Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pendidikan Damai sebagai Pendidikan Resolusi Konflik dan Misi Pendidikan Kewarganegaraan untuk Penguatan Toleransi dan Membangun Budaya Damai Rianda Usmi
Journal on Education Vol 6 No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 Tahun 2024
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v6i3.5492

Abstract

This research aims to describe (1) the conceptualization of peace education as conflict resolution education and the mission of citizenship education and (2) the realization of peace education to strengthen tolerance and build a culture of peace. This research uses a qualitative descriptive approach with a literature study method. The research results show that (1) the conceptualization of peace education as resolution education and the mission of citizenship education is an educational process based on a philosophy that teaches non-violence, love, compassion, trust, justice, and cooperation of all mankind. Peace education is education with several values, beliefs, traditions, behaviors, and lifestyles based on the principles of non-violence, tolerance, solidarity, respect for human rights and freedom; (2) the realization of peace education to strengthen tolerance and build a culture of peace can be realized in three domains, namely; first, macro (government policy); second, meso (school institutions, family/community); third, micro (curriculum). Peace education can be internalized and taught to society through these three domains.
Pelatihan Optimasi Konten Digital Berbasis Living Values Education untuk Mewujudkan Sekolah Sehat dan Berkarakter di Lab School UNESA Rianda Usmi; Puspita Sari Sukardani; Oni Dwi Arianto; Fahmi Fahrudin Fadirubun; Febriandita Tedjomurti; Ulul Albab Annury; Anissa Dwi Khasanah
Jurnal Medika: Medika Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/9ws2mg64

Abstract

Tujuan dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan adalah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengoptimasi konten digital berbasis living values education. Sebanyak 45 peserta yang terdiri 25 guru dan 20 siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Lab School UNESA, berpartisipasi dalam pelatihan yang diadakan pada 30 Juli 2025. Pelatihan optimasi konten digital berbasis living values education dipilih dengan harapan agar guru-guru dapat mengimplementasikan pembelajaran yang inovatif didukung oleh konten digital sesuai tuntutan pembelajaran abad 21 yang saat ini dihadapkan dengan segudang tantangan pendidikan bagi peserta didik seperti kekerasan, perilaku bullying, kesehatan fisik dan psikis, adiksi gawai, pornografi, judi daring, dan narkoba pada peserta didik. Untuk menghadapi tantangan-tantangan kekinian tersebut, perlu dilakukan inovasi dan disiapkan dengan konsisten program-program penguatan karakter bagi peserta didik di sekolah. Metode kegiatan berupa lokakarya interaktif serta praktik pengoptimalan platform digital untuk membuat konten edukasi. Pelatihan berlangsung selama satu hari penuh, mencakup sesi pemaparan materi, simulasi pembelajaran, serta refleksi kelompok. Evaluasi pasca-pelatihan dilakukan melalui kuesioner dan observasi lapangan, menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman konseptual serta keterampilan praktis guru dalam mengoptimasi konten digital dari berbagai platform. Pelatihan sistematis memberikan dampak signifikan pada peningkatan keterampilan guru. Sebelum pelatihan, 72% guru mengungkapkan masih jarang menggunakan konten digital edukatif dalam proses pembelajaran. 92% guru mengalami kesulitan teknis saat membuat konten digital secara mandiri dalam menghubungkan materi pembelajaran dengan nilai-nilai karakter. Setelah pelatihan, 98% peserta mengungpkan rasa percaya diri membuat konten digital secara mandiri untuk kebutuhan pembelajaran berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada peserta. Kesimpulannya, kegiatan pengabdian ini berhasil memperkuat rasa percaya diri guru untuk membuat dan menggunakan konten digital edukatif dalam proses pembelajaran sesuai dengan konteks pendidikan abad 21 yang mendukung penguatan karakter dalam diri peserta didik di tengah tantangan era digital yang terus dinamis.
Edukasi dan Perancangan Roadmap Kelurahan Inklusif Untuk Menyokong UNESA Sebagai Kampus Ramah Disabilitas Rianda Usmi; Budi Santosa; Firre An Suprapto; Muhammad Ridho Prihatin; Vito Dafanda Febriansah; Achmad Faried Irfany
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Januari 2026 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v6i1.1063

Abstract

Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan atau berfokus pada edukasi dan perancangan roadmap kebijakan kelurahan inklusif guna menyokong Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sebagai kampus ramah disabilitas. Kampus 1 UNESA yang berlokasi di Kelurahan Ketintang Surabaya telah mendapatkan pengakuan sebagai kampus ramah disabilitas, akan tetapi belum disokong oleh masyarakat dan pemerintah kelurahan setempat. Banyak sarana prasarana umum di masyarakat Ketintang belum memiliki aksesibilitas yang ramah disabilitas. Metode PKM meliputi tiga tahapan yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan difokuskan pada analisis kebutuhan, perancangan materi dan kegiatan. Tahap pelaksanaan berupa paparan materi dan perancangan roadmap. Tahap evaluasi berupa refleksi dan umpan balik. Indikator keberhasilan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini yakni minimum 75% peserta hadir dan mengikuti kegiatan sampai selesai, minimum 75% peserta menyatakan komitmen untuk menciptakan lingkungan yang inklusif-ramah disabilitas; dan tersusunnya 1 roadmap kebijakan penyelenggaran kelurahan inklusif. Kegiatan PKM ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya lingkungan inklusif, serta berhasil menyusun roadmap kebijakan kelurahan inklusif. Penyusunan roadmap melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, pemerintah, dan komunitas penyandang disabilitas. Roadmap yang dihasilkan sangat penting sebagai pedoman dalam menciptakan lingkungan sosial yang inklusif, baik dari aspek infrastruktur, layanan publik, maupun akomodasi untuk kelompok disabilitas.
Memotret Eksklusi Sosial dan Ketidakadilan Gender di Kampung Janda Sidorejo Kabupaten Bojonegoro Vaqis Izzatul Abida; Melodi Adinda Mustika Damai; Anissa Dwi Khasanah; Rianda Usmi
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Maret 2026 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v6i2.1097

Abstract

Bojonegoro merupakan salah satu kota dengan tingkat perceraian tertinggi di Provinsi Jawa Timur, yang mana tingkat perceraian sepanjang tahun 2021 mencapai 2.549 kasus, pada tahun 2022 sebanyak 2.267 kasus, dan pada tahun 2023 mencapai 2.691 kasus. Dari banyaknya kasus perceraian ini muncul fenomena stigmatisasi terhadap Bojonegoro sebagai “Kota Seribu Janda.” Dalam konteks inilah, Desa Sidorejo menjadi salah satu wilayah yang terkena dampak stigmatisasi tersebut dan secara spesifik dilabeli sebagai “Kampung Janda.” Penelitian ini penting untuk dilakukan karena label “Kampung Janda” telah menunjukkan adanya interseksionalitas antara gender dan status sosial. Di samping itu fenomena banyaknya perempuan dengan status janda memunculkan berbagai ketidakadilan gender. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk eksklusi sosial masyarakat terhadap keberadaan perempuan dengan status janda di Desa Sidorejo Kabupaten Bojonegoro, serta menganalisis bentuk-bentuk ketidakadilan gender di Desa Sidorejo yang dilabeli “Kampung Janda.” Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa adanya bentuk-eksklusi sosial yakni diskriminasi struktural dalam akses bantuan sosial, marjinalisasi dan self-exclusion akibat stigma sosial, kemerosotan kepercayaan sosial dan hambatan ekonomi, dan marginalisasi tempat kerja. Terdapat bentuk-bentuk ketidakadilan gender yakni terdapat pelecehan verbal berupa Catcalling.