Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Spatial Concept of Baluarti Keraton Kacirebonan Ratna Puspita Dewi; Peri Puarag
International Journal of Education, Language, Literature, Arts, Culture, and Social Humanities Vol. 2 No. 1 (2024): February : International Journal of Education, Language, Literature, Arts, Cult
Publisher : FKIP, Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/ijellacush.v2i1.706

Abstract

The Kacirebonan Palace in Cirebon City, known for its Javanese culture, houses a unique settlement surrounded by the Balutanti Fort. Baluarti Keraton Kacirebonan blends Chinese, Colonial, and Traditional-era buildings, preserving Javanese customs and procedures. However, challenges such as lack of authority, unclear preservation concepts, reliance on government subsidies, conflicts of interest, and low community participation hinder its preservation. This study uses Combined Strategies, combining Historical Research and Qualitative Research, to analyze objects from the past and examine their relationship with architectural design. Data sources include inscriptions, writings, and local experiences. Palaces often change over time, maintaining their architectural style by comparing new buildings with old ones. The roof shape, openings, and columns of new buildings often resemble those of the old building. The chessboard pattern, used for small towns with defense, agriculture, and trade functions, is also prevalent. Social factors and cultural influences significantly influence the spatial layout of a settlement. The Kacirebonan Palace complex, located southwest of Kasepuhan Palace and 500 meters south of Kanoman Palace, spans 46,500 square meters and features a Chinese-mixing style, Colonial, and Traditional era building. Baluarti settlement, part of the palace area, has a grid pattern with small, narrow roads, following the Palace's tradition. Baluarti, a Javanese settlement, is a residence for nobles, high-ranking priyayi, and courtiers of the Kacirebonan Palace. The settlement is characterized by a magersari system, where the king gives land for Abdidalem''s residence. The social status of the Baluarti community is derived from its family line, with most citizens having titles obtained from the king. Keraton Kacirebonan''s architecture blends Colonial, Chinese, and Javanese styles, while religious beliefs, social status, and the traditional magersari system influence the Baluarti settlement's layout.
PELUANG OBYEK DAN DAYA TARIK PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT DI DESA MANIS KIDULKECAMATAN JALAKSANA-KUNINGAN Puarag, Peri; Ari Wibowo, Toni
Jurnal Pariwisata Prima Vol. 1 No. 1 (2023): SEPTEMBER
Publisher : P2PKM Politeknik Pariwisata Prima Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Manis kidul terdiri dari lima (5) dusun yang terdapak di Kecamatan Jalaksana kabupaten Kuningan, dimana memiliki potensi obyek dan daya tarik wisata yang dapat menjadi peluang dalam kegiatan pariwisata dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk potensi obyek dan daya tarik wisata yang dapat dijadikan sebagai peluang desa Manis Kidul menjadi desa wisata di kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan.  Selain itu juga untuk mengetahui profil sosial, ekonomi dan budaya di desa Manis Kidul dalam menggali potensi yang terdapat dimasyarakat. Penelitian ini akan menghasilkan potensi-potensi obyek dan daya tarik wisata yang terdapat di desa Manis Kidul melalui observasi, wawancara termasuk juga akan menghasilkan profil sosial, ekonomi dan budaya masyarakat desa Manis Kidul melalui studi dokumentasi dan wawancara. Kegiatan wawancara untuk mempeproleh data dilakukan dengan kepada desa (Kuwu) Manis Kidul, tokoh masyarakat serta masyarakat yang ada di Mannis kidul yang telah ditentukan oleh peneliti. Hasil observasi, wawancara dan dokumentasi akan dianalisis dengan SWOT analisis untuk melihat peluang pariwisata yang terdapat di desa Manis Kidul berdasarkan attraction (daya tarik), accesable (sistem dicapai), amenities (fasilitas), ancillary (lembaga pariwisata) dan akan dideskriptifkan secara kualitatif peluang pariwisata yang dapat dikembangkan di desa Manis Kidul. Peluang-peluang pariwisata yang terdapat di desa Manis Kidul diharapakan dapt berkontribusi terhadap pemberdayaan masyarakat sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat desa Manis Kidul dan juga sebagai pendukung pariwisata berbasis masyarakat (community based tourism/CBT) bagi kabupaten Kuningan.
ANALISIS PERSPEKTIF PENGENALAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI KOTA CIREBON MENGGUNAKAN ENGLISH STORYTELLING Annisaa Eka Warliati; Peri Puarag
Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah Vol 19, No 1 (2025): Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47256/kji.v19i1.704

Abstract

AbstractIn the city of Cirebon, there are cultural heritage sites that have their own unique characteristics at each location. The introduction of cultural heritage sites in Cirebon City can be done through multilingual approaches, such as using English as the medium for delivering information through visualization or literacy. The purpose of this research is to introduce cultural heritage buildings in the city of Cirebon through English storytelling. The research locations are Goa Sunyaragi, Keraton Kasepuhan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, and the BAT Building (British America Tobacco). This research uses a qualitative method with the distribution of questionnaires to 17 respondents who are students of the Diploma IV Convention and Event Management at Politeknik Pariwisata Prima Internasional. The sampling technique used is purposive sampling with predetermined samples. From the highest percentage result, 58.8% of respondents strongly agreed that using storytelling techniques can provide insights into the history of a cultural heritage site in the city of Cirebon. Additionally, by using storytelling, respondents can improve their skills in storytelling English and feel pleased with the storytelling technique, achieving  percentage result of 47.1%. Thus, results of research using storytelling are expected to help introduce cultural heritage sites in the city of Cirebon.Keywords: Cultural Heritage; Tourism; English StorytellingAbstrakDi Kota Cirebon terdapat sejumlah cagar budaya yang memiliki keunikan masing-masing di setiap lokasinya. Pengenalan terhadap cagar budaya di Kota Cirebon dapat dilakukan melalui pendekatan lintas bahasa, salah satunya menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam penyampaian informasi, baik secara visual maupun literasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkenalkan bangunan cagar budaya di Kota Cirebon melalui metode English storytelling. Lokasi penelitian mencakup Goa Sunyaragi, Keraton Kasepuhan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, dan Gedung BAT (British American Tobacco). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan penyebaran kuesioner kepada 17 responden yang merupakan mahasiswa Program Diploma IV Pengelolaan Konvensi dan Acara Politeknik Pariwisata Prima Internasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Berdasarkan hasil kuesioner, sebanyak 58,8% responden sangat setuju bahwa penggunaan teknik storytelling dapat memberikan wawasan mengenai sejarah cagar budaya di Kota Cirebon. Selain itu, 47,1% responden menyatakan bahwa storytelling dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam bercerita menggunakan Bahasa Inggris serta memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa teknik storytelling dalam Bahasa Inggris dapat menjadi upaya strategis dalam memperkenalkan cagar budaya di Kota Cirebon.Kata Kunci: Cagar Budaya; Pariwisata; English Storytelling