Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penyuluhan Pengolahan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menjadi Sediaan Obat Tradisional Sederhana dan Keamanan Obat Tradisional bagi Masyarakat Kampung Kamayakha, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura Litaay, Gabriela Welma; Longe, Sendy Stefanie; Hs, Dita Angra Sari
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 1 No. 12 (2024): Februari
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v1i12.764

Abstract

Tanaman Obat Keluarga (TOGA) merupakan tanaman obat yang dibudidayakan di sekitar halaman rumah yang digunakan dalam pengobatan. Kampung Kamayakha adalah salah satu kampung di Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura yang terletak memiliki tanaman obat tetapi belum banyak diolah menjadi sediaan obat tradisional sederhana. Penggunaan obat tradisional (khusus herbal) juga belum diketahui masyarakat secara tepat agar tidak menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Sehingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat yaitu penyuluhan pengolahan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menjadi sediaan obat tradisional sederhana dan keamanan obat tradisional bagi masyarakat Kampung Kamayakha penting dilakukan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat meliputi tiga tahap yaitu tahap pertama administratif, tahap kedua pelaksanaan dan tahap ketiga pelaksanaan dan evaluasi. Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada 16 Februari 2024 dan 22 Februari 2024 dengan metode penyuluhan dan tanya jawab (diskusi) dengan media leafleat dan video demonstrasi.  Setelah dilakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dapat disimpulkan bahwa kegiatan penyuluhan terkait pengolahan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menjadi sediaan obat tradisional sederhana dan keamanan obat tradisional kepada masyarakat telah dilakukan selama dua hari dan diharapkan memberikan pengetahuan terkait pengolahan TOGA dan keamanan obat tradisional yang dapat diaplikasikan sehingga memberikan dampak positif bagi  masyarakat Kampung Kamayakha. 
GAMBARAN EFEK SAMPING KANAMISIN PADA PENGOBATAN PASIEN MDR-TB Di RSUD JAYAPURA Longe, Sendy Stefanie; Bindukinasih S.H., Deasy Reviola
DINAMIS Vol 19 No 1. Juli (2022): Dinamis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jd.v19i1.1031

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Banyaknya pasien yang tidak berhasil sembuh karena tidak patuh dalam minum obat sehingga mengakibatkan resistensi antibiotic yang dimulai dari yang sederhana yaitu monoresisten, poliresisten, Multi Drug Resistant (MDR), dan Extensively Drug Resistan (XDR). MDR TB (Multidrug Resistant Tuberculosis) adalah salah satu jenis TB yang resisten dengan OAT (Obat Anti Tuberculosis) dengan minimal 2 obat anti tuberkulosis yang paling ampuh yaitu Rifampicin dan Isoniazid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran efek samping penggunaan Kanamisin pada pengobatan pasien MDR TB di RSUD Jayapura. Jenis penelitian yang digunakan adalah non eksperimental dengan rancangan deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada bulan Desember 2019 di RSUD Jayapura dengan jumlah sampel sebanyak 40 orang. Hasil penelitian menunjukkan pasien MDR-TB yang diresepkan kanamisin terdiri kelompok umur dewasa awal (17-35 tahun) sebanyak 26 orang (65%), lalu diikuti kelompok usia dewasa akhir (36-45 tahun) sebanyak 10 orang (25%), dan lansia akhir (56-65 tahun) sebanyak 4 orang (10%). Pasien jenis kelamin perempuan sebanyak 24 orang (60%), sedangkan laki-laki sebanyak 16 orang (40%). Lama menderita TB 12-18 bulan sebanyak 20 pasien (50%) dan 19-24 bulan sebanyak 20 orang (50%). Dosis kanamisin yang paling banyak digunakan yaitu 500 mg sebanyak 25 orang (62.5%) dengan lama penggunaan terbanyak 19-24 bulan sebanyak 23 orang (57.5%). Dari 26 pasien (65%) yang mengalami efek samping, yang paling banyak terjadi adalah gangguan pendengaran (tuli dan telinga berdengung) sebanyak 18 orang (60%), lalu di ikuti mual muntah sebanyak 8 orang (27%) dan kejang sebanyak 4 orang (13%). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa efek samping Kanamisin yang paling banyak terjadi yaitu gangguan pendengaran (tuli dan telinga berdengung).
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN OBAT KUMUR EKSTRAK ETANOL BIJI PINANG (Areca catechu L.) SEBAGAI ANTISEPTIK Litaay, Gabriela Welma; Serpara, Fara Jesi Anggraeni; Longe, Sendy Stefanie
DINAMIS Vol 20 No 1. Juli (2023): Dinamis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jd.v20i1.1216

Abstract

Pinang (Areca catechu L.) merupakan salah satu dari jenis tumbuhan yang tersebar dan tumbuh luas, terutama di daerah tropis atau subtropis seperti di Papua. Senyawa aktif yang terkandung dalam biji pinang diketahui sebagai antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui evaluasi sediaan obat kumur ekstrak etanol biji pinang dengan variasi konsentrasi gliserin FI (5%), F2 (10%), dan F3 (15%). Gliserin sebagai humektan untuk menjaga zat aktif agar tidak menguap dan memperbaiki stabilitas suatu bahan dalam jangka lama. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental yang merupakan penelitian laboratorium dengan sampel biji pinang yang diperoleh dari Kecamatan Sentani Kota, Kabupaten Jayapura. Hasil penelitian pada uji organoleptis menunjukan hasil yaitu ketiga formula berwarna merah bata, rasa sepat, khas pinang dan khas mint, bau mint dan bentuk cair. Pada uji pH untuk ketiga formula telah memenuhi syarat yaitu ketiga formula memiliki pH 6. Pada uji kejernihan untuk ketiga formulasi terlihat bahwa tidak terdapat partikel hitam dan putih dan yang paling jernih adalah formula I dan formula II. Pada uji volume terpindahkan untuk ketiga formula telah memenuhi syarat yaitu volume awal 100 mL dan volume setelah dipindahkan dari wadah ke gelas ukur tetap 100 mL. Pada uji hedonik yaitu panelis lebih menyukai formula I dengan kosentrasi gliserin 5%. Kata Kunci: Biji Pinang (Areca catechu L.), obat kumur, evaluasi, gliserin.