Zaenal Abidin Riam
Universitas PTIQ Jakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERSPEKTIF AL-QUR’AN TERHADAP MITOS DALAM KEYAKINAN MASYARAKAT JAHILIAH: (Al-Qur’an Perspective on Myths in the Beliefs of Jahiliah Society) Baeti Rohman; Zaenal Abidin Riam
Raqib: Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Dinamika Keislaman di Era Kontemporer
Publisher : Ikatan Sarjana Al-Qur'an Indonesia (ISQI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56872/ect66h62

Abstract

Myths are an inseparable part of the life of ignorant Arab society, even though they are not accepted by common sense and cannot be proven to be true, ignorant Arabs have a high adherence to myths. Violations of myths can have a broad impact on an individual's life, he can be ostracized from society because he is considered to have great disgrace, there is an opportunity for the perpetrator to experience shame that he cannot bear. The emergence of a fanatical attitude towards myths is a consequence of the strict inheritance of myths from generation to generation, resulting in a perception that increasingly establishes fanaticism towards myths. They believe that belief in myths can prevent them from life's accidents. The truth of this assumption cannot be tested because myths basically do not contain truth. This research aims to produce a complete perspective on myths based on the perspective of the Al-Qur'an and the Islamic attitude towards myths. If a critical analysis is carried out, there are at least three factors that cause the emergence of myths in the ignorant Arab society. First, weak realistic awareness. Second, limited knowledge caused by limited sensing, both direct and indirect. Third, the limitations of human reasoning at that time. There were various mythical practices that flourished during the Arab era of ignorance, two of which were the most prominent and became a marker of the identity of the Arab community of ignorance, namely the act of burying baby girls alive after birth from their mother's womb and the practice of idolatry. The Koran as a source of Islamic teachings rejects all forms of mythical practices that are contrary to Sharia law.
Peran Pendidikan Islam dalam Mendorong Kebijakan Antikorupsi Zaenal Abidin Riam
GAPAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 1 No. 1 (2023): GAPAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37542/fvcj8v77

Abstract

Pendidikan Islam memiliki pengaruh besar dalam dinamika kebangsaan, dalam bentuk paling sederhana penekanan pendidikan Islam diterjemahkan dengan mewajibkan mata pelajaran agama Islam di jenjang sekolah, pendidikan Islam juga mendapat penekanan untuk diterapkan di lingkunag keluarga, penerapan pendidikan Islam yang cukup luas diharapkan mampu berkontribusi dalam perbaikan bangsa menuju kemajuan, termasuk didalamnya mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak pada pencegahan dan pemberantasan korupsi. Penting mentransformasikan pendidikan Islam sebagai basis untuk mendorong kebijakan antikorupsi, hal tersebut bisa dilakukan dengan melakukan kajian mendalam tentang pandangan ajaran Islam terkait korupsi, selanjutnya pandangan tersebut butuh dilakukan tafsir sosial berdasarkan konteks kekinian agar mampu dijadikan sebagai pisau analisis untuk membedah masalah terkini dalam melahirkan kebijakan antikorupsi. Hal ini membutuhkan ikhtiar yang serius untuk mewujudkannya.
Tinjauan Historis Tradisi Keilmuan Islam Bidang Al-Qur’an Zaenal Abidin Riam; Suheri
GAPAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 2 No. 1 (2024): GAPAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37542/09kypg53

Abstract

Al-Qur’an yang berada dalam pengawasan Allah Swt senantiasa terpelihara dari segala bentuk distorsi, memiliki spektrum yang unik tentang ilmu (science). Ketinggian nilai pandang AlQur’an terhadap ilmu pengetahuan banyak disinggung di dalamnya, Turunnya Al-Qur’an merupakan respon nyata terhadap dunia ilmu pengetahuan di saat itu. Lahirnya ilmu pengetahuan menempati posisi yang sangat penting dalam Islam, sejarah telah mengungkapkan ilmu hadir bersamaan dengan munculnya Islam itu sendiri. Tepatnya dalam peristiwa ketika Rasulullah saw menerima wahyu pertama, yang awal diperintahkan kepadanya adalah “membaca”. Jibril memerintahkan Muhammad: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan- mu yang menciptakan” QS. al-’Alaq (96:1). Perintah ini tidak hanya sekali diucapkan Jibril tetapi berulang sampai Nabi dapat menerima wahyu tersebut. Dari kata iqra ini kemudian lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks baik yang tertulis maupun tidak. Penelitian ini bertujuan menyajikan fakta historis tentang pencapaian keilmuan Islam di bidang Al-Qur’an dan relevansinya untuk kebangkitan dunia keilmuan Islam masa kini. Integrasi keilmuan sangat diperlukan dalam membangun dunia Islam. Untuk itu, dengan memahami konsep-konsep Islam dan tradisi keilmuan dengan baik, akan meluruskan persepsi manusia yang salah, akan meluaskan pandangan yang sempit, dan akan mengembalikan kejayaan Islam di mata dunia. Saat ini bukan masanya lagi disiplin ilmu agama (Islam) menyendiri dan steril dari kontak dan intervensi ilmu-ilmu sosial dan ilmu- ilmu kealaman dan begitu pula ilmu-ilmu sosial dan kealaman tidak boleh steril dari keilmuan Islam.