Gangguan mental emosional (GME) merupakan masalah kesehatan mental yang dapat memengaruhi fungsi psikososial individu, mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan produktivitas, serta berdampak pada kualitas hidup. Remaja merupakan kelompok usia yang rentan mengalami GME akibat perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang terjadi selama masa perkembangan. Tingginya kerentanan tersebut menjadikan deteksi dini dan edukasi kesehatan jiwa sebagai strategi penting dalam upaya promotif dan preventif kesehatan mental remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi kesehatan jiwa terhadap kesehatan mental emosional dan tingkat pengetahuan remaja mengenai kesehatan jiwa. Penelitian menggunakan desain kuantitatif pre-eksperimental dengan pendekatan one-group pretest–posttest. Deteksi dini GME dilakukan menggunakan kuesioner Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) untuk mengidentifikasi kondisi mental emosional remaja, sedangkan intervensi dilakukan melalui penyuluhan kesehatan jiwa. Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 3 Ambon dengan melibatkan 50 remaja sebagai responden penelitian. Penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan skrining SDQ, sebanyak 50% responden berada pada kategori normal, 24% kategori borderline, dan 26% kategori abnormal. Selain itu, terjadi peningkatan tingkat pengetahuan remaja mengenai kesehatan jiwa setelah intervensi edukasi, ditunjukkan oleh peningkatan proporsi responden dengan kategori pengetahuan baik dari 20% pada pretest menjadi 68% pada posttest. Temuan ini mengindikasikan bahwa edukasi kesehatan jiwa efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan mental remaja dan mendukung upaya deteksi dini gangguan mental emosional. Oleh karena itu, integrasi program skrining kesehatan mental dan edukasi kesehatan jiwa di lingkungan sekolah perlu dikembangkan sebagai strategi preventif untuk meningkatkan kesehatan mental remaja secara berkelanjutan