Fatmawati
Fakultas Syariah dan Hukum Prodi Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementasi Metode Konversi Hari Lahir dari Tahun Masehi ke Tahun Hijriah Husnul Khatimah; Muh. Irwan; Fatmawati
HISABUNA: Jurnal Ilmu Falak Vol 4 No 3 (2023): November 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/hisabuna.v4i3.23154

Abstract

Abstrack This article contains the main problem under study, namely how to implement the method of converting birthdays from the Christian year to the Hijri year in Tritiro Village, Bontotiro District, Bulukumba Regency with 3 sub-problems, namely: 1) How is the method used in converting birthdays from the Christian year to the Hijri year in Tritiro Village, Bontotiro District, Bulukumba Regency, 2) How is the result of converting birthdays from the Christian Year to the Hijri Year in Tritiro Village, Bontotiro District, Bulukumba Regency. This research uses field research (field research) which is qualitative in nature, syar'i and astronomical approaches. Primary data sources are; Observations, interviews and secondary data were obtained from books, journals and articles. Data collection through observation, interviews and documentation. This study uses data processing and analysis techniques in the form of; analyze, manage and classify data and provide final conclusions. The results of this study indicate that the method used in converting birthdays from AD to Hijri year in Tritiro Village, Bontotiro District, Bulukumba Regency used is the urfi reckoning and essential reckoning. The results of converting birthdays from AD to Hijri in the six samples are as follows: 1) Lahamuddin was born on March 19, 1957 AD, which coincides with the 18th of Sha'ban 1376 H, which falls on a Wednesday. 2) Hj. Jumorang was born on 28 November 1940 AD to coincide with the 27th Shawwal 1359 H, which falls on a Wednesday. 3) Muslim was born on 03 September 1951 AD to coincide with the 1st of Zulhijjah 1370 H, which falls on a Monday. 4)A. Murni was born on October 8, 1961 AD to coincide with the 28th of Rabiul Akhir 1381 H, which falls on a Monday. 5) Abd. Rahman was born on 21 April 1951 AD to coincide with the 14th Rajab 1370 H, falling on a Saturday. 6) Bau Tanning was born on June 23, 1951 AD to coincide with the 18th of Ramadan 1370 H, which falls on a Saturday. The implication of this research is that it is expected that the government or religious figures broaden their horizons who already understand and understand the conversion of the Christian year to the Hijri year correctly. It is hoped that students, especially the faculties of shari'ah and law and astronomy affairs, will continue to play an important and active role in providing knowledge to the public regarding the steps or procedures for converting birthdays from the Christian year to the Hijri year. Keywords: Conversion of Birthday, Christian Year, Hijri Year
KOMPARASI SOFTWARE STELLARIUM DAN ACCURATE TIMES DALAM PENENTUAN WAKTU SALAT DUHUR: - Andy Muhammad Ruknanto Andy; Fatmawati; Faisal Akib
HISABUNA: Jurnal Ilmu Falak Vol 4 No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/hisabuna.v4i1.36131

Abstract

Penlitian ini membahas mengenai analisis komparatif Software Stellarium dan Accurate Times dalam penentuan waktu shalat dzuhur. Jenis penelitian ini adalah library reseacrh, dengan menggunakan pendekatan multidisipliner, yakni: pendekatan syar’i dan pendekatan astronomis. Data penelitian ini diambil berdasarkan pada sumber data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data yakni studi literatur. Hasil penelitian ini menemukan bahwa metode perhitungan dari kedua Software tersebut tidak jauh berbeda, pada Software Stellarium perhitungan penentuan awal waktu Shalat menampilkan simulasi benda langit. Tingkat keakurasian Software Stellarium dan Accurate Times berdasarkan perhitungan data Ephemeris, setelah dilakukan analisa dari pengoperasiannya penulis menemukan perbedaan, dimana Software Stellarium lambat 4-8 detik dari Software Accurate Times pada saat kulminasi, sedangkan pada Software Accurate Times hasil yang dikeluarkan sama dengan perhitungan Ephemeris. Sehingga dapat penulis disimpulkan bahwa dari kedua Software yang telah dibandingkan dengan Perhitungan Ephemris dapat dikatakan Software Accurate Times jauh lebih akurat dibandingkan Software Stellarium hanya saja terdapat perbedaan detik, namun keduanya sama-sama dapat digunakan dalam penentuan waktu Shalat Dzuhur.
Implementasi Kriteria Visibilitas Neo-MABIMS dalam Penentuan Awal Bulan Hijriah Windi Rezani Anas; Fatmawati; Sippah Chotban
HISABUNA: Jurnal Ilmu Falak Vol 4 No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/hisabuna.v4i2.36962

Abstract

Perbedaan penentuan awal bulan hijriah masih menyulut kontroversi di kalangan umat Islam. Pemerintah mengajukan standar imkan ar-rukyah yang baru yakni kriteria Neo-MABIMS yang dapat menjembatani perbedaan yang sering terjadi dalam penentuan awal bulan hijriah. Jenis penelitian yang digunakan adalah library research (penelitian kepustakaan) dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Sumber data yang digunakan menggunakan dua sumber data yakni sumber data primer yang diperoleh dari membaca hasil penelitian sebelumnya terkait implementasi Visibilitas Neo-MABIMS. Sedangkan sumber data sekunder didasarkan pada berbagai kajian literature atau data akademik, melengkapi data asli, dengan alasan yang disempurnakan dan terkait topik penelitian yang ada. Penelitian ini memperoleh tiga hasil yang didapatkan dari sumber-sumber yang terkait dengan masalah yang di rumuskan, yakni: 1. Konsep yang digunakan Neo-MABIMS adalah ketinggian hilal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. 2. Kriteria baru Neo-MABIMS memiliki kelebihan yakni dengan 3 derajat dapat lebih mudah terlihat karena keadaan sabit pada saat diamati lebih tebal dan pada elongasi 6,4 derajat cahaya syafak lebih redup sehingga memudahakan terlihatnya posisi hilal. Kekurangan dalam kriteria ini tidak dapat diterima dibeberapa ormas-ormas yang ada di Indonesia karena beberapa ormas yang ada di Indonesia memiliki kriteria yang dipedomani sendiri oleh masing-masing ormas tersebut. 3. Sebagian masyarakat memuji kebijakan baru ini sebagai sebuah perbaikan, namun sebagian lainnya merasa bahwa perubahan standar ini terkesan dipaksakan karena tidak disosialisasikan dengan baik. Implikasi penelitian ini adalah kriteria ini diusulkan kemudian diresmikan untuk menjembatani perbedaan penentuan awal bulan di Indonesia. Sosialisasi tentang kriteria ini diharap dapat menyentuh semua lapisan ormas yang ada di Indonesia agar tujuan awal di usulkannya kriteria ini dapat tercapai dengan kontribusi semua pihak. Kata Kunci: Kriteria, Neo-MABIMS, dan Awal Bulan Hijriah