Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

RANCANGAN MAIN INSTRUMENT PANEL PESAWAT B737 CLASSIC DENGAN TEKNIK SHEET METAL DI HANGGAR 01 PPIC Athallah Azhar Reksatama; Bhima Shakti Arrafat; Fawwaz Yusa Gifari
Journal of Scientech Research and Development Vol 8 No 1 (2026): JSRD, June 2026
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56670/jsrd.v8i1.1559

Abstract

Penelitian ini bertujuan menghasilkan rancangan Main Instrument Panel (MIP) pesawat B737 Classic berbasis sheet metal menggunakan material 2024 T3 ALCLAD AMS QQ-A-250/5 dengan ketebalan 0,508 mm sebagai media pelatihan praktis bagi mahasiswa teknik penerbangan di Politeknik Penerbangan Indonesia Curug. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) untuk memastikan proses yang sistematis dan terstruktur. Data dimensi diperoleh dari Aircraft Maintenance Manual (AMM) B737 Classic guna menjamin akurasi desain dengan lebar sekitar 2,5 meter yang mencakup slot instrumen navigasi seperti airspeed indicator, altitude indicator, dan artificial horizon. Proses fabrikasi meliputi layouting, cutting menggunakan squaring shear, deburring dengan half-round bastard file, bending dengan cornice brake dengan mempertimbangkan bend allowance dan springback, drilling dengan bor elektrik, serta perakitan menggunakan blind rivet NAS1738-6 dan rangka baja hollow 2x2 cm. Validasi dilakukan melalui pengukuran menggunakan caliper digital dengan deviasi maksimum ±0,25 mm serta inspeksi visual untuk mendeteksi cacat. Hasil fabrikasi menunjukkan deviasi rata-rata 0,025 mm sehingga memenuhi toleransi industri. Rancangan MIP mendukung pembelajaran praktis melalui simulasi bongkar pasang tanpa risiko pada pesawat asli serta meningkatkan pemahaman beban struktural. Desain modular memungkinkan pengembangan lebih lanjut seperti integrasi simulasi digital. Manual fabrikasi dan keselamatan yang dihasilkan telah diuji menggunakan angket skala Likert dan dinilai jelas serta bermanfaat.
Analisis Water Ingress pada Rudder Airbus A330 dengan Regresi Linier dan Root Cause Analysis Riyaldo Zorena Sebayang; Iwan Engkus Kurniawan; Fawwaz Yusa Gifari
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9183

Abstract

Struktur honeycomb composite pada komponen rudder pesawat Airbus A330 rentan mengalami water ingress yang memicu disbonding dan delaminasi akibat siklus beku-cair pada ketinggian jelajah. Data inspeksi PT GMF AeroAsia Tbk. periode 2018–2025 menunjukkan peningkatan temuan dari 21 defect pada interval enam tahun menjadi 78 defect pada interval delapan belas tahun, namun penanganannya masih bersifat reaktif dan belum didukung pemodelan kuantitatif maupun penelusuran akar masalah yang terstruktur. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh usia operasional pesawat terhadap tingkat water ingress, mengidentifikasi akar penyebab dominan, serta merumuskan tindakan perbaikan yang optimal. Penelitian menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) terhadap data observasi 36 unit pesawat Airbus A330. Pendekatan ini dipilih karena pemodelan statistik saja tidak cukup menjelaskan penyebab operasional kegagalan, sedangkan penelusuran kualitatif tanpa dasar kuantitatif berisiko kehilangan prioritas. Analisis kuantitatif dilakukan melalui Regresi Linier Sederhana dengan usia pesawat sebagai variabel bebas serta jumlah temuan (Total Defect) dan luas kerusakan (Size Defect) sebagai dua variabel terikat, didahului uji asumsi klasik dan diikuti uji hipotesis. Analisis kualitatif dilakukan melalui Root Cause Analysis yang terdiri atas Diagram Pareto, Diagram Fishbone 4M1E, dan matriks 5W+1H. Hasil regresi menunjukkan usia pesawat berpengaruh positif dan signifikan terhadap kedua variabel terikat, dengan model Total Defect menghasilkan Y₂ = -0,184 + 0,341X (R² = 81,5%; F = 150,244) dan model Size Defect menghasilkan Y₁ = 1.509,67 + 417,37X (R² = 91,3%; F = 357,670), keduanya signifikan pada taraf 0,05. Diagram Pareto mengidentifikasi area hoist point sebagai penyumbang dominan sebesar 86,21% dari 145 defect, dan Diagram Fishbone menemukan lima akar penyebab utama pada aspek manusia, metode, material, mesin, dan lingkungan. Penelitian menyimpulkan bahwa perawatan rudder perlu bergeser dari reaktif menuju prediktif melalui penambahan task card Detailed Visual Inspection dan interval penggantian hoist point cover pada Maintenance Program, standardisasi prosedur teknisi, verifikasi part number sesuai katalog resmi, penyediaan tail dock yang memadai, serta perlindungan cuaca saat pesawat di apron. Penelitian lanjutan disarankan menambahkan variabel rute, frekuensi penerbangan, dan kondisi lingkungan operasional melalui regresi berganda.
Rancang Bangun Wheel and Tire Assembly untuk Maintenance Pesawat King Air Model 200 & 350i di Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan Nicholas Joddy Benedic; Wahyu Cakra; Fawwaz Yusa Gifari
Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer Vol. 6 No. 1 (2026): Maret : Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/teknik.v6i1.8664

