Sippah Chotban
Fakultas Syariah dan Hukum Prodi Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

AKURASI ARAH KIBLAT MASJID DI DESA MANJALLING KECAMATAN BAJENG BARAT KABUPATEN GOWA Amirah Cahyani; Rahma Amir; Sippah Chotban
HISABUNA: Jurnal Ilmu Falak Vol 3 No 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/hisabuna.v3i2.22800

Abstract

Abstrak Al-Qur‟an menjadi suatu petunjuk dalam mempelajari setiap isi dari alam semesta ini sehingga perlu untuk manusia lebih jelih dalam merespon ayat- ayat semesta yang terdapat dalam al-Qur‟an, sebagaimana manusia dianjurkan untuk membaca dan memahami isi dari setiap kandungan ayat al-Qur‟an, disamping itu melihat dengan kemukjizatan al-Qur‟an manusia dapat menelaah dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya, Ilmu Falak menjadi peran penting dalam menyatukan dan memberikan sinergitas al-Qur‟an dan sains sebagai bentuk perwujudan dan keniscayaan yang mendalam bagi manusia seperti halnya al-Qur‟an menceritakan bahwa setiap benda-benda langit beredar sesuai garis edarnya dan mustahil keluar dari hal tersebut, sehingga hal ini menjadi suatu tanda kekuasaan Allah yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat. Adapun permasalahan yang diangkat yaitu bagaimana Analisis Ilmu Falak Dalam Surah Yasin Ayat 38-40, dengan ini masyarakat dapat menentukan dan memahami objek yang dikaji dalam Ilmu Falak dan beribadah dengan penuh keyakinan. Kata Kunci: Analisis, Ilmu Falak, Surah Yasin. Abstract The Qur’an is a guide in studying every content of the universe so that it is necessary for people to be more observant in responding to the verse of the universe contained in the Qur,an, as human are encouraged to read and understand the content of every verse of the Qur’an, besides seeing with miracles the Qur’an man can study with his knowlegde an technology, scince Falak be an important role in uniting an providing synergy of the Qur’an and science as a formof realization and deep inevitability for humans as well as the Qur’an tells that every celestial body circulates according to the line and it is not for you to go forth from it, and it is not for you to go forth. The problem raised is how the Analysis of Falak Scince in Surah Yasin Verses 38-40, with this community can determine and understand the object studied in Science Falak and worship with confidence. Keywords: Analysis, Science Falak, Surah Yasin.
Implementasi Kriteria Visibilitas Neo-MABIMS dalam Penentuan Awal Bulan Hijriah Windi Rezani Anas; Fatmawati; Sippah Chotban
HISABUNA: Jurnal Ilmu Falak Vol 4 No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/hisabuna.v4i2.36962

Abstract

Perbedaan penentuan awal bulan hijriah masih menyulut kontroversi di kalangan umat Islam. Pemerintah mengajukan standar imkan ar-rukyah yang baru yakni kriteria Neo-MABIMS yang dapat menjembatani perbedaan yang sering terjadi dalam penentuan awal bulan hijriah. Jenis penelitian yang digunakan adalah library research (penelitian kepustakaan) dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Sumber data yang digunakan menggunakan dua sumber data yakni sumber data primer yang diperoleh dari membaca hasil penelitian sebelumnya terkait implementasi Visibilitas Neo-MABIMS. Sedangkan sumber data sekunder didasarkan pada berbagai kajian literature atau data akademik, melengkapi data asli, dengan alasan yang disempurnakan dan terkait topik penelitian yang ada. Penelitian ini memperoleh tiga hasil yang didapatkan dari sumber-sumber yang terkait dengan masalah yang di rumuskan, yakni: 1. Konsep yang digunakan Neo-MABIMS adalah ketinggian hilal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. 2. Kriteria baru Neo-MABIMS memiliki kelebihan yakni dengan 3 derajat dapat lebih mudah terlihat karena keadaan sabit pada saat diamati lebih tebal dan pada elongasi 6,4 derajat cahaya syafak lebih redup sehingga memudahakan terlihatnya posisi hilal. Kekurangan dalam kriteria ini tidak dapat diterima dibeberapa ormas-ormas yang ada di Indonesia karena beberapa ormas yang ada di Indonesia memiliki kriteria yang dipedomani sendiri oleh masing-masing ormas tersebut. 3. Sebagian masyarakat memuji kebijakan baru ini sebagai sebuah perbaikan, namun sebagian lainnya merasa bahwa perubahan standar ini terkesan dipaksakan karena tidak disosialisasikan dengan baik. Implikasi penelitian ini adalah kriteria ini diusulkan kemudian diresmikan untuk menjembatani perbedaan penentuan awal bulan di Indonesia. Sosialisasi tentang kriteria ini diharap dapat menyentuh semua lapisan ormas yang ada di Indonesia agar tujuan awal di usulkannya kriteria ini dapat tercapai dengan kontribusi semua pihak. Kata Kunci: Kriteria, Neo-MABIMS, dan Awal Bulan Hijriah