Juli Rochmijati Wuliandari
Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jalan KH. Ahmad Dahlan, Banyumas, Jawa Tengah 53182

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Respon Imun Non-Spesifik Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) yang Diberi β-Glukan Melalui Diet Pakan Cahyono Purbomartono; Yusuf Aditya; Dini Siswani Mulia; Juli Rochmijati Wuliandari; Arif Husin
Sainteks Vol 17, No 2 (2020): Oktober
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/sainteks.v17i2.8970

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio L.) merupakan  ikan air tawar yang  banyak dibudidayakan di Jawa Barat dan memiliki harga jual yang relatif tinggi sehingga banyak dibudidayakan secara intensif. Tingginya padat tebar dan konsumsi pakan pada budidaya intensif menyebabkan penurunan kualitas air akibat timbunan sisa pakan dan  ekskresi ikan, menimbulkan stress sehingga ikan mudah terserang penyakit. Penyakit yang sering menyerang ikan air tawar adalah Motile Aeromonas Septicemia (MAS), disebabkan oleh Aeromonas hydrophila. Untuk mengatasinya, pada umumnya dilakukan pengobatan dengan antibiotik, namun dapat mengakibatkan resistensi bakteri sehingga perlu alternatif lain. Salah satu alternatif adalah penggunaan ß-glucan dari ekstraksi ragi roti Saccaromyces cerevisiae untuk meningkatkan imunitas ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan β-glucan terhadap respon imun non-spesifik pada ikan mas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri atas 5 perlakuan dan 3 ulangan. Dosis ß-glucan yang digunakan 0 g, 2,5 g, 5 g, 7,5 dan 10 g per kg pakan. Parameter yang diamati yaitu diferensial leukosit meliputi persentase limfosit, monosit dan neutrofil serta aktivitas fagositosis. Analisis data menggunakan Analisis of Varians (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk melihat pengaruh antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ß-glucan melalui pakan berpengaruh signifikan terhadap persentase limfosit, peresentase neutrofil dan aktivitas fagositosis namun tidak berpengaruh signifikan terhadap persentase monosit. Dosis optimum untuk meningkatkan respon imun non-spesifik ikan mas yaitu 5 g/kg pakan.
Surveilans Aedes aegypti Menggunakan Ovitrap di Desa Endemis Demam Berdarah Kabupaten Banyumas Juli Rochmijati Wuliandari; Dini Siswani Mulia; Susanto Susanto
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol 11, No 2 (2023): December
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v11i2.9465

Abstract

Entomological surveillance is essential to evaluate the abundance and distribution of Aedes aegypti mosquito, the dengue virus’s primary vector. This study investigates the abundance and distribution of Aedes spp collected with ovitraps in Mersi and Ledug, Purwokerto Timur, Banyumas. Both localities are identified as dengue endemic areas by the Banyumas’ Health Service. Ovitrap surveillances were performed every two weeks in Mersi and Ledug, in January – March 2022. For each localitiy, 50 respondent houses were randomly selected and 5 ovitrap surveillance trips were conducted. In each trip, 100 ovitraps were distributed to 50 respondent houses. At every single house, one ovitrap was placed inside the house (indoor) and one outside the house (outdoor). All samples collected were transported to and reared at Zoology laboratory, UMP. Mosquito larvae were identified to species at instar IV and totaled. The OPI (Ovitrap positivity index) for both indoor and outdoor ranged from 38,00% - 59,70%. The mean number of larvae for Mersi outdoor (612,50±109,73) was higher than Mersi indoor (478,80±42,96) p= .031 and Ledug indoor (347,20±45,04) p= .000, but not significantly different from Ledug outdoor (507,20±51,07) p= .109. There was no significant difference for EDI (egg density index) in the four ovitrap placements, F(3,16) = 1.132, p= .366. However, the MNE (mean number of eggs) showed a significant difference for Mersi and Ledug both indoor and outdoor F(3,16) = 14.528, p= .000. Conclusion: The OPI showed that the distribution of Aedes spp in Mersi and Ledug was high. Ae. aegypti and Ae. albopictus were found as both outdoor and indoor breeder although Ae. aegypti was found to be the dominant both as indoor and outdoor breeder.