Maria Julieta Esperanca Naibili
Program Studi Keperawatan, Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERAN TIM GARUDA DALAM PENANGANAN COVID-19 DI KABUPATEN BELU Maria Julieta Esperanca Naibili
Jurnal Sahabat Keperawatan Vol 4 No 02 (2022): Jurnal Sahabat Keperawatan, Agustus 2022
Publisher : Program Studi Keperawatan, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/jsk.v4i02.3226

Abstract

Latar belakang Kasus COVID-19 diperkirakan akan terus meningkat dan berkelanjutan sebagai penyakit infeksi pada masa mendatang. Intervensi kesehatan masyarakat yang tepat dan sesuai dalam menangani dampak penyebaran COVID-19 melalui pendekatan holistik yang mempertimbangkan budaya, gender, agama, ekonomi dan politik untuk menangani aspek sosial penularan dan pencegahan agar efektif maka strategi pencegahan harus melibatkan kehidupan manusia sehari-hari dan diintegrasikan ke dalam hubungan sosial dan praktik. Metode Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Partisipan dalam penelitian ini adalah 6 orang tenaga kesehatan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Haliwen, Silawan, Ainiba, Haekesak, Wedomu dan Atambua Selatan. Sampel yang dipilih menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan melalui wawancara, dokumen terkait, dan observasi. Data dikumpulkan dari Mei hingga Oktober 2021 melalui wawancara semi terstruktur dengan durasi 25 menit hingga 60 menit. Hasil Data dikelola dengan perangkat lunak Nvivo 12 Plus. Analisis data penelitian kualitatif etnografi menggunakan Model Spradley ditemukan sebuah tema utama yaitu Peran Tim Garuda dalam Penanganan COVID-19 di Kabupaten Belu yang terbagi dalam domain sinergi dan gotong royong semua pihak dalam penanganan Covid-19. Kesimpulan Peran Tim Garuda dalam Penanganan Covid-19 di Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur membutuhkan sinergi dan gotong royong semua pihak dalam penanganan Covid-19 tercakup dalam komponen edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang COVID-19, kerjasama lintas sektor untuk membantu penanganan COVID-19, penerapan protokol Kesehatan, pemantauan kasus dengan testing, tracing, dan treatment serta pemasangan bendera COVID-19. Membentuk tim penanganan COVID-19 di wilayah kerja Puskesmas, Mengembangkan kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, tua-tua adat, pemuka agama dalam meredam pandemi dan infodemik tentang COVID-19.
HUBUNGAN ANTARA KESIAPAN MAHASISWA SEMESTER II PRODI KEPERAWATAN UNIVERSITAS TIMOR DENGAN TINGKAT KECEMASAN MENGHADAPI PRAKTIK KLINIK PERDANA SELAMA PANDEMI COVID-19 Sefrina Maria Seuk Asa; Maria Julieta Esperanca Naibili; Rufina Nenitryana S. Bete
Jurnal Sahabat Keperawatan Vol 4 No 02 (2022): Jurnal Sahabat Keperawatan, Agustus 2022
Publisher : Program Studi Keperawatan, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/jsk.v4i02.3227

Abstract

Latar Belakang Pandemi COVID-19 telah berdampak pada berbagai hal termasuk pendidikan keperawatan baik di negara berkembang maupun negara maju. COVID-19 telah mendorong perubahan mendadak dalam pendidikan keperawatan bahkan memengaruhi persyaratan program pendidikan keperawatan secara keseluruhan termasuk penyampaian jam teori di kelas, serta peluang pembelajaran klinik dan laboratorium bagi mahasiswa. Tujuan untuk Mengetahui Hubungan antara Kesiapan Mahasiswa Semester II Program Studi Keperawatan Universitas Timor dengan Tingkat Kecemasan Menghadapi Praktik Klinik Perdana Selama Pandemi COVID-19. Metode Jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa keperawatan semester II (dua) sebanyak 12 orang. Teknik pengambilan sampel secara total sampling dengan sampel berjumlah 12 orang. Pengumpulan data dengan kuesioner online menggunakan google form. Analisis data menggunakan uji korelasi chi square. Hasil Uji statistik univariat menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami kecemasan ringan (75%) dan siap menjalani praktik klinik (83,3%). Hasil Chi Square menunjukan adanya hubungan antara kesiapan dengan kecemasan menghadapi praktik klinik perdana (p value 0.015 < 0,05). Kesimpulan Membangun dan meningkatkan kompetensi klinik dan kepercayaan diri mahasiswa untuk bekerja di bidang penyakit menular seperti virus corona sangat diperlukan persiapan diri yang matang baik Kesiapan Fisik, Kesiapan Emosional, Kesiapan Pengalaman maupun Kesiapan Pengetahuan
GAMBARAN DETEKSI DINI STATUS KESEHATAN JIWA MASYARAKAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ATAMBUA SELATAN TAHUN 2022 Regina Tavares; Djulianus Tes Mau; Maria Julieta Esperanca Naibili
Jurnal Sahabat Keperawatan Vol 4 No 02 (2022): Jurnal Sahabat Keperawatan, Agustus 2022
Publisher : Program Studi Keperawatan, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/jsk.v4i02.3235

Abstract

Kesehatan Jiwa adalah keadaan atau kondisi sehat badan jasmani,rohani,spiritual dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacatdankelemahan, melainkanberkepribadian yang mandiridanberproduktif. Deteksi gejala dini dalam gangguan jiwa perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas agar tidak terjadi keterlambatan penanganan pada fase awal penempisan atau deteksi kesehatan jiwa. Upaya kesehatan jiwa menjadi upaya kesehatan pokok keenam di Puskesmas. Namun tidak semua Puskesmas memiliki program layanan kesehatan jiwa. Tujuan : Mengetahuigambarandeteksidini statuskesehatan jiwa masyarakat di PuskesmasAtambua Selatan. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah non-eksperimen dengan metode kuantitatif menggunakan desain survey deskriptif. Instrument yang digunakan untuk deteksi dini kesehatan jiwa adalah SRQ 20-item. Penelitian ini mendeskripsikan tentang Kesehatan Jiwa Masyarakat di Puskesmas Atambua Selatan. Hasil : Deteksi dini kesehatan jiwa berjumlah 169 responden yang terindikasi masalah kesehatan jiwa/GME sebesar 29,6%; Normal/Tidak terindikasi masalah kesehatan jiwa sebesar 70,4%; gejala somatik sebesar 60,4%; gejala penurunan energi sebesar 60,4%; gejala cemas sebesar 52,7%; gejala depresi sebesar 36,1% dan gejala kognitif sebesar 37,3%. Kesimpulan: Deteksi dini kesehatan jiwa sangat penting dan perlu disosialisasikan kepada masyarakat untuk mencegah keterlambatan penanganan pada fase awal. Puskesmas harus melakukan follow up untuk meningkatkan kesehatan jiwa masyarakat melalui promosi kesehatan.