Abstract

The wheel and tire assembly process on King Air 200 and 350i aircraft at the Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan (BBKFP) is still performed manually, taking an average of 18.33 minutes and involving four technicians. This condition is inefficient, causes fatigue, and increases the risk of installation errors. This study aims to design an efficient, ergonomic, and safe wheel installation tool. The design method applies the systematic VDI 2221 approach, including task clarification, concept development, and detailed design. The best concept was visualized in a three-dimensional design using CAD software and analyzed for its strength. The calculation results show a safety factor of 18.75, indicating the structure can withstand loads properly. Galvanized material was chosen for its corrosion resistance and ease of fabrication. Functional tests show the tool reduced installation time to 7.28 minutes and can be operated by a single technician. The anthropometric-based design improves comfort and maintains a neutral body posture. Final product modifications include replacing the pin lock handle with ergonomic nylon and adding more adjustment points for the wheel support bar. Overall, the tool effectively reduces working time and manpower while enhancing comfort and operational safety.
Analisis Pengaruh Flap-Peening pada Skin Pesawat terhadap Kekerasan dan Kekuatan Tarik Pesawat Airbus 330 Series Muhammad Risanul Abdillah Rusman; Wahyu Cakra Nugraha; Fawwaz Yusa Gifari
Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer Vol. 6 No. 1 (2026): Maret : Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/teknik.v6i1.8666

Abstract

Aircraft structural maintenance is a crucial aspect in ensuring operational safety and reliability. One major challenge is material degradation due to corrosion, especially on skin components made of Aluminum 2024-T3, such as those used in Airbus 330 Series aircraft. Although this material has high mechanical strength, it is highly susceptible to corrosion that can reduce its structural integrity. The blend-out or material removal process used to repair corrosion can further weaken the affected area. This study aims to quantitatively analyze the effect of flap-peening treatment as a restoration method for mechanical properties after blend-out. The research employed a quantitative experimental method with three Aluminum 2024-T3 specimen conditions: original (untreated), post-blend-out without flap-peening, and post-blend-out with flap-peening. Mechanical properties were evaluated using the Rockwell Hardness Test (HRB) according to ASTM E18-16 and tensile testing to determine Ultimate Tensile Strength (UTS) following ASTM E8/E8M-09 standards. Results showed that blend-out reduced hardness from 76.30 HRB to 69.80 HRB and UTS from 436.29 MPa to 396.37 MPa. However, after applying flap-peening, hardness increased to 74.87 HRB and UTS to 428.73 MPa. These findings demonstrate that flap-peening can restore the mechanical properties of the material close to its original condition by recovering compressive residual stress. This study provides a strong technical justification for the Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) industry to adopt flap-peening as a standard structural repair procedure to enhance aviation safety and operational efficiency.
Analisis Beban Kerja Teknisi Pesawat pada C-Check Pesawat Airbus 330 di PT XYZ dengan Metode FTE dan NASA-TLX Gala Sangga Buana Baytu Thouhid; Iwan Engkus Kurniawan; Fawwaz Yusa Gifari
Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer Vol. 6 No. 2 (2026): Juli : Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/teknik.v6i2.8671

Abstract

This study aims to analyze the workload of aircraft technicians in the C-Check activities of Airbus 330 aircraft at PT XYZ using the Full Time Equivalent (FTE) and NASA Task Load Index (NASA-TLX) methods. Measurements are carried out to optimize the use of manpower so that the distribution of workload between maintenance sections is balanced and efficient. The FTE method is used to quantitatively analyze workload based on actual working time compared to effective work time, while NASA-TLX is used to assess workload subjectively through six dimensions, namely mental demand, physical demand, temporal demand, effort, performance, and frustration. The results showed that several maintenance sections such as Engine, Landing Gear, Wing, Cargo Structure, and Avionic experienced overload with an FTE value of > 1.28 and a NASA-TLX score above 75 (high category). Meanwhile, the Cabin and Tail sections are in the category of normal workload (fit). Based on these findings, it is recommended to add one technician to the overloaded section to balance the distribution of work, increase efficiency, and reduce the risk of Cost of Poor Quality (COPQ) in the aircraft maintenance process