Nina Tania Lestari
Product Design Program, Industrial Engineering Department, BINUS ASO School of Engineering, Bina Nusantara University, Jakarta, Indonesia 11480

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Minimizing Defects in Radiator Grille Upper Garnish Parts using Six Sigma (DMAIC) at PT. AAS Yosica Mariana; Wandi Andrean; Nina Tania Lestari
Engineering, MAthematics and Computer Science Journal (EMACS) Vol. 5 No. 3 (2023): EMACS
Publisher : Bina Nusantara University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21512/emacsjournal.v5i3.10481

Abstract

To achieve quality improvement, companies must align their production processes with customer needs, control production costs effectively, and maintain product quality. This approach enhances customer satisfaction, increases market share, and boosts profitability. PT. AAS, an automotive company specializing in injection molding and painting, relies on resin as its primary raw material to produce car parts for major clients like Hyundai, Suzuki, and Astra. To dominate the market, PT. AAS must prioritize delivering quality products on time to earn customer trust and secure continuous orders. Initially, the QC data for the injection molding area showed a high defect rate of approximately 17.5% for the Garnish Radiator Grille Upper part, from December 2022 to May 2023. Prior to implementing the Six Sigma method, PT. AAS had a DPMO (Defects Per Million Opportunities) value of 58,177, equivalent to a 3.10 Sigma level. After applying the Six Sigma DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) process, the DPMO decreased to 17,991, resulting in a 3.60 Sigma level. This suggests that PT. AAS currently operates at a 4 Sigma level, with a strong potential to reach 5 or even 6 Sigma by addressing the root causes of rejection. The fishbone analysis highlights the need for action across all departments, including Management. Key areas to focus on include Material, ensuring the correct resin delivery to the Injection Molding station; Machine, verifying proper machine settings and utilizing the 5S methodology; Environment, optimizing room temperature and ventilation; and Man, providing training to enhance operators' knowledge and sense of responsibility.
Kajian Literatur Quality Function Deployment Dalam Peran Manajemen Industri Nina Tania Lestari
INTECOMS: Journal of Information Technology and Computer Science Vol 6 No 2 (2023): INTECOMS: Journal of Information Technology and Computer Science
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/intecoms.v6i2.7093

Abstract

Di era globalisasi saat ini, semua industri manufaktur dituntut untuk mampu bersaing di pasar global agar tetap memiliki pangsa pasar. Pasar global menuntut semua industri untuk terus meningkatkan daya saing, yang mana industri manufaktur merupakan salah satu industri yang sangat menentukan dalam meningkatkan perekonomian dan pendapatan nasional. Disinilah peran Manajemen Industri dengan penerapan Quality Function Deployment, industri dapat mengetahui keinginan konsumen apa saja dan industri bisa memetakan item-item untuk memenuhi keinginan konsumen tersebut, sehingga industri akan memiliki daya saing yang berkelanjutan dengan terus melakukan continues improvement”. Jika di lihat dari jumlah jurnal pertahunnya di dapatkan bahwa Jurnal yang membahas Manajemen Industri yang menggunakan teknik QFD masih cukup sedikit, sehingga bisa menjadi peluang bagus untuk menyelesaikan suatu permasalahan di dalam industri. Dari jurnal QFD yang telah di kumpulkan juga dapat di ketahui bahwa di industri makanan, Sepatu, dan tekstil masih sangat minim dilakukan analisa manajemn industri menggunakan QFD. Industri yang sudah peduli dengan “customer oriented” adalah industri Household, Machine, dan packaging. sehingga industri tsb dapat mengetahui secara sistematik kebutuhan dari customer, sehingga produk yang di produksi dapat memiliki daya saing yang bagus di masyarakat. Terlebih lagi jika QFD di terapkan pada industri kebutuhan pokok/ primer manusia, seperti sandang, pangan, papan, seperti industri Makanan, baju/ tekstil, dan bahkan bisa di gunakan untuk industri infrastuktur seperti perumahan. Sehingga kebutuhan primer dari manusia tsb bisa terpenuhi sesuai orientasi customer.
Pengukuran Efisiensi Aktivitas Pemilihan Supplier Dengan Menggunakan Metode Data Envelopment Analysis (DEA) Pada Industri Garmen Nina Tania Lestari; Ishardita Pambudi Tama
INTECOMS: Journal of Information Technology and Computer Science Vol 6 No 2 (2023): INTECOMS: Journal of Information Technology and Computer Science
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/intecoms.v6i2.7145

