Yetty Morelent
Universitas Bung Hatta Padang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penggunaan Kata Sapaan Kekeluargaan di Kecamatan Siulak Mukai Kabupaten Kerinci Yoga Karmizi; Syofiani Syofiani; Yetty Morelent
Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Vol 11, No 1 (2024): April
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/mtf.v11i1.21453

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk penggunaan kata sapaan kekeluargaan pada anak usia 5-20 tahun; dan (2) faktor-faktor yang melatarbelakagi terjadinya penggunaan kata sapaan kekeluargaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa ujaran atau kata-kata yang diujarkan oleh anak usia 5-20 tahun khususnya dalam kata sapaan kekeluargaan di Kecamatan Siulak Mukai. Jumlah responden yaitu 48 orang, berusia 5-20 tahun. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil penelitian yaitu: (1) bentuk kata sapaan kekeluargaan yang digunakan oleh anak usia 5-20 tahun di Kecamatan Siulak Mukai, untuk kata sapaan kekeluargaan anak pertama: akak, abang, uni, dan uwo,  kata sapaan anak kedua: abang, uni, dan ngah, kata sapaan anak ketiga: pandak, kata sapaan ayah: papi, abi, papa dan  apak kata sapaan ibu: , mama, mami, ummi,bunda dan amak, kata sapaan kakek: oppa, kakek, grandpa, dan nytan,  kata sapaan nenek: omma, nenek, grandma, dan  tino,  kata sapaan ayah dan ibu dari kakek dan nenek: munyang  kata sapaan saudara laki-laki dari ayah: pak itek  dan pak cik, kata sapaan saudara perempuan dari ayah: onty, tante, latung,, kata sapaan saudara laki-laki dari ibu: oom, paman, dan tuan dan sapaan saudara perempuan dari ibu: mak itek dan tante. (2) faktor yang melatarbelakagi terjadinya penggunaan kata sapaan di Kecamatan Siulak Mukai yaitu faktor tingkat pendidikan, dan kelas sosial masyarakat. Penggunaan kata sapaan kekeluargaan di Kecamatan Siulak Mukai merupakan fenomena yang menarik dalam perkembangan bahasa, dalam hal ini penggunaan kata sapaan kekeluargaan pada anak usia 5-20 tahun. Kajian mengenai penggunaan kata sapaan kekeluargaan pada anak usia 5-20 tahun di Kecamatan Siulak Mukai Kabupaten Kerinci, dapat menambah hasil penelitian kualitatif dibidang sosiolinguistik, kajian dialektologi khususnya yang berhubungan dengan penelitian penggunaan kata sapaan.
VARIASI BAHASA BERFOKUS PADA PENGGUNA DALAM KONTEKS PENDIDIKAN: DIALEK, SOSIOLEK, GENDER, USIA, DAN RAGAM DIGITAL Zamil Hasibuan; Yetty Morelent; Romi Isnanda
Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi Vol 6, No 2 (2026): Jurnal Pendidikan Indonesia : Teori, Penelitian, dan Inovasi
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpi.v6i2.2736

Abstract

This article examines user-centered language variation within the Indonesian sociolinguistic landscape by providing a comprehensive analysis of regional dialects, sociolects, gender- and age-based variations, as well as digital language practices. The study aims to reconstruct a conceptual framework explaining how speakers strategically mobilize linguistic resources to construct identity, foster solidarity, and negotiate social positioning in dynamic communicative contexts. Employing a qualitative approach based on a systematic literature review, the study draws on scholarly journal articles retrieved from Google Scholar and analyzes them using thematic synthesis techniques. The findings reveal that these five dimensions of language variation are not discrete; rather, they are intricately interconnected in shaping speakers’ communicative repertoires. In digital environments, this interplay becomes increasingly complex through code-mixing practices, the use of slang, and multimodal markers that reflect hybrid identities. The study further identifies that social factors such as class, education, and access to technology significantly influence linguistic choices. The implications highlight the urgency of strengthening context-sensitive register competence in language education, public services, and media communication to enhance communicative effectiveness in multicultural societies. ABSTRAKArtikel ini mengkaji variasi bahasa berfokus pada pengguna dalam lanskap sosiolinguistik Indonesia dengan menelaah secara komprehensif dialek regional, sosiolek, variasi berbasis gender dan usia, serta ragam digital. Studi ini bertujuan untuk merekonstruksi kerangka konseptual mengenai bagaimana penutur secara strategis memobilisasi sumber daya linguistik guna membentuk identitas, membangun solidaritas, dan menegosiasikan posisi sosial dalam konteks yang dinamis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kajian pustaka sistematis, dengan sumber data berupa artikel jurnal ilmiah yang diperoleh melalui Google Scholar dan dianalisis menggunakan teknik sintesis tematik. Temuan menunjukkan bahwa kelima dimensi variasi bahasa tidak bersifat terpisah, melainkan saling berkelindan dalam membentuk repertoar komunikatif penutur. Dalam ruang digital, interaksi antarvariasi tersebut semakin kompleks melalui praktik campur kode, penggunaan slang, serta pemanfaatan penanda multimodal yang merefleksikan identitas hibrid. Studi ini juga mengungkap bahwa faktor sosial seperti kelas, pendidikan, dan akses teknologi berperan signifikan dalam menentukan pilihan bahasa. Implikasi penelitian menegaskan urgensi penguatan kompetensi alih ragam berbasis konteks dalam pendidikan bahasa, pelayanan publik, dan komunikasi media guna meningkatkan efektivitas interaksi di masyarakat multikultural.