Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pelatihan Optimasi Konten Digital Berbasis Living Values Education untuk Mewujudkan Sekolah Sehat dan Berkarakter di Lab School UNESA Rianda Usmi; Puspita Sari Sukardani; Oni Dwi Arianto; Fahmi Fahrudin Fadirubun; Febriandita Tedjomurti; Ulul Albab Annury; Anissa Dwi Khasanah
Jurnal Medika: Medika Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/9ws2mg64

Abstract

Tujuan dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan adalah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengoptimasi konten digital berbasis living values education. Sebanyak 45 peserta yang terdiri 25 guru dan 20 siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Lab School UNESA, berpartisipasi dalam pelatihan yang diadakan pada 30 Juli 2025. Pelatihan optimasi konten digital berbasis living values education dipilih dengan harapan agar guru-guru dapat mengimplementasikan pembelajaran yang inovatif didukung oleh konten digital sesuai tuntutan pembelajaran abad 21 yang saat ini dihadapkan dengan segudang tantangan pendidikan bagi peserta didik seperti kekerasan, perilaku bullying, kesehatan fisik dan psikis, adiksi gawai, pornografi, judi daring, dan narkoba pada peserta didik. Untuk menghadapi tantangan-tantangan kekinian tersebut, perlu dilakukan inovasi dan disiapkan dengan konsisten program-program penguatan karakter bagi peserta didik di sekolah. Metode kegiatan berupa lokakarya interaktif serta praktik pengoptimalan platform digital untuk membuat konten edukasi. Pelatihan berlangsung selama satu hari penuh, mencakup sesi pemaparan materi, simulasi pembelajaran, serta refleksi kelompok. Evaluasi pasca-pelatihan dilakukan melalui kuesioner dan observasi lapangan, menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman konseptual serta keterampilan praktis guru dalam mengoptimasi konten digital dari berbagai platform. Pelatihan sistematis memberikan dampak signifikan pada peningkatan keterampilan guru. Sebelum pelatihan, 72% guru mengungkapkan masih jarang menggunakan konten digital edukatif dalam proses pembelajaran. 92% guru mengalami kesulitan teknis saat membuat konten digital secara mandiri dalam menghubungkan materi pembelajaran dengan nilai-nilai karakter. Setelah pelatihan, 98% peserta mengungpkan rasa percaya diri membuat konten digital secara mandiri untuk kebutuhan pembelajaran berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada peserta. Kesimpulannya, kegiatan pengabdian ini berhasil memperkuat rasa percaya diri guru untuk membuat dan menggunakan konten digital edukatif dalam proses pembelajaran sesuai dengan konteks pendidikan abad 21 yang mendukung penguatan karakter dalam diri peserta didik di tengah tantangan era digital yang terus dinamis.
Koordinasi SPPG Sekolah dalam Program Makan Siang Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia: Studi Kasus di Bojonegoro, Jawa Timur Dwi Prasetyo; Oni Dwi Arianto; Ade Firmannandya; Teguh Dwi Putranto
Jurnal Bina Praja Vol 18 No 1 (2026): [Sedang Berjalan]
Publisher : Research and Development Agency Ministry of Home Affairs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21787/jbp.18.2026.2955

Abstract

This study examines coordination between schools and the Nutrition Food Production Center (SPPG) in implementing Indonesia’s Free Nutritious Meal Program (MBG) in Bojonegoro Regency, East Java, across schools with diverse operational capacities. This study uses integrated qualitative methods by highlighting governance processes—role allocation, communication flows, decision-making, and reporting—rather than impact indicators. Data were generated through purposive focus group discussions with school principals, teacher MBG coordinators, SPPG managers and operational staff, and school committee representatives or parents, and triangulated with relevant program documents. Transcripts were analyzed thematically using iterative coding. Findings show coordination is mainly operational and weakly institutionalized: schools act as passive recipients, while SPPG controls menu selection, production, and logistics, yielding asymmetric, largely one way information exchange. Communication and problem reporting rely on informal messaging and brief delivery-time interactions, with limited documentation, unclear pathways, and inconsistent feedback. These governance gaps contribute to recurring delivery delays, unannounced menu changes, inadequate accommodation for dietary restrictions, and increased administrative workload for schools. They also intensify parental concerns regarding food quality and safety and influence student acceptance, thereby undermining program legitimacy. The study concludes that implementation quality depends on strengthening local coordination capacity through regular coordination forums, standardized reporting and feedback protocols, clearer role and accountability structures, and ongoing technical support aligning centralized standards with context-sensitive adaptation. Institutionalizing coordination would enable the school SPPG network to transition from reactive delivery to continuous improvement, supporting transparent learning, effective risk management, and sustained community buy-in over time.