Dewi Ratih Tirto Sari
Program studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibrahimy, Situbondo, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Komparasi Senyawa Wogonin dan Rhinacanthin C Rhinacanthus nasutus Terhadap Candida albicans Secara In Silico Devi Rahmawati; Dewi Ratih Tirto Sari
Tinctura Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Farmasi Tinctura
Publisher : Program Studi S1 Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/tinctura.v6i1.6097

Abstract

Candida albicans merupakan mikroorganisme patogen penyebab candidiasis pada kulit. Rhinacanthus nasutus merupakan salah satu tumbuhan liar yang banyak digunakan untuk mengobati penyakit kulit, dan dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri dan antifungi. Namun, mekanisme senyawa yang terkandung dalam R. nasutus terhadap patogen jamur, khususnya Candida albicans masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mekanisme penghambatan virulensi Candida albicans oleh senyawa rhinacantin C dan wogonin secara in silico. Senyawa R. nasutus wogonin (ID5281703) dan Rhinacanthin C (ID6474554) di unduh dari pubchem, protein Exo-B(1,3)-glucanase diambil dari database protein data bank (PDB) dengan ID 1eqc, diimport ke dalam software Molegro Virtual Docker versi 5.0. Selanjutnya protein target dan senyawa diinteraksikan menggunakan program Molegro virtual docker versi 5.0 pada grid X = 35.92A, Y=32.68A, Z=57.10A, dan dianalisis dengan Discovery studio versi 21.1.1. Analisis in silico menunjukkan bahwa senyawa wogonin dan rhinacanthin C berinteraksi dengan protein target Exo-B-(1,3)-Glucanase disisi inhibitor. Selain itu, beberapa residu sisi aktif wogonin Rhinacanthin C, yakni Glu27, Glu292, Phe258, dan Trp363 merupakan sisi aktif castanospermin. Energi ikatan yang terbentuk pada kompleks senyawa wogonin yaitu -284,6 kcal/mol, dan Rhinacanthin C -366,8 kcal/mol. Rhinacantin C menunjukkan energi ikatan yang lebih rendah, mengidikasikan kestabilan kompleks senyawa–protein. Senyawa wogonin dan rhinacantin C berpotensi sebagai obat antifungi. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan antifungi berbahan alam berupa tumbuhan manukan (Rhinacanthus nasutus).
Kajian Farmakoinformatika Senyawa Caulerchlorin dan Racemosin sebagai kandidat Antimalaria Dewi Ratih Tirto Sari; Nadia Humairoh; Intani Quarta Lailaty; Gabriella Chandrakirana Krisnamurti; Siti Zamilatul Azkiyah
Biotropic : The Journal of Tropical Biology Vol. 8 No. 2 (2024): Biotropic, Volume 8 Nomor 2, 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29080/biotropic.v8i2.2080

Abstract

Caulerchlorin and racemosin were bioactive compounds containing in Caulerpa racemosa macroalgae. Previous study, those compounds promoted therapeutical target on metabolic syndrome. However, the therapeutical activity on Malaria not yet defined. Therefore, this study investigated potential activity of caulerchlorin and racemosin from Caulerpa racemosa as antimalarial activity through pharmacoinformatic study. Caulerchlorin and racemosin structures were retrieved from PubChem NCBI and the Plasmodium falciparum dihydroorotate dehydrogenase (PfDHODH) structure was taken out from Protein database with ID 5GJG. Orotic acid was used as native ligand or control. Ligands were predicted their antiplasmodial activity and toxicity. Ligands and protein were interacted by redocking using Molegro Virtual Docker version 6.0 and analyzed by using PyMol 2.3 and Discovery Studio version 21.1.1. Two bioactive compounds also showed antiplasmodial activity and were not mutagenicity and hepatotoxicity affections. Molecular docking performed that caulerchlorin and racemosin exhibited same active residues as well as orotic acid as native substrate. Binding energy revealed two compounds, caulerchlorin and racemosin showed lower binding energy than orotic acid. In summary caulerchlorin and racemosin were potentially inhibited PfDHODH activity by binding substrate sites of PfDHODH protein.
Siphonaxanthin, Keto-Karoteonid Alga Hijau, Kandidat Potensial Antidiabetes Dewi Ratih Tirto Sari; Lailatus Sarifah
Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol 5 No 2 (2024): Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55241/spibio.v5i2.370

Abstract

Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolisme kronik yang disebabkan oleh peningkatan glukosa dalam darah. Mekanisme terjadinya diabetes mellitus sangat kompleks, salah satunya melalui aktivasi fosforilasi jalur MAPK. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi senyawa siphonaxantin sebagai antidiabetes melalui penghambatan protein kinase C (PKC) dalam mekanisme fosforilasi secara in silico. Penelitian menggunakan pendekatan in silico dengan molecular docking. Struktur 3D protein kinase C (PKC) diunduh dari database Protein Data Bank dengan kode akses PDB ID 3TXO. Struktur siphonaxantin diunduh dari PubChem NCBI dengan ID 11204185. Senyawa 2,6 – Naphthyridines  digunakan sebagai kontrol pembanding yang diperoleh dari protein data Bank 3TXO. Protein, senyawa pembanding dan siphonaxanting di docking dengan program molegro virtual docker dan dianalisis dengan PyMol 2.3 dan Discovery Studio ver.21.1..1. Senyawa siphonaxanthin berikatan dengan protein kinase C pada beberapa residu dengan 4 ikatan hydrogen dan 11 interaksi hidrofobik. Siphonaxantin juga menunjukkan daerah ikatan yang sama dengan 2, 6 – Naphthyridines, inhibitor control pada residu VAL369 dan PHE366. Berdasarkan energi ikatan, senyawa siphonaxanthin menunjukkan energi ikatan yang lebih rendah dari 2,6 napthyridines, yakni -258,6 kJ/mol. Penelitian ini disimpulkan bahwa siphonaxantin berpotensi sebagai kandidat obat antidiabetes dengan menghambat aktivasi fosforilasi oleh protein kinase C (PKC). Penelitian in vitro dan in vivo diperlukan untuk identifikasi lebih lanjut.Â