Abstract

Pemilihan Supplier untuk pengadaan raw material agar sesuai dengan kebutuhan produksi sangat sulit dikendalikan, disebabkan adanya 2 (dua) kepentingan yang berbeda antara pihak perusahaan dan pihak supplier raw material yang bertolak belakang. Oleh karena itu penerapan metode DEA digunakan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Metode DEA berfungsi untuk menentukan supplier yang tepat dengan melakukan pengukuran efisiensi dengan beberapa input (multiple input) dan beberapa output (multiple output) untuk beberapa unit pengambil keputusan, dan kemudian dilakukan pengendalian persedian raw material. Hasil penelitian menunjukkan adanya peghematan biaya sebesar US$281.524,69 sesudah menggunakan metode DEA.
Identifikasi Faktor Penyebab Rejected Fresh Part Garnish-Tailgate UPR Dan Usulan Perbaikan Proses Fresh Part Handling Dengan Metode FMEA Dan AHP Di Automotive Manufaktur PT. BBC Nina Tania Lestari; Wiwik Sulistiyowati
INTECOMS: Journal of Information Technology and Computer Science Vol 6 No 2 (2023): INTECOMS: Journal of Information Technology and Computer Science
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/intecoms.v6i2.7697

Abstract

PT.BBC adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang Automotive yang merupakan perusahaan Joint Venture antara dua produsen besar yang ada di ASIA. Bisnis inti PT. BBC adalah Injection, Painting, dan Assembly. Dan Finish Good hasil dari assembly di PT.BBC akan di kirim ke manufactur assembly automotive untuk di rakit menjadi satu-kesatuan product mobil. Proses penanganan fresh part handling masih belum optimal, tingginya angka reject fresh part khususnya Garnish Tailgate UPR, ketika ada fresh part yang reject, kerugian akan di tanggung oleh PT. BBC, dan juga dapat mengganggu jalannya proses produksi. Fresh part Garnish-Tailgate UPR merupakan item yang harus di process painting warna crome sebelum di process assembly dengan bagian pintu belakang mobil sebelum bagian pintu mobil tsb di kirimkan ke customer. Reject yang terjadi pada fresh part Garnish-Tailgate UPR disebabkan beberapa hal, yaitu kondisi box yang tidak sesuai, metode penumpukan fresh part di dalam box yang kurang optimal, serta proses pembongkaran, sebagian besar penyebab terjadinya reject fresh part terjadi pada saat pra produksi, yaitu mulai dari proses receiving dan proses keeping. Jenis reject antara lain reject Sink Mark, Discoloration, dan Delamination. Tujuan penelitian adalah mengetahui faktor penyebab munculnya reject pada proses fresh part handing item Garnish-Tailgate UPR, menentukan solusi untuk meminimalkan atau menghilangkan reject yang disebabkan oleh proses fresh part handling, dan menganalisis serta memperbaiki suatu proses kerja secara nyata untuk menentukan solusi untuk meminimalkan atau menghilangkan reject yang muncul pada proses fresh part handling pada Garnish-Tailgate UPR. Data pada penelitian ini akan di olah dengan Metode Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) dan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil analisa dengan menggunakan metoda FMEA di dapatkan jenis reject yang harus di atasi terlebih dahulu adalah tipe Reject Sink Mark dan Reject Delamination, dan peran serta Management serta department terkait harus mengetahui dan juga menginformasikan hal ini kepada supplier, sehingga rejected jenis ini bisa dikendalikan mulai dari process pengiriman fresh part dari supplier ke PT.BBC serta saat di terima PT. BBC dan diprocess keeping. Selanjutnya untuk mengetahui prioritas apa saja yang harus dilakukan untuk Mengendalikan Kualitas Fresh Part Garnish-Tailgate UPR di PT. BBC adalah Perbaikan Box Keeping, kemudian dilakukan training Receiving Activity, dan dilakukan perbaikan packing Keeping, dan prioritas terakhir adalah Perbaikan SOP Receiving, dan semua ini harus ada komitment dari Management dan department terkait untuk melakukan aktivitas perbaikan tersebut sesuai dengan urutan prioritas yang ada.
The Analysis Of Risk Assessment On Fiber Optic Production Line Using The Hazard Identification Risk Assessment And Determining Control (Hiradc) Nina Tania Lestari
INTECOMS: Journal of Information Technology and Computer Science Vol 7 No 2 (2024): INTECOMS: Journal of Information Technology and Computer Science
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/intecoms.v7i2.9416

Abstract

ABSTRACT The demand for optical fiber increases to meet the demands of Industry 4.0, companies that manufacture optical fiber must seize this moment to generate profitable business. However, let us not forget how important safety is to all employees working in the fiberglass industry, especially production employees who are directly involved in the fiberglass production process. This study focusses on Risk assessment for patch cords cables production using HIRADC method. The activities of Patch Cord Cable production are divided into 6 steps are striping, curing, trimming, crimping, inspection, packing. Risk assessment in the patch cord production process activities to the packing process by conducting a HIRADC Analysis from determining hazards, potential incidents, to risk ratings. The results of this study obtained additional control for recommended to eliminate the potential for work accidents in the activity Striping, Curing Trimming, Crimping, and Inspection to increase productivity production Cable Fiber Optic (item product: Patch Cord) in PT. JK aligns with SDG 9 that industrialization development can be achieved by improving manufacturing productivity by reducing or eliminating the possibility of occupational accidents. Keywords: Optical fiber, Risk Assessment, HIRADC, SDG