Guru dituntut menghadirkan media dan model pembelajaran kreatif guna mengasah kemampuan berpikir kritis dan numerasi pada siswa. Penelitian ini menggunakan 2 kelompok yang akan dijadikan sampel. Kelompok eksperimen untuk SDN 2 Karanggayam dan kelompok kontrol untuk SDN Penimbun. Sehingga penelitian ini memiliki 3 tujuan. Tujuan pertama adalah untuk menguji bedanya kemampuan berpikir kritis dan numerasi siswa antara SDN 2 Karanggayam, yang menggunakan model pembelajaran PBL dengan media pembelajaran jam sudut, dan SDN Penimbun. Tujuan kedua penelitian ini yaitu menganalisis peningkatan kemampuan berpikir kritis dan numerasi yang signifikan antara kelas yang mengimplementasikan model pembelajaran PBL berbantuan jam sudut dengan kelas kontrol. Tujuan ketiga yaitu menganalisis efektivitas peningkatan kemampuan berpikir kritis dan numerasi berdasar dari nilai Gain yang dinormalisasi antara SDN 2 Karanggayam dan SDN Penimbun. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh sekolah dasar di wilayah Gugus Ki Hajar Dewantara yang terdiri atas 6 sekolah dasar. Sampel penelitian yaitu SDN 2 Karanggayam dan SDN Penimbun. Perolehan hasil menggunakan uji t sampel independen pada kemampuan berpikir kritis menunjukkan hasil uji 0,003 (< 0,05), sedangkan pada kemampuan numerasi menunjukkan hasil uji 0,000 (< 0,05). Hasil ini menyatakan jika kemampuan berpikir kritis dan numerasi siswa berbeda rata-rata antara SDN 2 Karanggayam dan SDN Penimbun. Selanjutnya, uji t-test paired sampel menunjukkan skor 0,000 (<0,005), yang menunjukkan adanya beda rata-rata yang signifikan antara tes awal dan tes akhir dari kedua kelompok, baik pada kemampuan berpikir kritis maupun numerasi. Selanjutnya, pada uji Normalized Gain persen untuk kemampuan berpikir kritis SDN 2 Karanggayam sebesar 63,20% (cukup efektif), sedangkan pada SDN Penimbun sebesar 49,60% (kurang efektif). Sementara pada kemampuan numerasi, nilai N-gain persen SDN 2 Karanggayam yaitu 62,17% (cukup efektif) dan pada SDN Penimbun yaitu 50,89% (kurang efektif).