Eklefina Pattinama
Universitas Kristen Indonesia Maluku

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PkM PELATIHAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN GEREJA RESPONSIF GENDER MENUJU PEMENUHAN HAM BAGI PENGASUH SEKOLAH MINGGU GEREJA PADA JEMAAT GPM ALANG ASAUDE KLASIS SERAM BARAT Eklefina Pattinama; Grace S. Surwuy; Yonas Tuhumury
MAREN: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 4, No 2 (2023): September
Publisher : Lembaga Pengabdian Masyarakat UKIM Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37429/mjppm.v4i2.1081

Abstract

Diskriminasi terhadap perempuan masih terus terjadi, kekerasan terhadap perempuan tindakan ancaman,pelecehan bahkan pemerkosaan terhadap anak perempuan terus terjadi. Kuatnya pelangaran HAM,rendahnya hak perempaun sebagai manusia waluapun ada Undang-Undang KDRT,Undang-undang perlindunagn anak. Terpeliharanya budaya patriakhi dan muncul stereotype dalam masyarakat bahwa laki-laki dan perempuan berbeda,laki-laki kuat, menggunakan logika, perempuan lemah, mengguankan perasaan. Stereotype di atas diperkuat dalam pendidikan agama, bersumber pada Kitab Suci para Guru/Pengasuh agama terus mengajar berbias gender. Pada pendidikan Formal Gereja (GPM) dengan kurikulum dan bahan ajar pada SM/TPI termuat materi ajar tentang penciptaan mengposisikan laki-laki yang pertama diciptakan Allah, baru kemudian perempuan. Interpretasi teks-teks Alkitab berbias gender, padahal laki-laki dan perempuan ciptaan Allah, segambar dan serupa dengan Allah, memiliki harkat dan martabat sebagai manusia. Prinsipnya pendidikan gereja merupakan sarana formal untuk sosialisasi sekaligus transfer nilai-nilai dan norma-norma kristiani mengatasi berbagai ketidak setaran gender. Masalahnya rendahnya pengetahuan pengasuh gereja tentang konsep gender, kesetraaaan dan ketidakadilan gender, serta rendahnya pengetahuan pengasuh tentang HAM responsif gender. Solusinya para pengasuh SM/TPI perlu dilatih pengetahuan tentang gender, kesetaraan gender dan HAM responsif gender. Para pengasuh harys dilatih mengembangakan bahan ajar responsif gender dengan cara latihan memilih dan menganalisa teks-teks Alkitab yang responsif gender dan yang bias gender, memilih,menganalisa dan menulis bahan ajar yang responsif gender pada masing-masing jenjang/Sub jenjang SM/TP. Tahapan pelaksanan pertemuan Tim untuk pembagian tugas, Tim merancang pelaksanana kegiatan,pertemuan dengan mitra.tahapan pelaksanaan, tahapan evaluasi dan tahapan pelaporan. Tahap pelaksanaan pelatihan, diawali dengan pre tes, temuanya masih rendahnya pengetahuan pengasuh tentang gender,kesetaran gender, HAM responsif gender setelah dilatih meningkatnya pengetahuan pengasuh, dalam latihan para pengasuh dapat memilih, menganalisa, menulis bahan ajar SM/TPI responsif gender. Hasil penulisan di publikasikan , melalui media sosial, Surat kabar, ,Artikel dan buku bahan ajar SM/TPI reseponsif gender
SOSIALISASI PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KEKERASAN DI UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA MALUKU Eklefina Pattinama; Elisabeth Syantje Telussa; Yonas Tuhummury
MAREN: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69765/mjppm.v7i1.1937

Abstract

Kekerasan sering terjadi dalam masyarakat, termasuk di kalangan komunitas intelektual dan di lembaga pendidikan tinggi, yang mencerminkan hubungan kekuasaan yang tidak setara antara atasan dan bawahan, dosen dan mahasiswa, mahasiswa dan staf, serta di antara mahasiswa itu sendiri. Kekerasan tersebut memperkuat praktik patriarki baik secara struktural maupun budaya, seringkali tanpa disadari secara sadar oleh anggota komunitas akademik. Sayangnya, pengetahuan mahasiswa mengenai tindakan kekerasan-bentuk, dampak, strategi pencegahan, dan kerangka hukum di bawah hukum nasional-masih terbatas. Program sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepekaan mahasiswa terhadap isu-isu kekerasan guna mempromosikan lingkungan kampus yang aman dan nyaman serta bebas dari kekerasan. Metode implementasinya meliputi kuliah interaktif, diskusi kelompok, latihan pencegahan, dan pembentukan kelompok sukarelawan untuk pencegahan kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama pra-tes, 46% mahasiswa menunjukkan pengetahuan yang terbatas tentang kekerasan dan peraturan yang mengaturnya. Pada akhir program, hasil pasca-tes menunjukkan bahwa 82% mahasiswa memiliki pemahaman yang jelas tentang materi yang disampaikan oleh fasilitator. Para peserta secara aktif terlibat dalam kegiatan tersebut, secara sukarela menjadi advokat pencegahan kekerasan di kampus, dan setuju untuk mengembangkan modul pencegahan kekerasan untuk mendukung terciptanya kampus bebas kekerasan di UKIM.