Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Autonomy and Democratization of Islamic Education Izzi Fekrat; Nana Sepriyanti; Martin Kustati; Nurhasnah Nurhasnah; Eldarifai Eldarifai; Sisri Wahyuni
International Journal of Educational Narratives Vol. 2 No. 1 (2024)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/ijen.v2i1.676

Abstract

Background. Autonomy is the freedom to maintain and promote the special interests of the region, with its own finances, determine its own laws, and self-government. Purpose. Educational autonomy according to the National Education System Law No. 20 of 2003 is revealed in the rights and obligations of citizens, parents, communities, and governments. Method. The research and development method is a research method used to produce certain products, and test the effectiveness of these products. Results. The results of this paper show that autonomy aims to autonomize a person or an institution or a region, so that educational autonomy has the aim of providing an autonomy in realizing the function of institutional education management. Conclusion. However, since the implementation of educational autonomy, it turns out that its implementation has not gone as expected, instead the implementation of autonomy has created many problems, namely the high cost of education. Meanwhile, the meaning of educational autonomy actually implies democracy and social justice, meaning that education is carried out in a democratic manner so that the expected goals can be realized and education is intended for the benefit of the community, in accordance with the ideals of the nation in educating the nation.
Pendidikan dalam Al-Qur'an dan Hadits: Education in the Qur'an and Hadiths Izzi Fekrat; Hendrayadi; Syafruddin; Rehani; Sisri Wahyuni
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 7 No. 1: JANUARI 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v7i1.4831

Abstract

Akhlak adalah topik penting dalam pendidikan Islam, dan para pemikir Muslim banyak berbicara tentang hal ini. Pendidikan Islam berbeda dari pendidikan Barat dalam hal tujuan iman dan kesalehan. Barat tidak menunjukkan tujuan moral sebagai tujuan yang harus dicapai. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui tiga tujuan pendidikan akhlak dari sudut pandang al-Qur'an dan hadits. Analisis ini akan menunjukkan bahwa al-Qur'an adalah sumber segala pengetahuan. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan rasa kasih sayang antar sesama manusia, mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat, dan terakhir, untuk mencapai rasa syukur kepada Allah. Diharapkan ketiga tujuan ini dapat diterapkan di semua jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan taman kanak-kanak hingga sekolah menengah serta perguruan tinggi.
Konseling Untuk Remaja: Counseling for Teenagers Izzi Fekrat; Lisa Candra Sari; Gusril Kenedi; Afnibar; Ulfatmi; Sisri Wahyuni
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 7 No. 1: JANUARI 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v7i1.4864

Abstract

Anak usia sekolah menengah, SMP/MTs, SMA/MA, atau SMK/MAK, adalah siswa yang berumur 13-19 tahun dan merupakan utama yang dimilki adalah setia, cinta, peduli dan bijak dengan isu dan tugas perkembangan antara peranan identitas lawan peranan kebingungan. Penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review (SLR), sebuah metode penelitian yang merangkum hasil penelitian primer untuk menyajikan fakta-fakta yang lebih komprehensif dan berimbang. Hasil dari penulisan ini menunjukkan bahwa keadaan remaja dari dulu hingga sekarang problematika yang dihadapinya tidak terlalu jauh berbeda, namun yang membedakannya adalah faktor penyebabnya, dan dimungkinkanpada masa-masa yang akan datang pastinya lebih kompleks lagi. Untuk mencegah problematika yang dihadapi para remaja tersebut maka hal-hal yang dapat dilakukan adalah seperti: menciptakan keluarga yang harmonis, tidak menyamaratakan antara remaja satu dengan lainnya, pengembangan remaja melalui pendidikan, mendorong remaja agar aktif di organisasi, pengembangan remaja melalui minat dan bakat. Selanjutnya, apabila remaja sudah terkena masalah yang berat maka cara penanganannya melalui pertama, penanganan individual semisal remaja ditangani sendiri dalam tatap muka empat mata dengan psikolog atau konselor, kedua, penanganan keluarga semisal menangani masalah remaja sekaligus terhadap seluruh atau sebagian anggota keluarga (ayah, ibu dan anak-anak), ketiga, penanganan kelompok hampir sama dengan penangan keluarga dan keempat, penanganan pasangan. Semisal klien ditangani berdua dengan temannya, sahabatnya atau salah satu anggota keluarganya dan sebagainya.