi komplementer yang efektif untuk menurunkan tingkat stess pada remaja korban broken home.
Copyrights © 2026